Adat Istiadat dipengaruhi oleh Komplikasi Ideologi antar Bangsa Barat dan Timur Masa Kolonial, Dalam Novel Salah Asuhan Karya Abdul Moeis

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan adat-istiadat Minangkabau  yang diterapkan dalam buku Salah Asuhan mengenai hal perkawinan dengan diperlihatkannya melalui sistem kekerabatan masyarakat Minangkabau menganut sistem matrilineal yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yan terikat pada jalinan kekerabatan dalam garis keturunan ibu. Sistem matrilineal dalam masyarakat Minangkabau membuat mamak yang dimana sebagai Ibu Hanafi memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang besar terhadap kemenakannya. Sehingga tak lain dari adat itu mewajibkannya Hanafi untuk menikah dengan Rapiah yang dimana Rapiah merupakah kemenakan dari Ibu Hanafi dari Sutan Batuah.  Berbeda dengan adat perkawinan dalam budaya barat zaman Kolonial. Dalam adat kawin campuran antara penduduk Bumiputra dengan bangsa Belanda.  Dapat menimbulkan kontradiktif dengan hukum dan peraturan oleh pemerintah Belanda yang bersifat terbuka, bebas, seakan-akan tidak diskriminatif, dan modern. Walaupun wanita dari bangsa Belanda menikah dengan lelaki pribumi, maka wanita tersebut dianggap menghinakan diri sendiri, dan orang Barat. Bahkan diaggap sudah keluar dari golongan entitas, hak, keistimewaan sebagai orang Barat. Agak berbeda sedikit dengan orang Belanda yang laki-laki yang menikah dengan perempuan pribumi, tidak dipandang terlalu hina. Bahkan kalau perempuan pribumi itu beranak dianggap berjasa bagi bangsa pribumi. Sebagaimana dalam tokoh Hanafi dengan Corrie yang bertolak belakang dalam hal kebudayaan dan status sosialnya. Sehingga tersirat aturan bahwa bangsa pribumi, tidak pantas, tidak layak dan tidak sebanding untuk menikah dengan bangsa Barat, karena konstruksi yang dibangun oleh bangsa Barat adalah penguasa atau superior. Dengan hal demikian memunculkan sebuah ideologi yang berbeda pula antara keduanya dengan lahirlah Salah Asuhan  yang tampil di tengah-tengah zamannya, zaman yang melukiskan bentrokan antara kaum muda (pembaharu) yang berpendidikan dan berpadangan luas dengan kaum tua (tradisional) yang masih terpaku dengan adat-istiadatnya.

Maka dalam penelitian ini, kami menggunakan jenis penelitian perpustakaan (library research) dengan menggunakan metode penelitian deskriptif dengan keseluruhan data yang terkumpul yang kemudian dianalisis yang bersifat kualitatif dengan menggunakan metode Content Analysis Metode Content Analysis yang akan mengungkapkan isi pemikiran Abdoel Moeis melalui pendekatan kausalitas yang akan menjelaskan gejala umum hubungan karya sastra dan masyarakatnya yang tertuang dalam novel Salah Asuhan.

Kata Kunci : Salah asuhan, Ideologi, Adat-istiadat, Status sosial. Perkawinan.

Latar Belakang:

Salah Asuhan merupakan novel hasil karya Abdoel Moeis yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1928 dan termasuk ke dalam novel angkatan Balai Pustaka atau novel angkatan 20-30-an.

Pada umumnya novel 1920-an adalah novel yang menggugat kebiasaan poligami, keudukan wanita yang dikuasai orang tua, perkawinan antar suku dan antar ras, yang semua itu merupakan halangan bagi percintaan merdeka dan suka rela, suka sama suka dalam pandangan baru. Maka di tengah-tengah karya para sastrawan angkatan Balai Pustaka berusaha mendobrak kungkungan adat itu, lahirlah Salah Asuhan tampil di tengah-tengah zamannya, zaman yang melukiskan bentrokan antara kaum muda (pembaharu) yang berpendidikan dan berpadangan luas dengan kaum tua (tradisional) yang masih terpaku dengan adat-istiadatnya.

Di dalam novel Salah Asuhan diceritakan tentang kisah percintaan antara Hanafi dan Corrie. Kisah percintaan mereka tidak berjalan dengan mulus karena Corrie menolak cinta Hanafi, mereka di tentang oleh ayah Corrie, dan Hanafipun dijodohkan dengan Rapiah, anak dari mamak Hanafi. Setelah Hanafi menikah dengan Rapiah, Hanafi bertemu lagi dengan Corrie, dan akhirnya Hanafi menjadikan Corrie sebagai istri kedua, tapi sayangnya pernikahan mereka tidak harmonis. Hanafi bunuh diri setelah Corrie meninggal dunia terlebih dahulu

Konsep itulah yang oleh pengarang ingin sampaikan kepada pembaca mengenai celah adat barat dan timur yang bercampur di kota Solok. Lalu perihal konflik yang menunjukkan kelas sosial yang berbeda-beda dan menyatakan bahwa manusia itu sama. Karena dalam novel ini terlihat dari tokoh hanafi bahwa betapa angkuhnya manusia, dimana manusia bisa lupa diri karena cinta. Selain itu, pengarang menulis novel dengan baik, sehingga pembaca dapat larut dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh di dalam novel tersebut. Meskipun bahasa yang digunakan adalah melayu dan banyak pepatah yang diungkapkan pengarang sesuai dengan budaya Minangkabau yang menjadikan novel ini sangat unik dan khas pada zamannya.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana hubungan antara riwayat latar pengarang dengan adat istiadat masyarakatnya yang digambarkan pada novel Salah Asuhan karya Abdul Moeis?
  2. Bagaimana analisa Adat Istiadat dipengaruhi oleh Komplikasi Ideologi antar Bangsa Barat dan Timur Masa Kolonial menurut pandangan Abdul Moeis?

Acuan Teori

            Literature is an expression of society, sebuah ungkapan terkenal dari De Bonald yang berarti sastra adaah ungkapan perasaan masyarakat. Sebuah frasa yang menggambarkan betapa erat dan mustahil untuk dipisahkan antara sastra sebagai produk kebudayaan masyarakat dengan masyarakat itu sendiri. Sastra dapat dikatakan sebagai institusi sosial yang memakai medium bahasa.[1]

            Menurut Endraswara (2011:192), dalam realitasnya, batas antara sastra, budaya, dan seni hampir sulit dipisahkan. Ketiganya memuat segala angan-angan, sikap hidup, dan perilaku manusia. Karya sastra juga dikenal sebagai dokumentasi budaya karena lahir dari budaya tertentu. Dapat dikatakan juga bahwa karya sastra lahir atas dorongan dari kebudayaan yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Budaya tersebut hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, lalu diolah melalui fakta imajinatif sang pengarang atau sastrawan. Budaya menyangkut perilaku manusia, sikap, dan gagasan. Semua bentuk karya manusia dapat dimasukkan sebagai kebudayaan. Boleh dikatakan semua ilmu pengetahuan membicarakan masalah kebudayaan sehingga segala sesuatu dapat dijelaskan melalui kebudayaan (Ratna, 2012:393). Hal serupa juga dikemukakan oleh Koentjaraningrat (2004:72—73) bahwa kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan, rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar. Dengan demikian, pada hakikatnya semua tindakan manusia adalah cerminan produk kebudayaan. Dalam kaitan itu, menganalisis suatu karya sastra dengan sendirinya juga menganalis masalah kebudayaan yang ada di dalamnya.[2]

            Permasalahan diskriminasi yang dilakukan oleh bangsa penjajah terhadap Indonesia, baik diskriminasi secara langsung (fisik), maupun secara tidak langsung (nonfisik). Novel ini dapat dikatakan sebagai representasi masyarakat Indonesia pada masa penjajahan, khususnya penjajahan Belanda. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurgiyantoro 2010:89) karya sastra merupakan hasil pemikiran dan cerminan dari sebuah budaya kelompok masyarakat yang memiliki kebudayaan. Kemudian dapat juga dikatakan sebagai bentuk perlawanan terhadap bangsa penjajah. Perlawanan yang dilakukan melalui karya sastra (novel), merupakan perlawanan yang berbentuk simbolik. Hal ini karena perlawanan tersebut dilakukan melalui kata-kata dan gagasan yang diungkapkan dalam sebuah novel (Wiyatmi, 2010:139).[3]

            Teori Richard Wollheim menjelaskan tentang pendekatan ekspresi. Karya seni yang merefleksikan kondisi masyarakat darimana seniman itu berasal. Sebagaimana pendekatan kausalitas yang menjelaskan gejala umum hubungan karya sastra dan masyarakatnya.[4]

Dalam penjelasan sosial mengkaji novel dengan masyarakatnya tidak mungkin dilakukan hanya dengan teks sastra. Kondisi teks harus dilengkapi dengan pengetahuan historis dan sosiologis, bahkan mungkin antropologi. Dengan demikian dapat diketahui sikap mental pengarang dalam menghadapi permasalahan zamannya dan peran yang dilakukan pengarang dalam masyarakatnya.[5]

Penelelitian Relevan

            Penelitian relevan yang digunakan untuk menunjang referensi dalam penelitian ini. Pertama jurnal karya Ninawati Syahrul dengan judul Peran Dan Tanggung Jawab Mamak Dalam Keluarga: Tinjauan Terhadap Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta TimurRawamangun, Jakarta TimurRawamangun, Jakarta Timur

Rawamangun, Jakarta Timur.

Kedua jurnal karya Abdul Hafid dengan judul Diskriminasi Bangsa Belanda Dalam Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis (Kajian Postkolonial) dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Muhammadiyah Sorong Malawele, Aimas, Sorong, Indonesia.

Ketiga ebook karya Jamil Bakar,  M. Atar Semi, Maryusman Maksan, Yuslina Kasun dan Yusran Khatib yang berjudul Pemahaman Salah Asuhan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1985.

Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan diatas, maka penelitian ini akan mengambil atau menguikuti beberapa hal yang dilakukan. Penelitian ini fokus kepada adat istiadat adat istiadat dipengaruhi oleh komplikasi ideologi antar bangsa barat dan timur masa kolonial yang terdapat pada novel Salah Asuhan. Penelitian menggunakan teori yang sedikit berbeda dan menambah kajian untuk mengetahui sejauh mana karya sastra mampu menghidupkan kembali suatu budaya.

Biografi Abdoel Moeis

Abdoel Moeis (lahir di Sungai Puar, Bukittinggi,Sumatera Barat, 3 Juli 1883 – wafat di Bandung, Jawa Barat,17 Juni 1959 pada umur 75 tahun) adalah seorang sastrawan dan wartawan Indonesia. Pendidikan terakhirnya adalah diStovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas KedokteranUniversitas Indonesia), Jakarta akan tetapi tidak tamat. Ia juga pernah menjadi anggota Volksraad yang didirikan pada tahun 1916 oleh pemerintah penjajahan Belanda. Ia dimakamkan di TMP Cikutra – Bandung dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI, Soekarno, pada30 Agustus 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959).

Dia pernah bekerja sebagai klerk di Departemen Buderwijs en Eredienst dan menjadi wartawan di Bandung pada surat kabar Belanda, Preanger Bode, harian Kaum Muda dan majalah Neraca pimpinan Haji Agus Salim. Selain itu ia juga pernah aktif dalam SyarikatIslam dan pernah menjadi anggota Dewan Rakyat yang pertama (1920-1923). Setelah kemerdekaan, ia turut membantu mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan.

Beberapa perjuangan yang telah ia lakukan diantaranya; mengecam tulisan orang-orang Belanda yang sangat menghina bangsa Indonesia melalui tulisannya di harian berbahasa Belanda, De ExpressPada tahun 1913, menentang rencana pemerintah Belanda dalam mengadakan perayaan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis melalui Komite Bumiputera bersama dengan Ki Hadjar DewantaraPada tahun 1922, memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta sehingga ia diasingkan ke Garut, Jawa Barat. Dan yang terakhir mempengaruhi tokoh-tokoh Belanda dalam pendirian Technische Hooge School – InstituteTeknologi Bandung (ITB).

Karya sastra yang dihasilkan diantaranya yaitu; Salah Asuhan (novel, 1928, difilmkan Asrul Sani, 1972)Pertemuan Jodoh (novel, 1933)Surapati (novel, 1950)Robert Anak Surapati(novel, 1953)

            Terjemahannya yaitu; Don Kisot (karya Cerpantes, 1923)Tom Sawyer Anak Amerika (karya Mark Twain, 1928)Sebatang Kara (karya Hector Melot, 1932)Tanah Airku (karya C. Swaan Koopman, 1950.

Analisis Struktur

Tema

Menurut Stanton dan Kenny dalam Nurgiyantoro, tema (theme) adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita.[6] Pendapat lain yang dikemukakan oleh Hartoko dan Rahmanto dalam Nurgiyantoro mengatakan bahwa tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan. Jadi, tema adalah gagasan (makna) dasar umum yang menopang sebuah karya sastra sebagai struktur semantis dan bersifat abstrak yang secara berulang-ulang dimunculkan lewat motif-motif dan biasanya dilakukan secara implisit.[7]

Dalam Novel Salah Asuhan dalam karya Abdoel Moeis tema minor yang terkandung adalah sentimen negatif pada ideology antar bangsa barat dan timur, gambaran kehidupan dalam kekerabatan pada adat istiadat Minangkabau, serta perkawinan campuran;. Kumpulan tema-tema minor tersebut terangkum dalam kerangka cerita yang membawakan gagasan utama atau yang dikenal tema mayor, yakni diskriminasi sosial dan budaya  yang merupakan bagian pada konflik masyarakat.

Plot

Stanson dalan Nurgiyantoro mengemukakan bahwa plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.[8] Secara teoritis alur dapat diurutkan atau dikembangkan ke dalam tahap-tahap tertentu secara kronologis. Plot dapat dikatakan progresif atau kronologis apabila terdapat peristiwa-pristiwa yang diikuti oleh bagian pertama, tengah dan akhir. Tahap awal biasanya menyangkut dengan penyituasian, pengenalan dan pemunculan konflik, tahap tengah menceritakan konflik yang meningkat atau klimaks, dan tahap akhir adalah tahap penyelesain. Jika dituliskan dalam bentuk skema, secara garis besar plot progresif tersebut akan berwujud sebagai berikut:

        A                   B                     C                       D                                   E

            Simbol A melambangkan tahap awal cerita. B-C-D melambangkan pristiwa-peristiwa berikutnya, tahap tengah, yang merupakan inti cerita, dan E merupakan tahap penyelesaian cerita.[9]

            Dalam novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis konsepsi alur yang dibangun tidak jauh berbeda dengan konsep-konsep alur cerita pada umunya. Meski bentuk novel ini merupakan novel berbingkai, artinya menceritakan sebuah cerita yang diceritakan tokoh, alur yang dibangun pengarang adalah suatu hal yang normal, yakni dengan konsep berurutan A – B – C- D- E.

            Secara kualitatif alur Salah Asuhan dapat kita masukkan ke dalam alur erat karena dalam cerita ini boleh dikatakan tidak ada digresi. Hubungan antara peristiwa yang satu dan yang lain organik erat sekaJi, tidak ada satu peristiwa yang dapat dicopot, tanpa merusak keseluruhan cerita.[10]

  1. Tahap Penyituasian

Bermula dari lapangan tenis, pengarang memperkenalkan dua orang sahabat yang sudah bergaul sejak kecil. (hlm. 2-3)

  • Tahap Pemunculan Konflik

kekecewaan Hanafi terhadap Corrie karena Hanafi merasa Corrie telah menghina orang Melayu lewat suratnya. (hlm.54-55) dan (hlm.57).\

  • Tahap Peningkatan Konflik

Hanafi menerima permintaan ibunya untuk mengawini Rapiah. (hlm.69).

Pertengkaran Hanafi dengan Rapiah setelah berumah tangga. (hlm.83)

  • Tahap Klimaks

Hanafi bertemu kembali dengan Corrie (hm. 98), menceraikan istrinya Rapiah.  (hlm. 127-129).dan (hlm.131-132). lalu kawin lagi dengan Corrie (hlm. 150)

kecemburuan yang berlebih-Iebihan yang terdapat pada diri Hanafi sehingga tanpa usut periksa dia sudah menuduh istrinya berbuat serong dengan laki-Iaki lain yang berakhir dengan perceraian kedua suami istri itu. (hlm.168-171).

perselisihan paham yang hebat antara Corrie dan Hanafi lalu corrie meninggalkan Hanafi dan meminta bercerai dengan Hanafi. Tanpa sepengetahuan Hanafi, Corrie meninggalkan rumah. (hlm.186).

  • Tahap Penyelesaian

kedua istri Hanafi meninggalkan Hanafi. Corrie meninggal dunia karena penyakit kolera, sedangkan Rapiah kembali kepada orang tuanya di Bonjol. Hanafi merasa sangat berdosa kepada kedua istrinya, yang akhirnya ia putus asa dan mengakhiri hidupnya dengan meminum sublimat.

Tokoh dan Penokohan

Keberadaan tokoh dan penokohan dalam sebuah karya fiksi tidak dapat terbantahkan perannya. Sebagai unsur terpenting, tokoh dan penokohan membawa orientasi bagaimana cerita tersebut terarah, seperti apa cerita tersebut seharusnya dibangun, serta bagaimana peran tokoh dan penokohannya memberikan warna dalam jalannya cerita secara luas. Istilah tokoh dan penokohan sebagai unsur intrinsik sebuah karya fiksi mengandung perbedaan. Istilah tokoh menunjuk pada orangnya atau pelaku cerita, watak atau perwatakan menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh, sedangkan penokohan adalah menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak tertentu dalam sebuah cerita.[11] Atau seperti yang dikatakan Jones, penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.[12]

            Klasifikasi tokoh yang akan menjadi pembahasan dalam penelitian ini merujuk pada referensi yang digunakan, klasifikasi tokoh meliputi, yakni berdasarkan peran dan pentingnya; tokoh utama dan tokoh tambahan, berdasarkan peran dalam pengembangan plot; tokoh protagonis dan tokoh antagonis, dan berdasarkan perwatakan yang dibawa; tokoh sederhana dan tokoh bulat. Serta dalam penokohan, analisa yang digunakan menggunakan klasifikasi fisiologis (fisik tokoh), sosiologis (peran tokoh dalam kehidupan, dapat berupa profesi), dan psikologis (watak tokoh). Pada pembahasan ini, penulis hanya mengambil beberapa tokoh seperti yang dianggap relevan terhadap topik yang diteliti. 

  1. Hanafi

Dari aspek fisiologisnya, rupa molek Hanafi tercermin pula dari pikiran Corrie, ketika ia membayangkan Hanafi. Hanafi seorang pemuda Minangkabau dan beragama Islam.

kutipan tersebut menjelaskan hanafi bersifat pemarah. Terlihat pada saat Corrie bercanda, Hanafi malah menganggapi serius gurauan Corrie.  Sifat pemarah ini bisa dijadikan watak dasar dari Hanafi.  (hlm. 3)

Dari aspek sosiologisnya, Hanafi adalah pemuda yang berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan yang baik. (hlm. 23).

Hanafi merupakan orang Bumiputra, namun ia malu menjadi orang bumiputra dan benci pada bangsanya sendiri, ini dinyatakan oleh Corrie du Busse. (hlm. 33). Dan Sifat Hanafi yang benci dengan bangsa Indonesia dijelaskan juga oleh tokoh Piet. Ini dikatakan ketika Piet menasihati Hanafi. (hlm. 207 dan 210)

Dari aspek psikologisnya, Hanafi disebutkan sebagai orang yang berperilaku kasar. (hlm. 80).Hanafi juga berperilaku kejam dan bengis. Hanafi dikatakan sebagai suami yang tidak baik, (hlm.73 dan 77). Hanafi juga digambarkan sebagai tokoh yang keras kepala dan cepat tersinggung, kutipan berikut kiranya dapat membuktikan sifat Hanafi yang keras kepala dan cepat tersinggung. (hlm. 155)

  • Corrie

Dari aspek fisiologisnya. Corrie dikatakan baru berumur enam tahun ketika ibunya meninggal dunia dan Corrie dilukiskan sebagai perempuan yang cantik parasnya, yang baru berusia 19 tahun. (hlm. 5 dan 10).

Dari aspek psikologisnya, Corrie dilukiskan sebagai perempuan yang kasar dan tidak sabaran. (hlm.13). Corrie juga dikatakan sebagai perempuan yang besar kepala, keras kepala, tidak tetap pendirian dan perangainya seperti kanak-kanak, ini dikatakan langsung oleh tokoh Corrie. (hlm. 144). Corrie juga dikatakan sebagai istri yang tak pernah membantah kehendak suaminya dan ia juga memaafkan segala kesalahan yang telah dilakukan Hanafi terhadapnya. (hlm.155 dan 221).

  • Rapiah

Secara fisiologisnya, Rapiah merupakan anak perempuan Sutan Batuah saudara Ibu Hanafi, Rapiah merupakan perempuan yang tamat HIS, dan rupa Rapiah pun dikatakan tidak buruk, ini dijelaskan langsung oleh tokoh lain yakni Ibu Hanafi. (hlm.62)

Secara psikologis, Rapiah perempuan yang baik, hati tulus dan sabar. Ini dipaparkan langsung oleh Ibu Hanafi, dan ia seorang istri yang sangat patuh dan takut kepada Hanafi. (hlm.62 dan 73). Rapiah juga dikatakan sebagai istri yang sabar dan berhati mulia (hlm.77 dan 214).

  • Ibu Hanafi  

Secara fisiologis, Ibu Hanafi adalah saudara perempuan dari Sutan Batuah. (hlm.62). Mariam digambarkan sebagai ibu yang sangat menyayangi Hanafi, ia merupakan seorang ibu yang royal kepada anak satu-satunya itu. (hlm.23). Mariam dikatakan pula seorang ibu yang tidak suka membantah perkataan Hanafi. (hlm.24) dan (hlm.31). Ibu Hanafi merupakan sosok perempuan yang sabar dan perhatian, ini dijelaskan melalui tingkah laku yang dilakukan ibu Hanafi. (hlm. 31-32, (hlm. 58)  dan (hlm.249). Ibu Hanafi juga dikatakan sebagai orang tua yang arif dan bijaksana. (hlm.252 dan 255).

  • Tuan de  Bussee

Tuan de  Bussee mempunyai sifat yang tegas dan penyayang. Ia adalah ayah dari Corrie, lalu terlihat sifatnya saat ia menghadapi putrinyayang hendak memiliki hubungan pernikahan bersama Hanafi, ia mencoba menjelaskan dengan tegas dngan Corrie bahwa pernikahan yang ingin dilkukannya bukanlah sebuah pernikahan yang biasa, melainkn melibatkan antar dua kubu yang sangat berbeda jauh

  • Nyonya van Dammen

Nyonya van Dammen memiliki rumah piatu yang membuatnya mempunyai sifat yang sangat baik, ramah, dan sopan. Dari kepunyaan rumah piatulah nyonya van Demmen memberikan itikat baik pada Hanafi dan Corrie untuk tumpangi dirumahnya walaupun memberikan tarif Rp 100,00 pada Hanafi dan Corrie.

  • Si Buyung

Si buyung memiliki sifat yang penyayang dan penurut. Si Buyung sangatlah saying kepada Syafei anak Hanafi yang sering ditinggalkan ayahnya karena ayahnya memiliki perjanjian dengan ibunya dalam pernikahan dengan Rapiah.

  • Syafei

Syafei mempunyai sifat yang sangat jujur dan berani. Walaupun usianya belum sampai usia dewasa, ia sudah mengerti bahwa membenci seseorang adalah perilaku yang buruk. Itu semua dikarenakan ibunya yaitu Rapiah yang selalu memeberikan perkataan baik kepadanya.

  • Piet

Piet adalah seorang yang mempunyai sifat baik terhadap sekitar, ia sangat memahami keadaan sekitarnya. Seperti saat ia bersama dengan hanafi, ia memahami baik keadaan yang sedang dihadapi oleh Hanafi sehingga Hanafi menyebutnya sahabat.

  1. Tante Lien

Tetangga Corrie pada saat dia menikah dengan Hanafi.Tante Lien adalah pribumi asli Betawi yang berkebiasaan latah dan memiliki sifat licik sebagai penghancur rumah tangga corrie dan hanafi . perlakuannya sebagai penggoda dengan transaksi jual-beli perhiasaan

  1. Tuan Administratur

Orang yang berbaik hati menemani Hanafi di Semarang dan menyediakan kursi,  minuman-dan makanan pada saat Hanafi semalaman di Kuburan Corrie.

Latar

Dalam sebuah karya fiksi, latar bertugas memberikan pijakan secara konkret dan jelas untuk memfasilitasi imajinasi pembaca dalam mengoperasikan day imajinasinya. Selain itu, latar juga berperan dalam menegaskan kesan realistis serta memciptakan suasana yang seolah nyata dalam sebuah cerita fiksi yang dibangunnya. Menurut Abrams, Latar menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Stanton mengelompokkan latar, bersama dengan tokoh dan plot, ke dalam fakta (cerita) sebab ketiga hal inilah yang akan dihadapi dan dapat diimajinasi oleh pembaca secara kejadian-kejadian yang bersebab akibat, dan itu perlu pijakan, di mana, kapan, dan pada kondisi sosial-budaya masyarakat yang bagaimana.[13]

            Oleh karenanya, dalam pembahasan latar, klasifikasi latar dapat diuraikan menjadi latar waktu, latar tempat, dan latar suasana atau latar sosial.

faktual jika membaca sebuah cerita fiksi.[14] Atau, ketiga hal inilah yang secara konkret dan langsung membentuk cerita: tokoh cerita adalah pelaku dan penderita kejadian-kejadian yang bersebab akibat, dan itu perlu pijakan, di mana, kapan, dan pada kondisi sosial-budaya masyarakat yang bagaimana.[15]

            Oleh karenanya, dalam pembahasan latar, klasifikasi latar dapat diuraikan menjadi latar waktu, latar tempat, dan latar suasana atau latar sosial.

  1. Latar Waktu

Latar waktu dapat diketahui dari beberapa contoh kutipan di bawah ini.

Fajar sudah menyingsing; nyata dari sela-sela jendela. Hanafi mengetahui bahwa hari sudah siang. Sekejap pun ia tiada tidur (hlm.57).

Setelah dua pekan di dalam demam payah, berangsur turunlah panas badan Hanafi. Dokter pun sudah berkata kepada ibunya, bahwa keadaannya pun tidak mengkhawatirkan lagi (hlm.58).

Dua tahun sudah berjalan, setelah jadi perundingan Hanafi dengan ibunya tentang beristri itu. Sebelum ia membenarkan kata ibunya, ia pun  sudah dinikahkan dengan Rapiah (hlm.69).

  • Latar Tempat
  • Lapangan tennis .

“Tempat bermain tennis , yang dilindungi oleh pohon- pohon kelepa disekitarnya, masih sunyi” (hal .1 , paragraf 1 )

  • Minangkabau

“Sesungguhnya ibunya orang kampung, dan selamanya tinggal di kampung saja, tapi sebabkasihan kepada anak , ditinggalkannyalah rumah gedang di Koto Anau, dan tinggallah ia bersama-sama dengan Hanafi di Solok.” ( halaman 23, paragraf 3 )

“Maka tiadalah ia segan -segan mengeluarkan uang buat mengisi rumah sewaan di Solok itu secara yang dikehendaki oleh anaknya .” (halaman 23, paragraf 4 )

  • Betawi

“Dari kecil Hanafi sudah di sekolahkan di Betawi ”(hal. 23, paragraph 1 )

“Sekarang kita ambil jalan Gunung Sari, Jembatan Merah Jakarta, Corrie!” (halaman 103 , Paragraf 2)

  • Semarang

“Pada keesokan harinya Hanafi sudah dating pula ke rumah tumpangan itu , dan bukan buatan sedih hatinya, demikian mendengar bahwa Corrie sudah berangkat . Seketika itu ia berkata hendak menurutkan ke Semarang .” (halaman 186 , paragraf 8)

  • Surabaya

“Di Surabaya mereka menumpang semalam di suatu pension kecil, mengaku nama Tuan dan Nona Han.” ( halaman 144 , paragraf 1 )

  • Latar Suasana

Latar Suasana Corrie mengeluarkan air matanya sampai turun berderai-derai, memeluk dan mencium suaminya pula, seraya berkata,

“Mudah-mudahan, Hanafi! Moga-moga Tuhan akan menurunkan rahmat atas hamba-Nya; memberi kekuatan batin bagi kita berdua dalam menempuh gelombang yang besar ini!” Maka bertangis-tangisanlah mereka itu, … (hlm.161).

Sudut Pandang

Sudut pandang atau point of view menunjuk pada cara sebuah cerita disajikan. Sudut pandang merupakan cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.[16]  Dengan demikian, sudut pandang pada hakikanya merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan cerita[17]

Dalam novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis ini sudut pandang orang ketiga serba tahu. Sudut pandang orang ketiga serba tahu ialah pengarang menempatkan dirinya sebagai narator yang seolah-olah mengetahui segala sesuatu yang terjadi dalam cerita. Dalam kutipan novel terletak pada halaman sembilan.

Gaya Bahasa

Stile, (style, gaya bahasa) adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa  atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan.[18] Novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis  gaya bahasa yang digunakan adalah bahasa melayu . selain itu, dalam novel Salah Asuhan juga terdapat kata-kata belanda, bahasa padang, dan bahasa betawi. Sehingga pembaca sulit untuk memahami.

Amanat

  1. kita harus mampu menghormati budaya orang lain atau bangsa lain.
  2. Kita harus membatasi diri dalam bergaul, janganlah kita lupa daratan dan terbawa arus
  3. Jangan sampai kita mengikuti budaya asing dan melupakan budaya sendiri
  4. Segala sesuatu yang kita lakukan dan kita jalani dengan menggunakan kekerasandan emosional, maka kehancuran dan kegagalan yang kita dapatkan/alami
  5. Janganlah durhaka kepada orang tua

Analisis Isi : Adat Istiadat dipengaruhi oleh Komplikasi Ideologi antar Bangsa Barat dan Timur Masa Kolonial, Dalam Novel Salah Asuhan Karya Abdul Moeis

Adat Istiadat Minangkabau

            Budaya matrilinial dalam masyarakat Minangkabau adalah suatu bentuk sistem sosial kekerabatan yang pada dasarnya terbentuk untuk tujuan kemaslahatan dan kesejahteraan komunitas masyarakat Minangkabau itu sendiri. Sebagai suatu sistem norma, tentunya tidak semua dari komunitasnya memiliki persepsi yang sama terhadap sistem tersebut. Walaupun begitu, secara umum sistem nilai budaya matrilinial adalah bersifat normatif yang secara prinsip berorientasi pada sesuatu yang positif. Prisip dasar nilai normatif dari sistem matrilinial adalah berorientasikan pada beberapa aspek di antaranya, nilai budaya matrilinial menginginkan anak laki-laki untuk lebih mandiri, nilai tanggung jawab kaum lakilaki terhadap keluarganya, nilai perlindungan terhadap kaum perempuan, baik perlindungan dalam bentuk moral maupun dalam bentuk material, dan nilai ikatan kekerabatan dalam masyarakat Minangkabau.

Masyarakat Minangkabau menamakan sistem kemasyarakatannya sebagai masyarakat yang berketurunan ibu (Nasroen, 1971:15). Sesuai dengan sistem kemasyarakatan yang menganut sistem keturunan menurut garis ibu, kemenakan merupakan tanggung jawab mamaknya. Sementara itu, mamak  adalah saudara lakilaki dari pihak ibu. Sistem adat kemasyarakatan seperti yang sudah disebutkan di atas tercermin dalam pepatah adat kemenakan beraja ke mamak, mamak beraja ke penghulu, penghulu beraja ke musyawarah, musyawarah beraja kepada alur dan patut.  Alur dan patut berdiri sendiri (Navis, 1986:130) yang berarti  bahwa kemenakan tunduk kepada mamaknya.

Selanjutnya, mamak akan tunduk kepada ninik mamak (penghulu), sedangkan penghulu tunduk kepada keputusan musyawarah. Musyawarah berpedoman pada kebenaran (alur dan patut). Pepatah adat itu menginformasikan bahwa sistem kemasyarakatan Minangkabau mempunyai hierarki yang  saling berkaitan. Mamak merupakan hierarki terbawah dan sistem kemasyarakatan itu memiliki hubungan yang sangat kuat sekali. Kalau diteliti lebih dalam lagi, di dalam keutuhan cerita yang dijelaskan dalam novel Salah Asuhan sebagai suatu kenyataan sosial rekaan, terkesan adanya semacam ambivalensi pandangan pengarang tentang eksistensi mamak. Lebih lanjut, dapat dikatakan bahwa pengarang menyukai figur kepemimpinan mamak. Akan tetapi, di sisi lain, dia juga menyanggah keberadaan mamak  itu karena kadang kala kepemimpinan mamak  mengakibatkan menyempitnya kebebasan kemenakan.

Sebagai seorang yang berasal dari daerah Minangkabau, Abdoel Moeis tentu mengenal kalau tidak dapat dikatakan akrab, seluk-beluk kebudayaan atau adat istiadat Minangkabau tersebut. Hal itu dapat diketahui dari sentilan pemikiran tentang unsur budaya Minangkabau yang dikemukakannya dalam novel Salah Asuhan. Ia memunculkan gambaran tanggung jawab Sutan Batuah membantu biaya sekolah Hanafi meskipun penghasilan Sutan Batuah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, seperti dapat diketahui dari kutipan berikut ini.

Dari gajinya yang tidak seberapa sebulan, tetaplah dia menyisihkan tiap bulan, buat penambah uang yang mesti ibu kirimkan ke Betawi (Moeis, 2009:30)

kutipan tersebut dapat kita lihat pengorbanan Sutan Batuah itu merupakan salah satu realisasi dan bentuk tanggung jawab seorang mamak  terhadap kemenakannya. Sebetulnya  hal itu tidak hanya menjadi tanggung jawab Sutan Batuah saja, tetapi juga  beban tanggung jawab mamak  sekaumnya dan generasi yang lebih tua daripada mamak  tersebut. Mamak dan ninik mamak bersama-sama memikul tanggung jawab yang sama dalam memimpin para kemenakannya. Tujuannya untuk mendidik kemenakannya agar mandiri dan dapat mengembangkan wawasan berpikir ke arah kehidupan bermasyarakat, agar pada suatu saat, apabila kemenakannya nanti telah dewasa, dapat menjadi pemimpin yang disegani orang.

Di dalam kehidupan sosial keluarga, peranan dan fungsi mamak  cukup besar, misalnya dalam hal mencarikan jodoh kemenakannya. Banyak hal yang harus dikaji dalam pencarian jodoh dan melibatkan generasi tua, terutama  mamak. Setiap keputusan yang diambil harus melalui musyawarah dengan mamak. Dasar yang paling penting jodoh untuk kemenakannya adalah orang yang tahu dengan agama. Perkawinan antara Hanafi dan Rapiah dalam budaya Minangkabau merupakan perkawinan ideal dilakukan. Apabila terjadi perkawinan antara keluarga dekat, seperti perkawinan antara anak dan kemenakan, perkawinan ini lazim disebut  perkawinan pulang ke mamak. Perkawinan pulang ke mamak, yaitu mengawini anak mamak. Perkawinan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengawetkan hubungan suami istri itu agar tidak terganggu dengan permasalahan yang mungkin timbul karena adanya ketidakserasian antar kerabat. Ekses yang timbul di dalam keluarga yang berkaitan dengan harta pusaka dapat dihindarkan.

Dapat dikatakan bahwa dari semua uraian  di atas bahwa peranan dan tanggung jawab sosok mamak  di Minangkabau seolah-olah bapak bagi keluarga Minangkabau dan dapat dipahami adanya hubungan tersendiri antara mamak dan kemenakan atau  sebaliknya. Akan tetapi, tidaklah dapat beranggapan bahwa si bapak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab moril terhadap anakanakanya. Hal ini sebenarnya salah anggapan sebab dalam kato pusako UndangUndang nan Ampek  ada  pedoman yang jadi dasar bagi kehidupan keluarga, yaitu anak dipangku, kemenakan dibimbing.

Komplikasi Ideologi Bangsa Barat dan Timur Masa Kolonial

Selain mengenai adat istiadat Minangkabau novel ini mengandung sarat dengan ideologi dan makna. Ideologi dan makna dalam novel ini sesuai dengan karakteristik sejarahnya adalah ideologi yang berada jauh di luar teks. Hal ini disebabkan karena teks yang dikemukakan dalam novel ini adalah teks yang terkondisikan. Dengan demikian, pada awal-awal cerita sangat tidak tampak sekali adanya diskriminasi yang dilakukan oleh bangsa Barat (Belanda) terhadap bangsa pribumi. Hal ini sangat terlihat dan tampak sekali pada permulaan cerita novel Salah Asuhan ini, bahwa bangsa Belanda adalah bangsa yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan, tata krama, dan undang-undang. Hal ini tergambarkan pada ucapan-ucapan Corrie kepada Hanafi seperti dalam kutipan berikut ini

Itu benar Han! Tetapi pada segala pekerjaan ada batasnya. Maka adalah pekerjaan atau perbuatan yang luar biasa yang tiada galib dilakukan oleh orang, sedang pekerjaan yang disangka tidak mengganggu kesengan orang lain itupun boleh jadi akan melanggar kesopanan (Moies, 2009: 2).

Dari kutipan di atas terlihat dengan jelas ada makna tersirat dan ideologi yang ingin disampaikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Darma (2014:141) setiap wacana yang muncul dalam buku teks, percakapan, atau apapun tidak dipandang sebagai sesuatu yang alami, wajar, dan netral. Tetapi merupakan bentuk dari pertarungan kekuasaan. Kekuasan memiliki posisi penting dalam wacana khususnya dalam novel, karena bahasa yang disampaikan oleh tokoh-tokoh dalam novel memiliki ideologi tersendiri. Penulis memandang ideologi yang disampaikan oleh Corrie di atas, adalah ideologi yang menggambarkan bahwa bangsa Belanda sangat meghormati dan menghargai nilai-nilai kesopanan. Selanjutnya, melalui novel ini seakan-akan menggambarkan bahwa bangsa Indonesialah yang menghendaki diberlakukannya undang-undang bangsa Eropa, karena diaggap undang-undang bangsa Eropa jauh lebih modern, terbuka, dan mejamin kebebasan berpikir dan berekspresi bagi setiap individu. Berbeda dengan aturan-atauran yang ada di negara Indonesia, yang primitif, konservatif, dan tidak menjamin kebebasan berpikir dan berpendapat terhadap setiap individu. Hal ini direpresentasikan melalui pernyataan-pernyataan dan kelakuan Hanafi yang yang merupakan salah satu tokoh sentral dalam novel ini, kondisi tersbut dapat dilihat sebagai berikut.

Ah, undang-undang itu, dimanakah batasnya? Bangsamu, bangsa Eropa amat meloggarkan pergaulan laki-laki dan perempuan, (Moies, 2009: 2).

Diskriminasi yang dialami oleh bangsa pribumi dalam novel ini, seakan-akan bukan dikonstruksi, dilakukan oleh orang-orang Eropa, tetapi dikriminasi itu dikonstruksi oleh bangsa pribumi sendiri. Hal ini tergambar dengan jelas melalui perkataan Corrie, sebagai berikut.

Bahwa sesungguhnya kulitku berwarna pula, ibuku perempuan bumi putra sejati, meskipun diriku masuk pada golongan bangsa Eropa. Dan sementra…fasal hina menghina Bumiputra lebih banyak terdengar dari mulutmu sendiri daripada dari mulutku, (Moies, 2009: 3).

Di sisi lain dalam novel ini sangat pandai mempermainkan kata-kata, kata-kata diskriminatif yang sangat halus dilihat dari konteks kekinian. Hal ini terlontar dari mulut Nyonya Brown dan Tuan Brown, sebagai berikut.

Sementara itu Corrie dan Hanafi berjabatan tangan dengan kedua suami istri tersebut. Nyonya Brom bertanya sambil bersenda” he, Corrie,! Burung gereja atau burung cendrawasikah engkau?’ “Burung Garuda nyonya” “berung garuda belum tentu di dunia ini, Corrie!’’ kata tuan Brown pula (Moies, 2009: 6).

Kutipan di atas dilihat dari perspektif teori poskolonial mengandung unsur-unsur yang akan menimbulkan degradasi mentalitas, frasa “garuda belum tentu di dunia ini”, secara tidak langsung mengungkapkan bahwa bangsa dan negara Indonesia tidak pernah ada, negara Indonesia fiktif, inferior, primitif, bangsa yang nyata dan ada itu adalah bangsa Belanda, dan bangsa Eropa.

Hal ini sesuai dengan pendapat Ratna (2008:120) bahwa bangsa kolonial berusaha untuk menimbulkan akibat-akibat lebih bersifat sebagai degradasi mentalitas dibandingkan dengan kerusakan material. Akan tetapi, anehnya yang dijadikan sebagai tokoh sentral cerita dalam novel ini adalah bukan dari orang Belanda, akan tetapi yang dijadikan sebagai tokoh sentral adalah Corrie yang merupakan anak dari Tuan de Bussee keturunan Prancis, bukan keturunan Belanda. Dari awal cerita sampai pada pertengahan cerita tidak diceritakan secara praktis yang dilakukan oleh orang Belanda, kalaupun ada padanannya bukan Belanda tetapi Barat. Kenapa harus kata Barat, kenapa tokoh sentralnya orang keturun Prancis, kenapa tidak secara eksplisit yang disebutkan bangsa Belanda. Tentu dapat kita pahami dari konteks sejarah, pada waktu itu dan kepentingan kolonial penjajah. Dalam hal ini konsep diskriminasi yang dimainkan oleh Belanda, melalui ideologi tertentu.

Permainan penggunaan tokoh Prancis, karena ada marginalisiasi bahasa oleh Abdoel Moies, memalingkan perhatian Belanda, sehingga setiap diskriminasi yang dilakukan oleh Belanda yang diceritakan oleh Abdoel Moies dalam novel ini seakan-akan bukan dilakukan oleh bangsa Belanda, tatapi dilakukan oleh bangsa Prancis. Tentu ini merupakan politik bahasa yang bagus yang dimainkan oleh pengarang supaya novel ini bisa diterbitkan pada masa itu.

Hubungan  antara Adat Istiadat dengan Ideologi antar Bangsa

Keterkaitan diatas menimbulkan  fenomena Setelah menyelesaikan pendidikan HBS-nya di Betawi, Hanafi pulang ke Solok. Ia bekerja pada kantor asisten Residen Solok. Di kota Solok ini pula Hanafi berjumpa kembali dengan sahabat lamanya, Corrie de Busse. Corrie yang merupakan seorang gadis keturunan Indo-Prancis, anak yang mudah bergaul, akan tetapi dia juga begitu sangat hati-hati dalam bertindak, sebab dia sadar sedang hidup di antara golongan masyarakat yang tidak sama kebudayaannya dengan kebudayaan bangsanya.

“Hanafi! Engkau pula yang memulai memperbincangkan tentang adat lembaga serta tata tertib kesopanan masing-masing bangsa, engkau pun juga yang tidak suka mengundahkan atau mengakui atas perbedaan adat  lembaga bangsa dengan bangsa, setiap kita bertukar pikiran tentang hal itu, pada akhirnya engkau senantiasa berkecil hati seolah-olah malulah engkau, bahwa engkau masuk golongan bumi-putra, yang kau sangka bahwa aku akan menghinakannya. Bahwa sesungguhnya kulitku bewarna pula, ibuku orang Bumiputra sejati, meskipun diriku masuk pada bangsa Eropa. Dan sementara…. Fasal hina-menghina Bumiputra lebih banyak terdengar dari mulutmu sendiri darpada mulutku.” (Moeis, 2009: 3).

Dalam kutipan tersebut dapat kita lihat bahwa tokoh Corrie pandai bergaul dengan budaya lain. Dia tidak pernah menghina Hanafi yang hanya berasal dari kaum Bumiputra. Dia pun merasa bahwa dirinya juga sama dengan Hanafi, yang di dalam darahnya sendiri pun terdapat darah orang Bumiputra yang dibawa oleh ibunya. Akan tetapi, persahabatan mereka berkembang menjadi cinta kasih antara dua remaja. Namun, Corrie akhirnya meninggalkan Hanafi yang  menyadari bahwa mereka dibatasi oleh sistem adat yang berbeda. Di dalam novel ini digambarkan bahwa budaya Barat kedudukannya lebih tinggi dari budaya timur. Dalam  novel Salah Asuhan itu terekam secara jelas jejak bangsa Barat terhadap bangsa Indonesia, terutama masalah bahasa dan identitas bangsa, seperti yang tertulis dalam kutipan berikut ini.

Tapi lain sekali keadaannya pada pertimbangan orang Barat itu, kalau seseorang nyonya barat sampai bersuami, bahkan beranak dengan orang sini. Terlebih dahulu nyonya itu dipandang seolah menghinakan dirinya sebagai bangsa barat dan dikatakan ‘sudah membuang diri’ kepada orang sini. Di dalam undang-undang negeri ia pun segera dikeluarkan  dari hak orang Eropa. Itu saja sudah tidak dengan sepatutnya, istimewa pula bila diketahui, bahwa seorang bangsa bumi putra yang minta dipersamakan haknya dengan Eropa. Selama-lamanya tidak boleh menghilangkan lagi hak itu dan kembali lagi menjadi Bumiputra pula, karena tidaklah, ada sesuatu fasal di dalam undang-undang, yang boleh menggugurkan haknya sebagai bangsa Eropa. Tapi seseorang perempuan bangsa Eropa, yang kawin dengan orang Bumiputra, selama ditangan suaminya itu, akan kehilangan haknya sebagai orang Eropa. Terlebih hina kedudukannya di dalam pergaulan bangsa Eropa sendiri. Jika nyonya itu sampai beranak, dipandang bahwa ia turut mengurangi derajat bangsa Eropa. Terasalah olehmu, Corrie, perbedaan antara kedua perkawinan (Moeis, 2009:16).

Dari kutipan diatas kita dapat mencermati bahwa seorang bangsa bumiputra yang minta haknya tidak akan dapat disamakan dengan  bangsa Eropa. Tokoh Hanafi sebagai bangsa Indonesia yang hanya dididik menjadi antek Belanda semata, tetapi ia tidak menyadari hal itu.

Jadi sekalipun Hanafi sudah minta dipersamakan haknya dengan warga negara Belanda, pada hakikatnya dia selalu dijauhi oleh orang Belanda sendiri (merupakan politik Belanda yang menjadikan orang Indonesia sebagai antek Belanda) dan hal inilah yang ditentang keras oleh pengarang. Konsep pendidikan Barat itulah alasan mengapa pengarang memenangkan adat agar para pemuda pribumi supaya tetap bersifat ketimuran walaupun telah mengenyam pendidikan Barat. Selanjutnya, Corrie menolak cinta Hanafi dan Hanafi terpaksa menikah dengan Rafiah.

“Mudah-mudahan air garam yang membatasi kita, akan berkuasa melunturkan dan menyapu kenangan-kenangan atas segala sesuatunya yang terjadi di masa yang lalu. Jangan kau sangka, bahwa aku menceraikan diri dari engkau dengan masygul hati atau dengan menaruh dendam, tidak, Hanafi, hanya sedilah hatiku atas perbuatanmu hampir menjerumuskan aku ke dalam jurang itu. Jika engkau menghendaki perpindahanku juga buat masa yang akan datang, putuskanlah pertalian dengan aku, lahir batin, dan jauhilah aku sejauh-jauhnya” (Moeis, 2009:57—58).

Dari kutipan diatas kita dapat mencermati bahwa sepeninggal Corrie, Hanafi jatuh sakit. Ibu Hanafi mengetahui bahwa Hanafi kecewa karena ditinggal pergi oleh Corrie. Untuk itu, ia selalu menghibur dan menasihati anaknya, Hanafi, agar berhati-hati memutuskan suatu masalah, terutama hal yang berkaitan dengan jodoh. Pada waktu kekecewaan Hanafi berangsur hilang, ibunya menyarankan agar Hanafi segera berumah tangga. Ibu Hanafi mengajukan calon untuk Hanafi, yaitu Rapiah. Rapiah merupakan anak Sutan Batuah. Hal itu  sebe-tulnya sudah berulang   disampaikan oleh ibunya kepada Hanafi. Hanafi selalu menolaknya karena ia sangat menginginkan Corrie menjadi pendampingnya. Namun, Hanafi akhirnya menerima juga Rapiah menjadi istrinya karena ia merasa berutang budi kepada mamaknya. Meskipun ia tidak mencintai Rafiah, calon istri yang dipilihkan oleh ibunya, Hanafi tetap menikahi Rafiah meskipun ia menganggap pernikahannya itu hanyalah tuntutan dari kebudayaan Minang. Kutipan kalimat ketika Hanafi terpaksa menikah dengan Rapiah, seperti dapat diketahui   berikut ini.

“Baiklah, Bu! Selesaikan oleh ibu. Padaku tak ada kehendak, tak ada cita-cita. Hanya patutlah ibu menjaga supaya jangan berubah aturan dahulu; bukan kitalah yang datang, melainkan dia. Perlu dijaga serupa itu; buat masa yang akan datang. Sebab perempuan itu tak akan dapatlah mengharap liefde dari padaku. Kuterima datangnya karena plicht saja (Moeis, 2009:71).

Dari kutipan di atas kita dapat gambaran bahwa tokoh Rapiah berkedudukan sebagai seorang istri dalam keluarga Hanafi. Selain itu Rapiah juga menjadi seorang ibu dari seorang anak laki-laki yang bernama Syafei. Rapiah merupakan seorang istri yang tidak dapat sejajar dengan suaminya karena pendidikan Hanafi lebih tinggi dari pada pendidikan Rapiah.

Muncul Diskriminasi Dari Perkawinan Campuran

Dalam konteks ini adalah direpresentasikan melalaui tokoh Hanafi dan tokoh Corrie. Setelah Hanafi menikah dengan orang Eropa secara drastis Hanafi mendapatkan diskriminasi. Ini tentu berbeda jauh dengan sebelum Hanafi mendapatkan persamaan hak dan menikah dengan orang Eropa. Sebelumnya Hanafi dihormati dan dihargai oleh masyarakat Minangkabau. Hal ini dapat dilihat Hanafi mendapatkan diskriminasi oleh ayah temannya Corrie yang merupakan orang Belanda. Ketika itu ayah teman Corrie yang senang merayakan hari pertunangan Corrie, tetapi ketika mereka mengetahui bahwa tunangan Corrie adalah orang Indonesia yang masuk Belanda, maka ia pun menolak keras perayaan pertunangan itu, seperti dalam kutipan berikut.

Sahabatku itu amat bersuka hati akan berlaku serupa itu, tetapi setelah maksudnya disampaikan kepada ayahnya, keadaan kami kedua seolah-olah sebagai disiram dengan air es. Pada mulanya ayah itu sangat gembira hendak merayakan pertunangan sahabat anaknya, tetapi demi didengarnya siapa konon tunangan itu, berubahlah air mukanya. Rupa-rupa saja keberatan buat menerima engkau di meja makan, hingga batallah maksud itu sama sekali. Sesayang-sayangnya kepadaku pada mulanya, setelah mendengar bahwa aku bertunangan dengan seorang Melayu yang masuk Belanda, maka perpindahannya kepadaku berubah (Moies, 2009:148).

Dari kutipan di atas sangat terlihat dengan jelas bahwa sebelum menikah saja, Hanafi sudah mendapatkan diskriminasi, sudah mulai dikucilkan oleh bangsa Eropa. Pengucilan itu bukan serta merta datangnya dari orang Eropa sendiri, tetapi yang pertama sekali mengkucilkan Hanafi adalah Corrie. Corrie perempuan yang dicintai, disayangi oleh Hanafi, sebagimana kutipan berikut.

“Benar, Corrie, tapi hatiku amat bimbang melihat perangaimu dari kemarin. Perlihatlah sedikit bagaimana cintamu padaku oto sudah masuk ke dalam halaman rumah makan Corrie terasa lapang dadanya, waktu ia berkata, “Perkawinan yang terikat oleh cinta itu saja, mudah putusnya, Han! Karena cinta itu boleh habis. Ketahuilah oleh  mu bahwa dari bermula engkau bercitacita hendak meminta aku jadi istrimu, maka yang terlebih kurasai atas dirimu ialah kasihan. Kasihan yang tak terhingga, (Moies, 2009:153).

Dari kutipan di atas, terlihat dengan jelas bagaimana perubahan drastis sikap Corrie terhadap Hanafi. Padahal dulu Corrie sangat mengangumi dan ada benih-benih cinta yang ada dalam diri Corrie terhadap Hanafi. Bahkan sebelum Hanafi datang ke Betawi, Corrie sangat merindukan Hanafi. Akan tetapi, ketika Hanafi ingin benar-benar serius, ingin melamar Corrie, sikap Corrie sangat berubah. Tentu hal ini dapat dipahami karena Hanafi adalah seorang bangsa pribumi (Melayu). Setelah Hanafi menikah, Hanafi maupun Corrie banyak sekali mendapatkan diskriminasi baik dari bangsa Eropa maupun bangsa pribumi. Hal ini seakan-akan membuktikan perkataan ayahnya Corrie, bahwa apabila seorang perempuan Eropa menikah dengan orang pribumi, maka ia merendahkan dan menghina dirinya sendiri. Bentuk diskriminasi terhadap Corrie dan Hanafi ini dapat dilihat dalam beberapa kutipan berikut ini.

“Baiklah kau ceritakan kepada Tuan Sekretaris saja. Kawan-kawanmu tidak usah mengetahui hal ini”, (Moies, 2009:157). “Mula-mula Hanafi dan Corrie menjadi lid daripada kumpulan pemain tennis yang terdiri dari pegewai-pegawai Kantor Gufermen di Betawi. Sekalian kawan-kawan itu menunjukkan adat yang tertib kepada mereka: seorang pun tak ada yang menghinakannya, tapi sementara itu mereka berasa tersisih dari pergaulan yang banyak (Moies, 2009:161). Benar Han, sebab aku bersuamikan orang Melayu, maka dunia menjadi sempit bagiku. Itu suatu kebenaran yang tidak dapat dibantah-bantah karena sudah terbukti, (Moies, 2009:165). “…rupanya lain karena batinku tidak kuat menghadapi hidup begini; disih orang! Dari kecil aku terbiasa menjadi pusat perhatian kawan-kawan, (Moies, 2009:166).

Dari kutipan di atas, dapat dilihat dengan jelas bagaimana diskriminasi yang didapatkan oleh Corrie dan Hanafi, karena mereka dikucilkan dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari. Satu-satunya teman Corrie adalah Nona Lien. Inilah yang menjadikan salah satu sebab dari renggangnya hubungan antara Corrie dan Hanafi, sehingga berakhir pada percerian antara Corrie dan Hanafi.

Membuang diri? Seorang nona Eropa bersuamikan orang Melayu, itu namanya membuang diri, Mener Han! Lihatlah keadaanku sekarang. Badanku rusak, uangku habis, bangsaku melihat padaku sebagai najis, itu namanya “membuang diri”. Tapi Mener Han merasa lebih rugi dari aku? Oh, oh” (Moies, 2009:182). Sekarang kita cerai, buat seumur hidup. Jika engkau berasa perlu akan membawa-bawa ‘Justitie’ di dalam perceraian ini kau usahakanlah (Moies, 2009:183).

Dari beberapa uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa salah satu sebab dari adanya kehancuran materil maupun psikis yang dialami oleh Hanafi dan Corrie adalah tidak bisa dilepaskan dari oposisi biner, koordinar dan subordinar, superior dan inferior, yang menimbulkan adanya diskriminasi, ideologi, atau paham bahwa bangsa Indonesia, adalah bangsa kolot, melarat, bangsa kecil, begitupun dengan penduduknya, bodoh, miskin, dan takhayyul. Dengan demikian, antara orang Barat dan orang Indonesia tidak akan pernah bisa cocok, tidak akan pernah bisa sama rata, dan sama derajatnya. Hal ini tentu dapat dibenarkan dengan memperhatikan kerja teks dalam novel Salah Asuhan karya Abdoel Mois, yang direpresentasikan melalui Hanafi. Karena walaupun Hanafi berusaha dengan sekuat tenaga, belajar, di sekolah Belanda, memakai bahasa Belanda, berpakaian ala Belanda, berbudaya Belanda, melepaskan identitasnya sebagai orang Pribumi, dan mendapatkan persamaan hak dengan orang Eropa melalaui keputusan pengadilan. Akan tetapi, dalam kenyataannya Barat tetap diaggap Barat, Timur tetap diaggap Timur, dalam artian yang lebih denotatif dan lugas, Hanafi tidak akan pernah diakui dan menjadi orang Barat.

Diskriminasi tehadap Hanafi dan Corrie tidak berhenti sampai setelah mereka cerai. Akan tetapi, tetap berlanjut walaupun mereka telah bercerai, diskriminasi yang didapatkan oleh mereka bahkan semakin banyak dan semakin tajam. Hanafi dan Corrie berada di dalam kekosongan identitas. Misalnya Corrie, secara otomatis sudah melepaskan identitasnya sebagai kaum Barat karena telah menikah dengan Hanfi orang bumiputra, sedangkan Hanafi sudah melepaskan identitasnya sebagai bumiputra untuk menjadi orang Eropa, walaupun dalam kenyataanya Hanafi tidak akan pernah bisa menjadi orang Eropa. Adapun diskriminasi yang didapatkan oleh Hanafi dan Corrie dapat dilihat dalam kutipan berikut.

“Nyonya, bukan main sulitnya bagi saya akan membuka tuturan ini, tapi sebab terpaksa, apa boleh buat. Banyak benar desas-desus tentang kehidupan nyonya, yang dikatakan orang ada jauh daripada mulia, (Moies, 2009:187). Maka dengan tidak berkata sepatah jua, diambilnyalah topinya dari tempat gantungannya, berjalan menuju ke pintu dan waktu ke luar, berkatalah ia dengan suara yang tetap, “Baik tuan, maupun saya rupanya berkesalahanlah benar di dalam perbuatan ini. Yang tuan cari ialah perempuan lain, dan yang saya cari juga adalah Chef yang lain. Tabik!”, (Moies,2009:191).

Dari kutipan di atas dapat dilihat tentang bagaimana perlakuan buruk (diaggap pelacur) yang didapatkan oleh Corrie. Kutipan pertama diskriminasi (perlakukan buruk) yang didapatkan oleh Corrie pada saat bekerja empat hari di bank. Atas kejadian itu kemudian Corrie memutuskan untuk keluar dari bank. Selanjutnya kutipan kedua adalah diskriminasi dalam bentuk perlakukan tidak sesenoh yang didapatkan oleh Corrie pada saat bekeja sebagai juru tulis. Kemudian Corrie pun memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut. Dari berbagai rentetan kejadian itu hampir setiap orang di Betawi menganggap dia adalah wanita yang hina (pelacur), sehingga Corrie pun seakan-akan merasakan dirinya sebagai orang yang paling terhina di dunia. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.

Rupanya sekota Betawi ini sudah memandang saya sebagai seorang perempuan ‘jalang’, hingga sekalian orang sudah leluasa menghinakan diri saya. Tidak, Nyonya saya berasa sekarang bahwa diri saya sangat kotor, dilumur dengan lumpur najis dan oleh suami saya sendiri, (Moies, 2009:193).

Karena mendapatkan penghinaan, diskrimnasi, dan dikucilkan dalam pergaulan baik oleh orang Eropa maupun oleh orang pribumi, maka Corrie mengasingkan diri ke Semarang tinggal bersama Nyonya Van Dammen. Setelah hampir satu tahun Corrie bekerja di tempat pemeliharan rumah tumpangan anak-anak piatu, Corrie terkena sakit kolera. Akhirnya Corrie meninggal di rumah sakit Semarang.

Dari rentetan cerita di atas, dapat dikatakan bahwa Corrie mendapatkan diskriminasi, penghinaan, dan dikucilkan dari pergaulan setelah menikah dengan Hanafi baik sebelum mereka bercerai maupun setelah mereka bercerai. Hal yang sama juga didapatkan oleh Hanafi, Hanafi tetap mendapatkan diskriminasi, terutama dalam pergaulan walaupun ia telah bercerai dengam Corrie, sebagaimana kutipan berikut.

Oleh karena keadaan yang demikian bersalah oleh Hanafi, bahwa ia mesti pindah dari rumah itu. Tapi ke mana? Telah beberapa orang Famili ditanya, seorang pun tak suka menerimanya. Tak sama sekali, sekalian mereka itu mengundang belas kasihan kepada Corrie, sekalian sudah berpihak kepada istrinya saja (Moies, 2009:209).

Kutipan di atas jelaslah bahwa hampir semua orang mengucilkan Hanafi dalam pergaulan. Di saat-saat seperti inilah timbul kecintaan Hanafi terhadap ibunya, anaknya, dan tanah kelahirannya. Akan tetapi, Hanafi tampak sekali lebih mencintai Corrie, sehingga ia menyusul Corrie ke Semarang. Setelah Corrie meniggal, Hanafi pun pulang ke Sumatera Barat. Dalam hal ini pengarang seakan-akan menyampaikan kepada anak bangsa bahwa, sejauh apapun sesorang itu ingin keluar dan melupakan bangsanya, mencaci, memaki, mencemoh, dan menghianati bangsanya. Akan tetapi, ia tetap merupakan anak pribumi, anak Indonesia, tumpah tanah Indonesia, maka dia pun akan kembali kepada tanah tempatnya menumpahkan darah.

            Setelah Hanafi pulang ke Minangkabau, Hanafi tidak lagi diaggap sebagai orang Minang, Hanafi dikucilkan dari pergaulan masyarakat Minangkabau. Pengucilan dan diskriminasi yang didapatkan oleh Hanafi di tanah Minangkabau dapat dilihat dari berbagai perpektif, sebagai berikut.

Sepanjang timbangan Tuanku Demang, tiada boleh mayat Hanfi dikuburkan di kampung, melainkan dikuburkan orang Eropa jua, karena sudah masuk Belanda (Moies, 2009:273).

Kutipan di atas perlu diluruskan, diskriminasi didapatkan oleh Hanafi, karena Hanafi sudah terlalu banyak menghina, merendahkan, dan menghianati tanah kelahirannya. Dengan demikian, itulah akibat yang didapatkan oleh sesorang (bukan pribumi sejati), karena bangsa dan masyarakat Indonesia memiliki harkat dan martabat sebagai bangsa yang besar.

Simpulan

  1. Roman Salah Asuhan sebagaimana biasanya roman Angkatan Balai Pustaka lainnya, masih bersifat keda’~rahan. Pengarang melukiskan kekuatan adat dan agama di Minangkabau. Sebagai suatu kebudayaan Timur, adat istiadat Minangkabau dianggap oleh Hanafi sangat mengikat, kolot dan ketinggalan zaman. la memandang rendah adat dan istiadat Minangkabau karena tidak sesuai dengan pendidikan Barat yang dipelajarinya, tidak sesuai dengan kehidupan modem yang bebas dan bersifat individual. la memandang adat istiadat Timur menghambat kemajuan dan modernisasi.
  2. Perbedaan sudut pandang antara kaum intelek yang berpendidikan Barat dengan masyarakat Tirnur yang berpegang kepada ad at . Karena adat tidak seluruhnya menerima unsur kebudayaan Barat yang dianggap oleh kaum intelek itu adalah kebudayaan modem atau maju, maka dianggaplah adat dan kebudayaan Timur itu kuno dan kolot, menghambat kemajuan. Akibatnya kaum intelek yang berpendidikan Barat itu, yang dalam cerita ini dilambangkan dengan Hanafi, menjauhi adlat dan kebudayaan Timur dan memeluk kebudayaan Barat, Mereka menjadi orang Barat dan mau dianggap sebagai orang Barat. Bahkan minta dipersamakan haknya dengan orang Barat.
  3. Pengarang meyakinkan pembaca bahwa kebudayaan Timur itu tidak kalah nilainya dari kebudayaan Barat. Hanya saja kebudayaan Timur itu seperti intan yang belum digosok, yang belum lagi kelihatan cahaya dan kecemerlangannya. Tugas kaum inteleklah untuk menggosok intan itu. Walau bagaimana sese orang itu mau mencemplungkan diri ke dalam ke budayaan Barat sifat ketimurannya tetap takkan hilang. Pada akhirnya ia akan kembali pada sifatnya yang asli, yaitu kembali kepada kebudayaan Timur.

Daftar Pustaka

Moeis,Abdoel. 2009.Salah Asuhan. Jakarta: PT Balai Pustaka (Persero)

Nurgiantoro, Burhan.  2015. Teori Pengkajian Fiksi.  Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Sumardjo, Jakob. 1999. Konteks Sosial Novel Indonesia 1920-1977. Bandung: Penerbit Alumni.

Wellek, Rene dan Austin Warrren. 2016. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Semi, Drs. Atar dkk.1985. Pemahaman Salah Asuhan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Syahrul, Ninawati.  Juli 2017, “Peran Dan Tanggung Jawab Mamak Dalam Keluarga: Tinjauan Terhadap Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis.” https://pdfs.semanticscholar.org/b2bf/ecd0fa7dc31410e598dd31e8a12093d9d5c5. diunduh pada 10 Maret 2020.

Hafid, .Abdul . Oktober 2017, “Diskriminasi Bangsa Belanda Dalam Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis (Kajian Postkolonial). KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya.”http://ejournal.umm.ac.id/index.php/kembara/article/download/5609/5401. diunduh pada  8 Maret 2020.


[1] Wellek, Rene dan Austin Warrren. Teori Kesusastraan, 2016, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. h. 98.

[2] Ninawati SyahrulJuli 2017,Peran Dan Tanggung Jawab Mamak Dalam Keluarga: Tinjauan Terhadap Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis.https://pdfs.semanticscholar.org/b2bf/ecd0fa7dc31410e598dd31e8a12093d9d5c5.diunduh pada 10 Maret 2020.

[3] Abdul Hafid, Oktober 2017, Diskriminasi Bangsa Belanda Dalam Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis (Kajian Postkolonial). KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya.http://ejournal.umm.ac.id/index.php/kembara/article/download/5609/5401, diunduh pada  8 Maret 2020.

[4] Jakob Sumardjo, Konteks Sosial Novel Indonesia 1920-1977. 1999, Bandung: Yayasan Adikarya IKAPI. h: 16

[5] Ibid, h.18

[6] Burhan Nurgiantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2015), h. 114

[7]  ibid, h. 116

[8] Ibid., h. 167.

[9] Ibid., h. 213.

[10] Jamil Bakar,  M. Atar Semi, Maryusman Maksan, Yuslina Kasun dan Yusran Khatib, Pemahaman Salah Asuhan

                [11] Ibid., h. 247..

                [12] Ibid., h. 247.

                [13] Ibid., h. 301

                [14] Ibid,. h. 302

                [15] Ibid., h. 301

[16] Op.Cit, Burhan. h. 338.

[17] Ibid., h. 338.

[18]Op.Cit., Arbams, h. 90.

Sendirimu Bukan Untuk Dikhawatirkan, Sekalipun Bumi Manusia dalam Medsos Menghiraukanmu.

Hallo guys, kali ini saya akan membahas judul diatas. Mungkin kalian pernah merasakan menjadi seorang diri yang terkadang tidak dipedulikan, bahkan menjadi orang yang tak berguna sama sekali.

Rasanya memang tidak enak sekali, kadang hatipun bertanya-tanya Apa salah ku? Apakah diriku tak pantas buat Mereka ? apakah sikap dan ucapanku kurang mengenakan buat mereka? Hingga mereka menjauh dari kita? Ok dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang pernah kalian rasakan juga.

Baik.  Kesendirian tak jarang akan menyelimuti manusia, dan Keadaan pun semakin rumit dengan bertambahnya usia, pemikiran pun semakin mengasah dirinya untuk proses memajukan kepribadian dalam meningkatkan potensi diri  .

Akankah diri ini terbelenggu oleh orang lain yang menjatuhkan atau ingin sukses bersama. Manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Kadang oranglainpun ada yang berbaik kepada kita namun hatinya memiliki niat buruk pada kita maupun sebaliknya. Maka kita jangan salah memberikan penilain terhadap orang lain dengan sebelah mata.

Memang risih rasanya sendiri disetiap waktu . dengan kata sendiri itu orang-orang menemukan istilah JOMBLO. Sebenarnya kesendirian itu sendiri bukanlah hal yang memalukan tapi orang-orang terbiasa mengejek dan beranggapan orang yang sendiri itu tak punya teman atau pasangan, dibully, dan bisa  jadi orang yang bodoh.

Pertemanan memang sebuah ikatan sosialisasi manusia dengan manusia, berinteraksi, mengungkapkan pendapat dan sebagainya karena kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain.

Tiap manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda hingga dalam pertemanan setiap manusia mencari keserasian dalam membentuk sebuah kubu yang dimana sehati. Dan bagaimana dengan orang yang sendiri belum menemukan keserasian dalam sebuah pertemanan bahkan orang sendiri berfikir tak penting mencari keserasian tapi yang terpenting adalah saling melengkapi dan berteman dengan siapapun tanpa saling menjatuhkan. Dan orang sebaik itu justru yang selalu menjadi korban yang diasingkan. Manusia hanya butuh dengan diluar sesamanya (sehati) ketika dia dalam kesulitan.

Kesendirian ini memang dipandang sebelah mata, padahal kesendirian itu memiliki pemikiran yang bebas dimana dia tidak terikat dan mudah bergaul. Dan orang lain menjiplak seseorang saat tak sengaja mereka sedang dalam kesalahan dan kelupaan. Sehingga enggan lagi berkawan dengannya. Lalu seiring berjalannya waktu, lingkaran pertemanan yang tadinya begitu banyak dalam masa kanak-kanak, menjadi sempit hanya 3 ataupun 2 orang bahkan sama sekali tidak punya. Menjadi suatu permasalahan dalam pribadi manusia itu.

Berbeda dengan zaman modern ini, manusia lebih asyik dengan gawai yang ada dalam genggaman tanganya dan mudah sekali  berselancar dengan jari-jarinya mulai dari chatting, berjualan, video call dari jarak jauh yang mudah sekali bersilaturrahim antar sesama manusia dengan sangat cepat dan hilangnya rasa kerinduan jarak jauh yang membuat kita semakin dekat dengan perantara gawai kita

Ketika manusia diberi kemudahan dalam teknologi canggih ini yang bernama  gawai membuat kita malah enggan untuk berkomunikasi dalam memperluas jaringan pertemanan antar sesama manusia. Terkadang dalam dunia whats up ada yang menghilangkan centang birunya yang membuat si pengirim menunggu jawaban si penerima yang entah telah dibacanya maupun belum. Adapun  ketika manusia mencoba cari perhatian untuk berdiskusi maupun berinteraksi justru melebihi ketidaknyamanan dari hilangnya centang biru yaitu hanya sekadar di read tanpa membalas. Dan hatipun semakin nyesek dibuat oleh manusia medsos ini. Tanpa mempedulikan dan menyadari  bahwa telah melukai perasaan oranglain.

Keadaan yang seperti ini dalam dunia maya juga mempengaruhi buruknya komunikasi di dunia nyata.

Orang lain lebih mengedepankan dirinya sendiri dalam mencapai tujuan untuk memperluas jaringan pertemannya  tanpa mempedulikan disekelilingnya yang ingin sekali berkawan dengannya maupun bekerja sama dalam menuju kesuksesan dan juga yang membutuhkan pertolongannya. Tanpa mereka sadari pemahaman antar manusia dalam interaksi itu penting untuk mengetahui alasannya dan tujuan mereka dekat dengan kita, sebelum menghilang tanpa kabar.

Maka dari itu kesendirian yang paling utama adalah kita dekatkan diri kepada Tuhan yang maha Esa karena dialah yang mengatur semua makhluknya melalui hati setiap manusia kerena Allah lah yang membolak balikan hati manusia. Dan janganlah khawatir ketika hubungan mu dengan tuhan baik maka hubungan sesama manusia pun kau juga mudah mendapatkannya. Bahkan Allah akan memepertemukan orang-orang baik buat kita setelah kita memahami betul alasan Allah mempertemukan dengan orang-orang sebelumnya sebagai hikmah bahwa pertemanan bukan sebuah keabadian melainkan hanya sebuah perantara yang tak lain bisa menyesatkan maupun dalam jalan yang benar. Sehingga ada sebuah pernyataan bahwa lihatlah manusia itu dari kawan dekatnya/ sahabatnya karena kepribadiannya tak jauh dari teman dekatnya. Dari sinilah begitu penting dalam memilih teman, bukan sekedar teman dalam kesenangan belaka namun teman yang bisa mengajak kita dalam kebaikan hingga menuju surganya yang satu-sama lain saling mengingatkan apa adanya tanpa menjatuhkannya aibnya di muka umum.

Dan biarkanlah ketika dirimu dalam kesendirian selain tidak ada yang peduli dan juga tak ada yang mau diajak sukses bersama dalam memajukan potensi diri. Tapi lakukanlah dan berjuanglah semampu yang kau bisa dengan kesendirianmu terus berkawan tanpa memandang bulu dan ikutilah komunitas yang tak lain kau akan menemukan sebuah persaudaraan dengan sendirinya melebihi dari pertemanan yang ada, untuk membangkitkan semangat perjuangan untuk mensejahterakan manusia dalam membentuk persatuan umat. karena Allah bersama orang-orang yang sabar yang mau berjuang diatas kepentingan orang lain dari pada kepentingan pribadi.

Dengan demikian sebaik-baiknya pertemanan adalah yang berhubungan baik dengan Tuhannya dengan mempererat hubungan silaturrahmi dan buku bacaan yang menjadi ladang Ilmu Pengtahuan yang dapat meningkatkan wawasan sebagai bentuk kebutuhan aktivitasnya untuk memajukan peradaban dirinya sendiri maupun bangsanya.

Siapakah Lafran Pane dalam sebuah novel “Merdeka Sejak Hati” karya Fuadi.

Holla sobat literasi, !! kali ini saya ingin berbagi cerita sosok Lafran Pane yang telah ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Tahun 2017 oleh Presiden RI Joko Widodo pada tanggal 9 November . Dan kini biografinya telah dibentuk dalam sebuah novel terbaru yang berjudul ” Merdeka Sejak Hati” Karya Fuadi. Awalnya memang sangat membingungkan dengan judulnya, dengan kebingungan itu pula, saya pun akhirnya datang ke lokasi dimana Launching buku terbarunya itu yang bertempat di Perpustakaan Nasional yang ada di Jalan Medan Merdeka Selatan Jakarta, pada Minggu, 28 Juli 2019.

Novel “Merdeka Sejak Hati” secara simbolis diserahkan oleh Direktur Kelompok Penerbitan Kompas Gramedia Suwandi S Brata kepada Fuadi.

Bang Fuadi ini juga mengungkapkan bahwa dia sangat berterima kasih kepada Orang-Orang yang mengenal Lafran Pane entah dari Sanak Keluarga Pane, maupun organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) beserta KAHMI ( Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) . yang telah banyaknya menceritakan kisah perjalananannya dari kecil hingga akhir hayatnya untuk membantunya dalam penulisan novel biografi terbarunya yang dikemas menjadi cerita inspiratif novel non fiksi yang sangat menarik. walaupun harus dibutuhkan data-data yang kuat untuk menceritakan siapa sosok Lafran pane itu yang jarang dikenal orang banyak. Namun alasan lainnya “Novel ini bisa hidup karena sumbangan cerita, ide, catatan, dan kenangan dari banyak orang yang pernah bersentuhan langsung atau tidak langsung dengan almarhum,” Kata fuadi.

Peluncuran novel “Merdeka Sejak Hati” ini dihadiri sejumlah tokoh HMI. Salah satunya Ketua Dewan Penasihat Majelis Korps Alumni HMI (KAHMI) Akbar Tandjung.

Lalu Akbar tandjung mengatakan, film tentang Lafran Pane ini rencananya akan tayang perdana pada Maret 2020 setelah peluncuran Novel “Merdeka sejak Hati”.

Sejarah Singkatnya :

Prof. Drs. Lafran Pane lahir di Padang Sidempuan5 Februari 1922 – meninggal 25 Januari 1991 pada umur 68 tahun) dikenal sebagai salah satu pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada tanggal 5 Februari 1947. Perihal perannya dalam HMI, Kongres XI HMI tahun 1974 di Bogor menetapkan Lafran Pane sebagai pemrakarsanya berdirinya HMI dan disebut sebagai pendiri HMI.

Lafran Pane adalah anak keenam keluarga Sutan Pangurabaan Pane dari istrinya yang pertama, Lafran adalah bungsu dari enam bersaudara, yaitu: Nyonya TaribSanusi PaneArmijn PaneNyonya Bahari SiregarNyonya Hanifiah, Lafran Pane, dan selain saudara kandung, ia juga memiliki dua orang saudara tiri dari perkawinan kedua ayahnya, yakni: Nila Kusuma Pane dan Krisna Murti Pane. Ayah Lafran Pane adalah seorang guru sekaligus seniman Batak Mandailing di Muara SipongiMandailing Natal. Keluarga Lafran Pane merupakan keluarga sastrawan dan seniman yang kebanyakan menulis novel, seperti kedua kakak kandungnya yaitu Sanusi Pane dan Armijn Pane yang juga merupakan sastrawan dan seniman. Sutan Pangurabaan Pane termasuk salah seorang pendiri Muhammadiyah di Sipirok pada 1921. Sedangkan Kakek Lafran Pane adalah seorang ulama Syekh Badurrahman Pane, maka pendidikan keagamaannya didapat sebelum memasuki bangku sekolah.

Pendidikan sekolah Lafran Pane dimulai dari Pesantren Muhammadiyah Sipirok (kini dilanjutkan oleh Pesantren K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Setia dekat Desa ParsorminanSipirok. Dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah Lafran Pane ini mengalami perpindahan sekolah yang sering kali dilakukan, hingga pada akhirnya Lafran Pane meneruskan sekolah di kelas 7 (Tujuh)di HIS Muhammadiyah, menyambung hingga ke Taman Dewasa Raya Jakarta sampai pecah Perang Dunia II, pada saat itu ibu kota pindah ke Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Islam (STI) yang semula di Jakarta juga ikut pindah ke Yogyakarta. Wawasan dan intelektual Lafran berkembang saat proses perkuliahan yang membawa pengaruh pada diri Lafran Pane yang ditandai dengan semakin banyaknya buku-buku Islam yang ia baca. Sebelum tamat dari STI, Lafran pindah ke Akademi Ilmu Politik (AIP) pada April 1948 Universitas Gajah Mada (UGM) yang kemudian di Negerikan pada tahun 1949. Tercatat dlam sejarah Universitas Gajah Mada (UGM), Lafran Pane termasuk salah satu mahasiswa yang pertama kali lulus mencapai gelar sarjana,yaitu tanggal 26 Januari 1953. Dengan sendirinya, Drs. Lafran Pane menjadi salah satu sarjana ilmu politik pertama di Indonesia, selanjutnya Lafran Pane lebih tertarik di lapangan pendidikan dan keluar dari Kementerian Luar Negeri dan masuk kembali ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kehadiran HMI di awal kemerdekaan Indonesia bukan semata-mata menggalang kekuatan intelektual Muslim untuk membela Republik Indonesia, tetapi Juga menjadi legitimasi penerimaan Pancasila sebagai ideologi negara oleh kalangan Islam.

Menurut mantan Ketua Umum PB HMI 1976-1979 Chumaedy  Syarif  Romas kehadiran HMI menjadi semacam sintesis aliran-aliran pemikiran masyarakat Indonesia saat itu, baik sintesa Nasionalisme dan Islamisme, maupun kelompok-kelompok dalam Islam itu sendiri yang beraneka ragam.

Lafran Pane yang lahir dari keluarga nasionalistik dan muslim berkontribusi kuat bagi pemikiran, dan kehidupan pribadinya. (Romas, 2009). Kesadaran berjamaah, berorganisasi dan mendirikan HMI berpijak pada sintesa antara kesantrian dan nasionalisme. Antara keduanya dicobanya untuk dikonstruksikan secara ideologis dalam wadah HMI.

Dari sini tampak betapa pemikran Lafran Pane telah mendahului jamannya, yang di kelak kemudian hari, saat dimana ideologi Pancasila dalam beberapa momen dipertanyakan kembali, HMI kokoh pada pijakan ideologis saat berdiri: membela Republik Indonesia berdasarkan Pancasila.

Semangat intelektualitas Lafran Pane ditunjukkan dengan sifat konsisten yang tak tergoyahkan bila yakin bahwa argumentasinya benar. Tidak pandang lawan debatnya pimpinan, kawan, mahasiswa, atau kader HMI sendiri, ia akan katakan tidak kalau bertentangan dengan keyakinan kebenaran dirinya.

Di tahun 1970, saat ia menerima gelar profesor, dalam pidato pengukuhannya Lafran melawan arus utama saat itu dengan mengatakan bahwa UUD 1945 bisa diubah. Padahal, rezim Suharto mensakralkan UUD 1945 dan mendoktrin masyarakat bahwa UUD 1945 tidak bisa diubah.

Yang tak pernah terlupakan dari orang-orang yang mengenalnya adalah, ia hidup dalam kesederhanaan total; di rumah, di tempat kerja, dan dalam pergaulan sosial.

Ia menolak semua pemberian dari kader-kadernya yang telah hidup sukses secara ekonomi. Ia tolak tawaran mobil, rumah, uang, dengan alasan apapun dsn dari siapapun.

Penulis orang yang beruntung bisa mengenal dan beberapa kali bercakap dengan sosok religius ini. Sebagai guru besar ia ke kampus atau kemana-mana naik sepeda angin. Bajunya, sepatunya, kaca matanya, itu-itu saja. Bahkan hingga meninggal, ia masih di rumah dinas IKIP Yogyakarta tempat ia mengabdi sebagai PNS.

Ia teladan kehidupan. Ia model cendekiawan ideal yang dibutuhkan bangsa yang masih terbalut kemiskinan akut. Dalam buku karya Hariqo WS :“Lafran Pane..”, 2009, misalnya seorang kadernya bertutur saat akan dilantik menjadi anggota Dewan Pertumbangan Agung, menolak menerima fasilitas jas baru. Alasannya, bekerja belum, mengapa sudah menerima jas baru.

Bahkan, penetapan dirinya sebagai Pendiri HMI di masa kepengurusan PB HMI di bawah Akbar Tanjung sempat ditolak dengan alasan perbuatan “riya”. Namun atas dasar kemaslahatan Organisasi, akhirnya ia menerima dengan terpaksa penetapan Lafran Pane sebagai pendiri HMI.

Baginya Indonesia ke depan harus Indonesia yang bebas dari feodalisme, bersendikan moral agama, bebas korupsi kolusi dan nepotisme. Untuk mewujdkan hal itu, para pemimpin harus menjadi teladan hidup sederhana, menjauhi aji mumpung, apalagi melakukan tindakan tercela.

Sehingga apa yang di maksud dalam novel “Merdeka Sejak hati” dengan maksud Memerdekakan manusia adalah membebaskan mereka dari penghambaan terhadap apapun, termasuk penghambaan kepada sesama manusia dan seluruh materi. Merdeka adalah menunggalkan penghambaan hanya kepada Tuhan semesta, membebaskan manusia dari dunia yang sempit menuju dunia yang luas, serta dari kesewenang-wenangan dalam pandangan penulis.

Seketika dalam acara tersebut, Berkisah tentang kehidupan Lafran Pane sejak mula lahir hingga akhir hayatnya, A. Fuadi tanpa terkesan menggurui secara piawai merunut cerita yang mendefinisikan kemerdekaan, didasarkan pada fase umur. Di kala Lafran kecil lebih memilih kehidupan, tinggal di rumah nenek dari ayah bersama kakak perempuannya Salmiah, daripada tinggal di rumah mewah Nenek Siregar, Lafran tak menginginkan kehidupan dengan banyak aturan dan tata tertib. Ia ingin bebas.

Dari gambaran sejarahnya Kita yang harus terus menerus dicari, bukan sekadar untuk mengenang kehidupan Lafran tempo dulu, tetapi untuk menghadirkan sekolah yang lebih ramah dan membebaskan bagi generasi Indonesia Merdeka, hari ini dan esok.

Lafran kecil, sebagai orang yang meneguhkan sikapnya untuk merdeka bahkan rela mengorbankan materi dan kemewahan yang disediakan keluarganya, demi sebuah kemerdekaan, bukan pula manusia yang secara liar tak mau diatur. Terbukti di tempat latihan tinju, ia secara sukarela mengikuti aturan untuk disiplin berlatih, bahkan di jalanan yang bebas, ia tetap memegang teguh nilai dan prinsip untuk tidak bertaruh saat bermain kartu, tetap membaca dan menjalankan ajaran-ajaran agama, sebagaimana nasihat nenek dan guru mengaji yang terus diingatnya.

Lewat novel Merdeka Sejak Hati, A. Fuadi menitip makna merdeka bagi setiap orang lewat sosok Lafran. Merdeka adalah bila sudah bisa berdiri sendiri, lepas dari tuntutan apapun, tidak terikat atau tergantung pada pihak mana pun, bersifat leluasa, yang terletak pada kedalaman hati manusia. Setiap orang yang berhasil menjaga hatinya dari niatan tidak baik –keserakahan, kerakusan, dendam kesumat, dan kebencian– tetapi membiarkan diri dikuasai oleh cinta kasih, kepedulian dan pengorbanan adalah manusia merdeka. Ketika dia telah mencapai jati dirinya sebagai manusia merdeka itu, maka barulah dia bisa memerdekakan orang lain seperti dirinya sendiri.

Novel ini sendiri berlatar Indonesia sejak dijajah Belanda, dikuasai Jepang, proklamasi kemerdekaan, kembali ingin dikuasai sekutu hingga konflik antarbangsa sendiri, bercerita tentang pergolakan dan pergerakan Lafran Pane yang berjuang untuk merdeka dengan cara berbeda dari kakak-kakaknya, Armijn Pane dan Sanusi Pane.

Maka novel ini secara gemilang berhasil menghadirkan sosok teladan yang semakin langka kita temui di negeri ini. Menemani kita untuk melakukan pencarian dan menemukan makna kemerdekaan sejati, sekaligus secara khusus mengajarkan kepada kader-kader HMI untuk mengoreksi dan mendefinisikan ulang makna independensi etis mereka sebagai kader, sebagai muslim, sebagai mahasiswa, dan sebagai warga negara Indonesia. Mestinya, cita keislaman dan keindonesiaan meniscayakan mereka untuk tidak berjarak dengan masjid dan tradisi intelektual.

Sumber : https://megapolitan.kompas.com/read/2019/07/28/16410431/kisah-pendiri-hmi-lafran-pane-akan-difilmkan-tayang-maret-2020 , https://news.detik.com/kolom/d-4622569/menjadi-manusia-merdeka?_ga=2.227471005.1202644125.1564834075-952436374.1564834075 , https://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/11/08/oz35dj396-mengapa-lafran-pane , https://id.wikipedia.org/wiki/Lafran_Pane .

Sejarah Ejaan yang Berlaku di Indonesia

Ejaan yang dipakai di Indonesia ada 4 macam.

  • Ejaan Van Ophuysen (1901-1947)
  • Ejaan Soewandi (1947-1972)
  • Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) 1972-2015
  • Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PEUBI) tahun 2015.Pada tahun 1901,ejaan bahasa Melayu, dengan huruf latin atau van ophuysen ditetapkan.

Ejaan ini dirancang Ch. A. Van Ophuysen dibantu Engku Nawawi gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Ada 3 hal yang menonjol dalam ejaan ini yaitu

  • 1.Menuliskan huruf y (saat ini) digunakan j. Contoh : jang, pajah, sajang.
  • 2. Menuliskan huruf u (saat ini) digunakan oe. Contoh : ataoe, itoe, oentoeng.
  • 3. Penggunaan kata diaktrik, yaitu tanda tambahan dalam huruf, misal kima ain. Contoh : ‘akal, sa’at, ta’at.

Tanggal 19 Maret 1947 secara resmi Ejaan Van Ophuysen diganti oleh Ejaan Soewandi yang juga dikenal dengan Ejaan Republik.Beberapa hal yang menonjol dalam ejaan ini yaitu

  • 1. Huruf oe diganti dengan u.
  • 2. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k. Contoh : rakyat,maklum,tak.
  • 3. Kata ulang boleh ditulis angka dua. Contoh : bapak2, undang2, sama2.
  • 4. Penulisan kata depan di- maupun awalan ditulis serangkai atau tidak dibedakan. Contoh : dirumah, dipantai, ditulis, ditanam, digendong.

Pada akhir 1959 sidang keputusan Indonesia dan Melayu, yang masing-masing diketuai Slamet, Mulyana dan Syeh Nasir bin Ismail menghasilkan ejaan bersama. Ejaan ini kemudian dikenal dengan Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Akan tetapi, perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya membuat ejaan ini dibatalkan dan tidak diberlakukan.

Pada 16 Agustus 1972, berdasarkan keputusan Presiden No 57 tahun 1972, ditetapkan ejaan baru bahasa Indonesia yang dinamakan EYD.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 27 Agustus 1975 Nomor 0196/U/1975 memberlakukan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” dan “Pedoman Umum Pembetukan Istilah”.

Pada tanggal 12 Oktober 1972,yang kemudian panitia pengembangan bahasa Indonesia Departemenn Pendidikan dan kebudayaan menerbitkan buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yanh Disempurnakan”, dengan penjelasan kaidah yang lebih luas.

Pada Tahun 1987, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0543a/U/1987 tentang penyempurnaan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Pada 2009, Menteri Pendidikan Nasional Mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yanh Disempurnakan. Dengan dikeluarkannya peraturan menteri ini, maka EYD edisi 1987 diganti dan dinyatakan tidak berlaku lagi.

Permendiknas Nomor 46 tahun 2009, ternyata hanya berumur lebih kurang enam tahun. Pada tanggal 30 November 2015 terbit permendikbud No 50 tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PEUBI).

Daftar Pustaka:

Sugiarto, Eko. 2017. KITAB PEUBI. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Pengaruhnya Bahasa dalam Berdakwah

Pada zaman modern ini, Indonesia sedang maraknya dalam kegiatan berdakwah baik di dunia maya maupun dunia nyata. Selain itu juga pendakwah di Indonesia juga semakin bertambah, bahkan, ada juga sebagian orang yang berdakwah tanpa didasari ilmu agama yang memadai. Sehingga banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan maupun saling tuduh-menuduh bahwa merasa dirinya yang paling benar, dan orang-orang yang masih awam, telah menelan ilmu-ilmu tersebut secara mentah-mentah tanpa di tabayun terlebih dahulu kebenarannya, yang kini lebih sering di temukannya berita bohong atau hoax. Terlebih lagi, sebagian orang yang ikut turun berdakwah dalam bidang politik, yang juga kurangnya ilmu perpolitikan dapat berakibat fatal di antaranya, dapat merusak citra seorang pendakwah itu sendiri. Karena dalam berdakwah itu tidak hanya dalam segi beragama tetapi bisa dalam segi lain sesuai kemampuan dalam bidang yang dimilikinya.

Adapun manusia yang berdakwah sesuai fakta yang terjadi, namun dalam penyampaiannya kurang memperhatikan segi peserta, kondisi negara, maupun bahasa yang digunakan tidak sampai pada tujuan yang diharapkannya. Sehingga membuat orang lain yang menyimak dapat berakibat  salah  pemahaman dalam menafsirkan perkataan pembicara yang tidak salah sangka. Selain itu juga orang yang berdakwah pun bisa jadi tersangka akibat apa yang disampaikanya dapat membuat orang sesat ataupun terjadi fitnah. Karena ketidaktepatannya dalam  berbahasa ketika menyampaikan maupun berbagi informasi atau ilmu yang dimilikinya dari apa yang diterimanya informasi tersebut tanpa pemahaman yang mendalam, walaupun ada sebuah kutipan  yang menyampaikan satu ayat al- quran saja kau ajarkan kepada orang lain, maka kamu  akan mendapatkan satu kebaikan. Namun dilakukannya dengan niat lillah, In syaa Allah kebaikan itu juga akan berbalik pada diri sendiri juga, asalkan apa yang telah diterimanya menganai informasi dari channel media sosial maupun website lainnya harus di teliti dulu kebenarannya, karena tidak hanya orang lain saja yang merugi melainkan diri sendiri, serta pertanggungjawaban di hadapan Allah atas hal-hal yang telah  dipublikasikan dari informasi yang tidak tepat kepada orang lain atau tidak sesuai dengan faktanya dapat berakibat sebaliknya bukan pahala kebaikan yang dimiliki melainkan dosa jariyah atas kebohongan sesama manusia disebabkan oleh perbuatannya sendiri.

Dalam hal ini, sesuatu ilmu yang dimiliki ada baiknya lebih dahulu mengamalkannya pada diri sendiri sebelum mendakwahi orang lain. Jika diri ini sudah mampu menjalani sesuatu ilmu yang dimiliki biarpun masih berusaha menjadi seorang yang baik, tidak masalah berdakwah kepada orang lain,  asalkan niat  ikhlas karena Allah dan terus berniat untuk memperbaiki diri sendiri karena berdakwah itu mengamalkan segala ilmunya yang dimiliki seseorang yang di mana juga sebagai mendakwahi dirinya sendiri dan menerapkan ilmu-ilmu yang dimilikinya. Sehingga semua itu, harus didasari dalam sebuah penyampaian berbahasa yang benar dalam kegiatan penyampaian pesan-pesan atau seruan agama kepada pemeluknya, baik secara lisan maupun secara tertulis, agar pemeluk agama bersangkutan dapat mengambil hikmah dan menaati aturan agamanya, dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti, bukan mengada-ngada, yang dapat membuat orang lain ragu-ragu untuk menelan pengetahuan dalam dakwah itu. Karena dalam berdakwah itu bukan mengajak orang lain secara paksa melainkan dengan meberikan bukti yang nyata akan sesuatu hal yang benar dengan kesantunan dan kelembutan dalam mengajak orang lain agar orang lain pun tidak merasa terpaksa untuk mengikuti kajian –kajian dakwah, dalam upaya penyebarluasan seruan agama kepada pemeluknya tidak dapat lepas dari bahasa sebagai medium utamanya, seperti mengajak orang non islam untuk masuk agama islam dengan keyakinan yang sudah dipercayainya apa yang didengar,dilihat, maupun didasari oleh keluluhan hatinya sendiri, yakin bahwa islam suatu agama yang tepat untuk dirinya atas pengaruh para pendakwah, baik ceramah yang dia dengar, maupun dari kerabatnya yang beragama islam, ataupun dari artikel-artikel informasi yang terdapat dalam google, yang menjadikan dirinya semakin yakin untuk menjadi seorang mualaf

Selanjutnya, dalam pemaparan penggunaan bahasa  dalam penyampaian itu sangat berperan dalam menentukan keberhasilan dakwah. Sebagai gambaran, dapat dilihat dan diamati bagaimana para da’i kondang, seperti Zainuddin MZ, Abdullah Gymnastiar, Arifin Ilham, dan Jefri Al-bukhari dalam meyampaikan pesan-pesan kebenaran dalam agama islam. Mereka semua tentu saja berupaya mengemasnya dengan bahasa yang menarik dan dengan gaya masing-masing.  Karena saat ini, banyak orang berbondong-bondong untuk ikut hadir dalam sebuah kajian baik anak muda sekarang lebih tertarik kepada gaya penyampaian dakwah Ustad Hanan Attaki, yang sesuai dengan keadaan zaman milenial maka digunakanlah bahasa gaul yang dapat menarik perhatian mereka maupun isi penyampaian yang disesuaikan dengan keadaan remaja saat ini. Lalu di  kalangan orang tua lebih senang kepada gaya penyampaian dakwah Aa Gym (Abullah Gymnastiar), adapun di semua tingkatan usia menyenangi gaya penyampaian dakwah Ustad Abdul Somad, dan lain-lain. Perbedaan itu lebih dikarenakan oleh teknik pemanfaatan bahasa yang bermacam-macam. Keberhasilan mereka dalam menarik perhatian khalayak tentu saja tidak dapat dipungkiri. Semua itu karena kelihaian mereka dalam “memainkan” bahasa.

Seorang pendakwah juga selain memainkan bahasa harus pandai melihat situasi yang melatari dari keadaan para pendengar/khalayak. Situasi itu meliputi lokasi, kondisi lingkungan, waktu, dan sarana yang akan digunakan, agar mampu mempengaruhi khalayak secara efektif. Diantaranya dengan memilih materi dakwah harus aktual, yang dapat menyentuh khalayak, mengumpulkan bahan pembicaraan dengan mengumpulkan harus benar-benar terpercaya dan didukung oleh bukti-bukti yang kuat, dan yang terakhir membuat kerangka uraian agar sesuatu yang sudah direncanakan atau diorganisasikan dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik daripada yang tidak direncanakan lebih awal.

Ketika khazanah dalam berbahasa sudah baik serta mengenal situasi dan kondisi sebelum berdakwah tapi ada yang lebih utama sebagai seorang pendakwah itu harus memiliki akhlak. karena akhlak ini sangat berpengaruh juga dalam medan dakwah. biasanya orang lain selain melihat penampilan seorang pendakwah, juga melihat sikap dan perilaku pendakwah tersebut sehingga selain memiliki pengetahuan intelektual juga menjaga sikap dengan berakhlak terpuji seperti lemah lembut,tersenyum,sabar, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah dengan berakhlak mulia dalam berdakwah. Sebab akhlak mulia yang dimiliki Rasulullah membuat banyaknya para pengikut yang berbondong-bondong untuk memeluk islam, dan penyebaran agama islam pun semakin meluas. karena sikap dan perilaku beliau  yang  sungguh terpuji. Hal lainnya juga dengan memadukan riset berita dan literasi isu keumatan melalui buku bacaan dengan mengkaji secara dalam buku-buku agama  maupun ilmu pengetahuan lainnya, salah satunya  agama islam harus di kaji secara mendalam yang digunakan sebagai pendoman dan sudut pandang hidup yang holistik.

Dengan begitu, dakwah sebagai sarana pengembangan dan pembinaan bahasa, misalnya bahasa Indonesia. Dalam kegiatan dakwah sebaiknya digunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan bahasa Indonesia secara asal mestinya dihindari. Kesalahan berupa penggunaan kata depan, pilihan kata, pelafalan, dan kata-kata berlebihan, mestinya tidak dianggap mudah. Namun demikian, karena pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia, maka ada baiknya dalam berdakwah perlu diperhatikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal itu sangat mempengaruhi cerminan sikap positif terhadap bahasa Indonesia terhadap para pendakwah itu sendiri, bahwa sikap positif terhadap bahasa Indonesia adalah sikap penutur bahasa Indonesia yang setia, bangga, dan sadar akan norma bahasa Indonesia.

“Mengenal Goenawan Mohamad Melalui Karyanya: Catatan Pinggir dan Sajak Puisi”

Goenawan yang lahir di Karangasem, Batang pada tanggal 29 Juli 1941. Seorang Jawa Pesisir Utara, dengan memiliki keluarga sebagai penganut agama Islam yang terbuka. Ayahnya juga merupakan seorang tokoh pergerakan di kotanya, oleh karena itu ayahnya dapat memberi fasilitas bacaan yang memadai untuknya. Goenawan sejak kecil sudah menjadi kutu buku. Kemudian Goenawan menikah dengan seorang perempuan bernama Widarti Djajadisastra dan dikaruniai dua orang anak, yaitu Hidayat Jati dan Paramitha. Selepas SMA, Goenawan melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, tahun 1960—1964. Pada tahun 1965 hingga 1966,

 ia mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan di College D’Europe, Brugge, Belgia.Lalu melanjutkannya di Universitas Oslo, Norwegia, tahun 1966. Tak sampai disitu perjuangannya menuntut ilmu,Goenawan  kembali mendalami pengetahuan di Universitas Harvard tahun 1981 hingga 1990 . Karena perhatiannya  lebih tertarik pada masalah masyarakat, kebudayaan, dan sastra, hingga Goenawan pun tidak pernah memperoleh gelar dari pendidikan tingginya itu. Goenawan Mohamad mulai menulis ketika bersekolah di SMA dan menerjemahkan pertama kalinya sajak Emily Dickinson yang dimuat pada Harian Abadi tahun 1960-an. Goenawan juga merupakan salah seorang konseptor Manifes Kebudayaan bersama Wiratmo Soekito, Trisno Soemardjo dan H.B. Jassin.

Dalam mengenal sebuah karyanya,Goenawan memulai karierenya dengan menulis yang dimana ikut mengumpulkan puisinya dalam kumpulan puisi Manifestasi yang diterbitkan dalam rubrik kebudayaan Harian Abadi. Salah satu diantara karyanya yang telah terkumpul berupa puisi yang  memuat sebagai pengisi ruang “Kebudayaan” Manifestasi, antara lain puisi Taufiq Ismail, M. Syaribi Afn, Armaya, dan Djamil Suherman. Pada tahun 1971,barulah terbit kumpulan puisi Parikesit yang disusul dengan penerbitan Interlude tahun 1973. Selanjutnya, ada  kumpulan puisi Asmaradana tahun 1992. Kreativitasnya selalu terukir hingga tahun 1998, terbit kumpulan puisinya berjudul ‘Misalkan Kita di Sarajevo’ yang mengungkapkan rasa simpati dan keprihatinannya terhadap nasib orang-orang Bosnia.[1]

Selain itu, catatan pinggir ini merupakan sebuah hasil karya yang telah diterbitkan setiap pekannya di majalah tempo. Catatan pinggir merupakan buah karya yang sangat popular saat itu , karena pemilik sebuah karyanya yang bernama lengkap Goenawan Soesatyo Mohamad telah menampakkan dirinya sebagai sastrawan dan budyawan Indonesia , bahwa Goenawan yang biasa dipanggil dengan GM ini adalah seorang penyair,esais,dan intelektual publik. Sehingga pengalamannya memberikan karakteristik tulisan pada setiap karyanya menjadi semacam senandung,yang tidak hanya menyimpulkan sikap personalnya menghadapi pilihan-pilihan susah di masyarakat, tetapi membuka jalur alternative lain yang barangkali bisa ditemukan dengan mendalami  pilihan-pilihan yang ada.Dan GM merupakan seorang pendiri  majalah tempo (1971-1998) dan sekaligus pemimpin redaksi tempo. Keaktifannya dan keahliannya dalam menulis, membuat dirinya, semakin berkembangnya bisnis majalah tempo seperti dalam laman perusahaannya. Perjalananan yang mengawali kariernya sebelum menjabat sebagai pemimpin redaksi, GM juga pernah menjabat sebagai Redaktur Harian KAMI, Redaktur Majalah Horison, hingga Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres. Kemudian puncaknya bersama kawan-kawannya, dalam mendirikan Majalah Tempo saat itu, yang usianya menginjak umur 30 tahun, maka dikatakan GM  tidak hanya sebagai seorang redaksi majalah tempo namun juga seorang wartawan  yang juga tidak sekedar menulis kegiatan jurnalistik, tapi juga mengakatualisasikan intelektualnya dalam tulisan-tulisan pribadinya dalam bentuk catatan pinggir. Maka goenawan menjadi seorang inspirator bagi wartawan-wartawan muda lainnya.

Majalah Tempo tidak akan selamanya berjalan mulus, tanggung jawab yang harus diembannya sebagai seorang pemimpin redaksi selama dua periode, mengalami sebuah pembredelan  dengan periode pertama dari tahun 1971 hingga 1992 dan setelah pembredelan pada tahun 1994, Tempo terbit kembali pada tahun 1998. Pebredelan itu disebabkan oleh buah karya tulisannya sendiri, yang seringkali mengkritisi rezim Soeharto ketika itu, yang menekan pertumbuhan ekonomi di tanah air. Sehingga tempo, dianggap oposisi yang mampu merugikan pemerintah. Maka tidak heran jika Goenawan dipercaya untuk memimpin kembali hanya setahun, setahun setelahnya, diserahkan kepada Bambang Harymurti. Walaupun demikian, GM dapat memperoleh Anugerah Sastra dan David Prize  dalam menulis kolom di majalah tempo mengenai berbagai agenda-agenda politik di Indonesia.

Pada akhirnya, tempo yang diharapkannya terbebas dari  yang telah terkooptasi rezim Soeharto. Namun sosok Goenawan tidak berputus asa, melainkan bersama para jurnalis muda idealis, ia mendobrak semangat dalam mendorong lahirnya ‘Aliansi Jurnalis Independen’ (AJI). Lalu ia juga mendirikan ‘Institusi Studi Arus Informasi’ (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia Pers Indonesia. ISAI juga melakukan pelatihan bagi para jurnalis tentang tata cara membuat surat kabar berkualitas.

Setelah rezim Soeharto lengser, tempo dapat kembali beroperasi dengan berbagai evaluasi. GM yang pernah menerima penghargaan Louis Lyons dari Harvard University Amerika Serikat ini pun kembali menjabat sebagai Pemimpin Redaksi selama satu tahun hingga 1999. Tak hanya sampai disitu masa kepemimpinannya sebagai seorang redaksi , namun pada tahun 2016, GM masih memangku amanah sebagai Komisaris Utama PT Tempo Inti Media Tbk.

Kesibukannya tidak sebatas aktif di media, tetapi juga aktif di berbagai kegiatan budaya dan seni. Salah satunya, GM mengurus Komunitas Salihara, di sebuah tempat berkesenian di kawasan salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tempat yang juga dijadikan diskusi dengan mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, dan sebagainya.[2]

Setelah masa kepengurusannya di Majalah Tempo telah usai, kemudian GM  melanjutkan kreativitas lainnya di bidang kesenian. Tak sekedar seorang penyair dengan  penggubah ratusan puisi, atau esais yang sabtu-minggu menulis catatan pinggir. Karena catatan pinggir dari buah karya pertama yang ditulis GM yang ada di Tempo merupakan rubrik tetap dan terpanjang yang ditulis oleh satu orang di sebuah majalah, hingga layak masuk rekor dunia Guinness. Rubrik itu hadir sejak 1976 dan terus ada hingga kini. Tulisan di rubrik yang akrab disebut “Caping” itu sudah dibukukan dalam 12 jilid.Namun tak hanya menulis esai pendek di “Caping”. Hasil karya setelahnya juga menghasilkan banyak esai panjang yang juga telah berkali-kali dikumpulkan dalam buku, sejak awal 1970-an. Esai-esai panjang antara lain yang telah dibukukan dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, Kita (1980), Eksotopi (2002), dan Marxisme, Seni, Pembebasan (2011).Serta buku terakhirnya, Si Mejenun dan Sayid Hamid, mengupas novel Don Quixote yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama sejak Maret 2018.

Lalu karya keduanya berupa puisi-puisi yang telah dikumpulkan oleh Ayu Utami dan Sitok Srengenge dengan lengkapnya, mulai disaat Goenawan masih menginjak usia muda yang masih 20 tahun, dapat ditemukan dari tahun 1961. GM sendiri ingat, bahwa ratusan sajak ia hasilkan sejak itu. Sajak-sajaknya dikumpulkan dalam Parikesit (1971), Interlude (1973), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998), Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (2001), Don Quixote (2011), Tujuh Puluh Puisi (2011), dan Fragmen, Sajak-Sajak Baru (2017). Akhirnya kumpulan tulisan sajaknya dalam sebuah esai Catatan Pinggir  untuk dibukukan (sampai jilid kelima oleh penerbit Pustaka Utama Grfiti) dan diterjemahkan ke beberapa bahasa; sehingga beberapa sajaknya menjadi lirik komposisi lagu di Australia.

Selanjutnya karya ketiganya meliputi seni pertunjukan teater dan wayang, keaktifannya juga di seni pertunjukan yang tergabung dalam komponis Tony Prabowo, yang dapat menghasilkan tiga buah opera. Dua di antaranya ditampilkan dalam bahasa Inggris, yang dipertunjukkan pertama kali,dalam pengerjaannya ditahun 1996 lalu direvisi tahun 2003. Naskahnya dipentaskan di Seattle, Amerika Serikat tahun 2001, dan Jakarta pada 2001. Ada The King’s Witch (1997-2000) dipentaskan di New York, Amerika Serikat tahun 1999, dan Jakarta pada 2006. Tahun 2010 dan 2011, bersama Tony ia mementaskan Tan Malaka, sebuah “opera-esai”.Lakon lain yang ditulisnya adalah Visa (dipentaskan 2008), Surti dan Tiga Sawunggaling (2010), Surat-Surat tentang Karna (2011), Gundala Gawat (2013), dan Amangkurat, Amangkurat (2017). Hingga GM  juga menulis teks untuk pertujukan wayang kulit yang dipentaskan Sujiwo Tejo, Wisanggeni pada 1995 dan Alap-Alap Surtikanti yang dipentaskan dalang Slamet Gundono pada 2002. Goenawan juga menulis naskah teater: Surti dan Tiga Sawunggaling, Visa, dan L’histoire du Soldat (yang digubah dari teks C.F. Ramuz-Stravinski). Ia pernah menyutradarai pementasan dua tari, Panji Sepuh dan Dirada Meta, sebuah tari klasik dari Keraton Mangkunegaran dan Goenawan juga salah satu pendiri Koalisi Seni Indonesia.[3]

Selain ahli dibidang teater dan wayang,tidak lupa akan kelihaiannya dalam menulis, dengan menuliskan teks tentang seni tari mengenai ‘Tembang Jawa’ untuk tari Panji Sepuh yang pertama dipentaskan tahun 1994 serta menggarap tari klasik Mangkunegaran, Dirodometo (2009). Kemudian tulisannya mengenai seni tari itu membuat dirinya ingin menambahkan komentar jauh dari rayuan visual, dengan menginginkan para penari  yang dapat menjelma bagai roh orang yang gugur. Sehingga diselaraskan dari tulisannya dalam katalog pertunjukan, “Inilah pentas sebuah ruang minimalis.”

Selanjutnya ada seni lukis buah karyanya yang kelima, ternyata kegemaran Goenawan dalam bidang seni lukis dan menggambar sudah tertanam sejak kecil dari pada menulis.pernyataannya itu terdapat dalam pameran tunggal, ketika lukisan-lukisan karyanya di bulan Mei 2018 itu, terdapat sebanyak 31 pilihan karya lukis yang dipamerkan dalam “The Solo Exhibition of Goenawan Mohamad” bertajuk Warna, yang berlangsung 30 Mei-20 Juni 2018 di Plaza Senayan, Jakarta.[4]

Tidak hanya di tahun sesudahnya tapi juga ditahun 2017, Goenawan Mohamad menggelar pameran tunggalnya yang bertajuk Ke Te-ngah di Kiniko Art Sarang Building, Blok 2, Yogyakarta . Pameran yang berlangsung hingga 30 November 2017 ini dibuka oleh seniman Djoko Pekik dan merupakan rangkaian acara dari pararel event Biennale Jogja XIV – Equator. Pameran ini merupakan awal mulanya, GM mencoba menerjemahkan imaji- imaji puisi ke dalam garis dan warna. Kata yang memanggil benda-benda kini digantikan dengan apa yang muncul dari kuas dan pensil melalui tangannya sendiri. Di pameran ini GM menjelaskan suatu proses  dalam kerja seni rupa, dengan menerapkan pola yang sama dengan caranya menulis sajak. Sajak yang telah dibuatnya tidak dimulai dan dibimbing dari ide, melainkan dari apa yang datang ke dalam pengindraan. Proses ini sering dianggap lebih tepat karena melibatkan apa yang dekat dengan tubuh; gerak tangan, penglihatan, dan warna. Bagi dirinya, kesenian bisa berarti yang dapat menjanjikan hidup yang tidak monoton, doktriner, atau latah. Pameran Ke Te-ngah ini adalah pemenuhan janji tersebut.

Selain Pameran lukisan, Goenawan juga telah melahirkan buah karyanya sebanyak 53 karya sketsa dengan medium tinta dan pensil warna yang ditorehkan pada kertas terpajang di seluruh ruang pamer. Karya-karya ini menangkap objek manusia, hewan dan benda. Objek yang dihadirkan  berasal dari pengalaman dan ingatannya sendiri. Karya-karya ini berangkat tanpa landasan ide, menyiratkan sesuatu yang mengambang tentang sudut pandang terhadap sebuah ingatan. Kecenderungannya  dalam proses berkarya membuatnya menolak konseptualisme ala Sol LeWitt yang menganggap ide sebagai “mesin yang membuat seni”. Baginya, konseptualisme lama-kelamaan justru mengingkari apa yang mereka lahirkan sendiri, sesuatu yang hadir dan mendapatkan respon dalam bentuk-bentuk yang dipersepsikan. Karena dalam sebuah karya sketsanya memiliki keunikan tersendiri yang terlihat berbeda dari sketsa on the spot pada umumnya yang terlihat ekspresif dan emosional, sketsa karya Goenawan lebih terlihat kaku dan dingin. Komposisi objek, penataan tulisan, penempatan serta pemilihan warna mengisyaratkan pada proses yang hati-hati dalam menerawang ingatan ke dalam karya rupa. Sehingga karya lukisnya itu dapat diumpamakan seperti membaca puisi tanpa judul. Menurutnya , cara yang GM lakukan dalam sebuah goresan kuas di setiap  macam warnanya dapat melahirkan sesuatu yang nisbi, karena ada dalam sebuah konstelasi dari pelbagai posisi. Sehingga Kesenian hanya menarik jika yang “pelbagai” itu hidup. Ketika segala aspek pemikirannya terlintas dalam ingatannya, hingga muncul sebuah karya lukisannya dalam bentuk-bentuk deformatif dan vignetis  sepertinya didapat dari bentuk-bentuk patung primitif, wayang, atau pengalaman membaca cerita, legenda, dan mitos dari berbagai suku bangsa, lalu menariknya sebagai miliknya dan mengilustrasikan itu sebagai hal serupa yang berlangsung di sekitarnya.[5]

Bahkan karya-karya Goenawan Mohamad ini sudah sampai ke mancanegara sehingga penghargaannya telah mencapai puncak Internasional. Adapun penghargaan yang pernah diraihnya antara lain Professor Teeuw Award, University of Leiden, Belanda (May 1992); The Louis Lyons Award, Harvard University, Amerika Serikat (May 1997); The International Press Freedom Awards, the Committee to Protect Journalists, Amerika Serikat (November 1998); International Editor of the Year Award, World Press Review, Amerika Serikat (May 1999), dan Khatulistiwa Literary Award, Indonesia’s Best Fiction Award, Jakarta (November 2001).[6].

Dari semua keahlian di berbagai bidang yang telah banyak dikuasainya. Maka tergambarlah sosok Goenawan Mohamad,dalam buku catatan pinggir bagian pendahuluan yang dikutip dalam sebuah tulisan yang berjudul ‘Sebuah Refleksi, dengan Jarak oleh Th.Sumartana, yang mengungkapkan Goenawan Mohamad merupakan tokoh yang tidak mudah terpancing oleh semangat perkelahian,melainkan berseru-seru dalam sebuah tulisannya,saat masa-masa sulit ketika terjadi polemik keras antara Lekra dan Manifes Kebudayaan tahun 1960-an. Selain itu GM memiliki sikap skeptik dengan memberi ruang untuk tidak terjebak dalam dogmatisme dan fanatisme terhadap suatu sikap ataupun ajaran,melainkan bekerja dengan pertanyaan yang selalu melintas dalam pemikirannya. Biarpun demikian GM tetap pada latar belakang dalam sebuah persoalan-persoalan kebudayaan. Namun dalam setiap pergerakan disetiap persoalan-persoalan yang terbentang pelik di kehidupan pers Indonesia,GM tetap berlandasan dalam dataran ide, yang membuatnya  seolah dapat mengatasi dengan sempurna tanpa harus kehilangan yang ideal dipihak lain maupun yang biasa dijalani sesuai batasan-batasan yang ditentukan oleh keadaan yang menunjukkan bahwa dirinya tidak jatuh pada sikap pasrah atau sinisme. Sehingga catatan pinggir ini menuliskan kegunaan serta-merta dari sebuah kegiatan pers demi mengubah masyarakat,tersoroti dengan tajam,yang kemudian munculnya sebuah pertanyaan “bagaimana menumbuhkan dengan sabar  dan kesadaran yang lebih dalam untuk masyarakat?”hingga bingung untuk menerima atau menolak keadaan.

Persoalan ini yang menggambarkan GM sebagai sosok praktis-pragmatis dalam bertindak skeptis yang terkadang menjengkelkan orang,karena ia jauh dari kepentingan praktis.maka semacam itu secara teknis sering disebut sikap seorang “liberal”.yang merupakan pemikiran ulang terhadap kekuasaan dan penggunaan kekuasaan. Jika dilihat dari sisi para pengkritik keadaan,sikap skeptis tergolong sikap ragu terhadap perlunya perubahan. Dan pada akhirnya GM pun menyadari bahwa dirinya telah dilema moral-intelektual. Dalam tulisan catatan pinggir hasil renungannya menjelaskan bahwa sikap skeptisnya tidak dijadinya sebagai sitem,tetapi sebagai cara terbuka untuk mencari pengertian baruyang lebih lengkap tentang kenyataan hidup sehari-hari.lalu dalam hubungan dalam kepenulisannya itu GM banyak memanfaatkan tamsil,ibarat,perumpamaan,cerita sejarah (bahkan juga cerita anak-anak), riwayat para tokoh,renungan keagamaan,serta menimba inspirasi dari berbagai literatur,meskipun jauh dari pretense untuk membuat sebuah karya ilmiah.[7]

Serta dalam sebuah puisinya GM memiliki ciri khas dalam berpuisi dengan imaji dan filosofis. Termasuk puisi ini lebih cenderung pada renungan-renungan kehidupan yang dilatar belakangi oleh nilai-nilai kebudayaan.[8]

Selanjutnya, adanya sebuah kebutuhan refleksi yang menjelaskan bahwan catatan pinggir ini memiliki kesempatan tiap minggunya untuk mengambill jarak terhadap peristiwa-peristiwa penting yang aktual agar dicerna dan direnungkan terlebih dahulu untuk mendalami kandungan makna sebagai kesatuan yang utuh apa yang telah terjadi agar lebih leluasa untuk keinti dalam sebuah permasalahannya.maka itulah kelebihan yang dimiliki dalam buku catatan pinggir edisi pertama ini.dan memudahkan untuk menikmatinya sebagai bagian yang bisa berdiri sendiri dalam suasana yang reflektif. Dengan demikian catatan pinggir ini tidak dapat bekerja secara instant di setiap permasalahannya sehingga tidak dapat memberikan petunjuk apa pun, bahkan tidak mengambil sikap tegas terhadap kesusahan yang ada di masyarakat yang dimana merupakan sebuah kekurangannya yang membuat orang kecewa. Adapun kekecewaan itu sosok GM yang penyabar,tekun dalam menjalankan tugasnya,hingga catatan pinggir dapat dikatakan salah satu karya jurnalisme yang unik di Indonesia. Dengan gaya bahasanya yang imperatif  serta ulasan yang tinggal terbuka. Dengan maksud GM ingin para pembaca catatan pinggir untuk bersikap memberikan komentar yang bersifat “open-ended” tentang apa yang sedang dibicarakan.

Adapun persoalan yang bertindak skeptik, apabila tidak dikembangkan menjadi kritik,keraguan tidak dikembangkan menjadi sebuah pertanyaan,dan pertanyaan tidak digarap lebih lanjut menjadi penyelidikan. Pada titik ini juga ditentukan sikap apa yang akan diambil terhadap informasi. Sehingga memiliki dua penilaian yang pertama seseorang akan bersifat selektif terhadap informasi dan mengambil yang paling relevan untuk masalah yang diselidikinya. Kedua, dia selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan informasi dengan akibat kehilangan kesempatan dan konsentrasi untuk merumuskan masalah yang diselidiki atauun yang dipikirkan.

Dalam hal terakhir  itu pendapat dan sikap penulisnya dinyatakan dengan sangat halus dan tersirat,dengan menyusup aforisme-aforisme yang bijakyang memang didukung oleh teknik naratif dari seorang penulis yang berpengalaman. Hal ini membawa pembaca kepada segi dimana dalam mengemukakan suatu posisi maka penulisnya lebih sering menggunakan teknik persuasi secara estetik daripada mengajak pembaca untuk beragumentasi secara diskursif.

Dengan begitu GM berisiko untuk menulis dengan ajeg,periodik,aktual dan demi melayani kepentingan suatu penerbitan,yang harus sampai ke tangan pembaca pada waktunya. Hal ini dinyatakan dalam sebuah kutipan pendahuluan catatan pinggir edisi kedua oleh Ignas Kleden.[9]

Hal lainnya,agar dapat mengenal Goenawan Mohamad dari karyanya ‘Catatan Pinggir’, telah diungkapkan di sebuah acara yang bertema “Menulis Opini Bersama Goenawan Mohamad” di Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa 30 Maret 2010.  Disana Goenawan bercerita mengenai pengalamannya dalam proses pembentukan karya catatan pinggir itu bahwasannya GM  ketika itu sedang berada di Berlin dengan cuaca disana musim dingin. Orang-orang jarang ada yang keluar. Mereka lebih memilih berdiam di hotel atau di rumah yang nyaman. Perasaanya selalu menghadapi dilema. Hotel tempatnya menginap di Jerman itu tidak dilengkapi fasilitas internet. Padahal  ‘Catatan Pinggir’  harus segera disetor untuk diterbitkan.dengan rasa gundahnya seorang sastrawan dan penyair yang tidak biasa menunda sedikit waktupun untuk tidak menulis.sehingga tidak membuatnya untuk  patah semangat. Bahkan apabila seharipun dia tidak menulis rasa dilemanya akan selalu mengahantui hati,jiwa,dan pikirannya yang sudah menjadi makanan pokok bagi kehidupannya lalu dikatakannya “Jika nekat ingin mengirim Caping (Catatan Pinggir) lewat email, saya harus menempuh jarak 3 km dan melawan dingin, Akhirnya saya tulis Caping dengan SMS”.

Begitu besar perjuangannya dalam menuangkan ilmu-ilmunya dalam hasil karya ciptanya. Selain itu juga GM memberikan sebuah alasan menulis caping itu awalnya hanya sekedar menulis untuk mengisi halaman kosong majalah Tempo. Namun ternyata tulisan itu mendapat respon yang bagus dari pembaca. Lalu esai itu diberi nama Caping.dilanjut lagi dengan menerangkan arti dari sebuah buku Catatan Pinggir itu merupakan terjemahan dari kata marginalia, yaitu catatan , coretan, dan komentar yang dibuat oleh pembaca di margin buku dan  mengaku bukunya selalu jorok, bahwa tulisannya itu begitu penuh coretan dan komentar. Lalu alesan lainnya, mengapa memilih model tulisan esai itu karena ingin mengajak orang berpikir. Dengan mengikuti jejak dari tulisan esai yang diperkenalkan oleh Michel de Montagne pada abad ke-15, berpendapat sebenarnya yang kita ketahui tidak banyak bahkan tidak ada. Sehingga ia mempergunakan esai sebagai percobaan untuk mengajak orang berpikir untuk mendapatkan kejernihan dari kekalutan masalah.Dalam mengakhiri pelatihan penulisan opini itu dengan memberikan sejumlah trik. Bahwa penulis harus tahu siapa pembaca yang ditujunya. Penulis juga harus paham apa yang ditulisnya. Jangan mengkhotbahi pembaca dan percaya akan ada orang yang tertarik dengan tulisan kita. [10]

Dengan demikian hal-hal unik dari seorang Goenawan Mohamad dalam menciptakan karyanya,serta gagasan-gagasan yang luar biasa serta kesehariannya yang selalu dilema akan buah karyanya tanpa mengenal lelah selalu berusaha mebuahkan hasil karya dari pemikiran imajinatif untuk menambah wawasan intelektual, yang dijadikan sebuah tambahan koleksi buku bacaan di Indonesia agar  sejarah masa lalu tak terlupakan untuk genarasi masa depan yang ditulis langsung dari hasil,cipta,karsa dan kreativitas dari sosok sastrawan ternama Indonesia

Daftar Pustaka

Mohamad,Goenawan.Catatan Pinggir 1,Jakarta: PT. Temprint Pusat Data dan Analisa Tempo,2012.

Mohamad,Goenawan.Catatan Pinggir 2,Jakarta: PT. Temprint Pusat Data dan Analisa Tempo,2012.

Ensiklopedia Sastra Indonesia – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian    Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, “Artikel Pengarang Goenawan Mohamad”, dalam http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Goenawan_Mohamad . Diakses Kamis, 4 Juli 2019, pukul 21:38

PT Viva Media Baru, “ Profil Goenawan Soesatyo Mohamad”, dalam https://www.viva.co.id/siapa/read/71-goenawan-mohamad. Diakses pada Kamis, 4 juli 2019,pukul 21:46

Koalisi seni Indonesia,“Goenawan Mohamad”,http://koalisiseni.or.id/tentang-ksi/jawa/goenawan-mohamad/. Diakses Kamis,4 Juli 2019,pukul 22:04.

Irwansyah, Ade (Contributing Writer for Gramedia.com),” Mengenal Goenawan Mohamad Lewat 6 Karya Seninya”, dalam https://www.gramedia.com/blog/profil-buku-goenawan-mohamad-catatan-pinggir-tempo-dan-karya-seninya/#gref. Diakses pada kamis,4 Juli 2019,pukul 22.18.

Sarasvati Art,” Sketsa yang Berpuisi Seorang Goenawan Mohamad”,dalam  https://sarasvati.co.id/exhibition/11/sketsa-yang-berpuisi-seorang-goenawan-mohamad/ Diakses Kamis,4 Juli 2019, pukul 22.59 WIB.

Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Pemprov DKI Jakarta,”GOENAWAN MOHAMAD”,dalam https://jakarta.go.id/artikel/konten/1267/goenawan-mohamad. Diakses Kamis,4 Juli 2019, pukul 22.59 WIB.

Andi Awaluddin,” Jurnal Skripsi Metafora Pada Tiga Puisi Pilihan Goenawan Mohamad (kajian Stilistika)”,dalam http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/5217/1/103056-ANDI%20AWALUDDIN-FITK.PDF. Diunduh kamis,4 Juli 2019.pukul 23:10 WIB.

DetikNews ,“Rahasia Goenawan Mohamad Menulis Catatan Pinggir”,dalam https://news.detik.com/berita/d-1329825/rahasia-goenawan-mohamad-menulis-catatan-pinggir-. Diakses Kamis,4 Juli 2019,pukul 10:09


[1] Ensiklopedia Sastra Indonesia – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, “Artikel Pengarang Goenawan Mohamad”, http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Goenawan_Mohamad . Diakses Kamis, 4 Juli 2019, pukul 21:38 WIB.

[2]    PT Viva Media Baru, “ Profil Goenawan Soesatyo Mohamad”, https://www.viva.co.id/siapa/read/71-goenawan-mohamad. Diakses pada kamis, 4 juli 2019,pukul 21:46 WIB.

[3]  Koalisi seni Indonesia,“Goenawan Mohamad”,http://koalisiseni.or.id/tentang-ksi/jawa/goenawan-mohamad/. Diakses Kamis,4 Juli 2019,pukul 22:04 WIB.

[4] Ade Irwansyah (Contributing Writer for Gramedia.com),” Mengenal Goenawan Mohamad Lewat 6 Karya Seninya”, https://www.gramedia.com/blog/profil-buku-goenawan-mohamad-catatan-pinggir-tempo-dan-karya-seninya/#gref. Diakses pada kamis,4 Juli 2019,pukul 22.18 WIB

[5]  Sarasvati Art,” Sketsa yang Berpuisi Seorang Goenawan Mohamad”  https://sarasvati.co.id/exhibition/11/sketsa-yang-berpuisi-seorang-goenawan-mohamad/ Diakses Kamis,4 Juli 2019, pukul 22.59 WIB.

[6]  Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Pemprov DKI Jakarta,”GOENAWAN MOHAMAD”.https://jakarta.go.id/artikel/konten/1267/goenawan-mohamad. Diakses Kamis,4 Juli 2019, pukul 22.59 WIB.

[7] Goenawan Mohamad,”Catatan Pinggir 1”,(Jakarta: PT. Temprint Pusat Data dan Analisa Tempo,2012), h. xv.

[8]  Andi Awaluddin,” Metafora Pada Tiga Puisi Pilihan Goenawan Mohamad (kajian Stilistika)”. http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/5217/1/103056-ANDI%20AWALUDDIN-FITK.PDF Diunduh kamis,4 Juli 2019.pukul 23:10 WIB.

[9]  Goenawan Mohamad,”Catatan Pinggir 2”,(Jakarta: PT. Temprint Pusat Data dan Analisa Tempo,2012), h. xiii.

[10] DetikNews ,“Rahasia Goenawan Mohamad Menulis Catatan Pinggir” ,https://news.detik.com/berita/d-1329825/rahasia-goenawan-mohamad-menulis-catatan-pinggir-. Diakses Kamis,4 Juli 2019,pukul 10:09 WIB.

Kebahagiaan Orang Berpuasa Dengan Membaca Al-Quran.

Ramadhan adalah bulan yang agung, dilipatgandakan di bulan tersebut (pahala) dan amalan-amalan (kebaikan). Maka wajib bagi kita bagi setiap mukminin untuk bersungguh-sungguh didalam menunaikan ibadah yang Allah wajibkan dan menjauh dari segala sesuatu yang Allah larang. Salah satunya melakukan kewajiban di bulan ini adalah bahwa Allah Swt. Telah menurunkan Al-Quran pada saat malam Lailatul Qadar. Mengapa demikian ? sesuai dalam surahnya Al-Maidah ayat 3 Allah berfirman  yang artinya “pada hari ini telah aku sempurnakan agama islam untuk kalian, telah aku cukupkan nikmatku untuk kalian, dan telah aku ridhai islam sebagai agama kalian,” sehingga Rasulullah mengajarkan pada kita pada bulan Ramadahan untuk lebih memperbanyak bacaan Al-Quran dari bulan lainnya.

Anjuran itu sudah seharusya dibiasakan dari jauh-jauh hari , karena tidak mudah pada bulan suci Ramadhan untuk bisa konsisten ataupun Istiqomah dalam amalan-amalan kebaikan seperti membaca Al-Quran,shalat qiyamullail, Tahajud, Tobat,Taraweh,witir, maupun bertasbih kepada–Nya.  Dengan begitu ada sebuah kutipan dari seorang Ustadz Nuzul Dzikri yaitu  “ persiapan sebelum datangnya bulan Ramadhan itu bagaikan kita menghadapi perlombaan lari marathon” contohnya altlet pelari marathon Indonesia yakni Muhammad Zohri, yang merupakan seorang pelari muda 100 meter Indonesia, yang berhasil meraih mendali emas dan menjadi juara dunia pada Kejuaaran Dunia Atletik Junior 2018 yang berlangsung di Tampere, Finalandia. Dengan catatan waktu 10,18 detik dan telah mengalahkan dua pelari Amerika Serikat. Dimana Muhammad Zohri dari rekan daerah sekitarnya saat diwawancarai menyatakan bahwa zohri sering berlatih di sebuah pantai dengan mengelilinginya sampai beberapa putaran. Ini menunjukkan kesungguh-sungguhannya untuk menjadi sang juara. Bagaimana kita untuk menyambut kedatangan bulan suci ramadhan ? ini sama halnya dengan zohri yang membutuhkan persiapan dari jauh-jauh hari.

Allah telah menetapkan  dua bulan yang dimana untuk kita berlatih sebelum datangnya ramadhan . apa saja dua bulan itu ? ya, pertama bulan rajab dan kedua syaban. Rajab itu bulan yang dianjurkan untuk  melakukan amalan ketaatan dan menjauhi amalan keburukan yang dimana termasuk bulan haram yang dimaksud bulan tersebut apabila mengerjakan amalan keburukan seperti maksiat,zina maupun perbuatan yang dilarang oleh Allah, maka berlipatlah amalan keburukannya dan hilangnya amalan kebaikan. Jadi amalan-amalan kebaikan apapun itu seperti tahajud yang sangat dianjurkan,puasa,maupun mengerjakan shalat sunnah lainnya dengan memohon keridhaan dan ampunannya. Dan amalan kebaikan yang dilakukan pada bulan rajab ini walaupun dianjurkan tapi bukan untuk dijadikan sebagai bentuk amalan-amalan yang dikhususkan pada bulan rajab ini. Waalahu a’lam bisshowab. Kedua adalah bulan syaban, bulan yang dianjurkan untuk banyak berpuasa. Sebagaimana rasulullah mengajarkan yang tertulis dalam sebuah hadist riwayat Al-Bukhari dan Muslim yang artinya “belum pernah Nabi Shallahu alaihi wassalam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan syaban,terkadang hampir beliau berpuasa syaban sebulan penuh.” Maka dari itu sesungguhnya persiapan dalam menyambut ramadhan sudah seharusnya dapat dengan mudah dilakukan tanpa ada yang terbebani maupun terpaksa saat ramadhan. Tapi  seharusnya setelah bekal yang sudah dipersiapan dari jauh hari sebelum kedatangan bulan suci ramadhan kita hanya melanjutkan konsiten dalam mengerjakan amalan yang sudah seiring waktu telah dilakukan dijauh-jauh hari dan memudahkan untuk mendapat ganjaran yang Allah berikan pada malam lailatul qadar dari apa yang sudah di istiqomahkan dari sebelumnya. Dimana saat puncaknya pada malam sepuluh terakhir bulan suci ramadhan , para salafusshaleh terdahulu tidak ingin ditinggal oleh bulan ramadhan sehingga pada malam itu mereka lebih Fastabikul Khairot ( berlomba-lomba dalam meraih kebaikan). Disaat itu pula  seperti Muhammad Zohri  berlomba pada lari marathon yang disandingkan seperti kita mengejar rahmat ampunan dan pahala dari Allah mulai dari awal bulan ramadhan ( garis Start )  hingga puncak malam lailatul qadar menjelang hari kemenangan yakni Idul fitri (garis finish).

Lalu bagaimana kaitannya dengan Al- Quran ?  kaitannya kita dianjurkan untuk banyak membaca Al-Quran dan semangat mentadaburrinya hingga mengulangi khatam Al-Quran setiap saat.  Mengapa demikian ? karena “siapa yang membaca satu huruf dari Al-Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidakmengatakan “alif lam mim “ satu huruf akan tetapi, alif satu huruf, laam satu huruf dan mim satu huruf.”(HR. Tirmidzi). Dengan begitu ramadhan merupakan momen terbaik untuk berubah,Hijrah, untuk menjadi orang yang lebih baik dengan lebih serius lagi menjalankan agama ini. Sebagaimana sabda rasulullah Saw. Yang artinya “tiadalah dunia disbanding akhirat melainkan hanyalah seperti air yang menempel dijari ketika salah seseorang dari kalian mencelupkannya di laut.” ( HR. Muslim).

Sehingga dunia hanya sebuah permainan dan senda gurau dan kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan hanya pada bulan ramadhan dengan berlimpahnya segala kebaikan yang Allah berikan dengan hanya membaca Al-Quran. Serta amalan-amalan lain untuk berserah diri memohon ampunannya. Apakah hal itu harus di sia-siakan? Tentu tidak. Dunia ini hanya sebagai tempat ujian dengan penuh kesabaran dalam menjalankan lika-liku kehidupan yang sementara sebelum memperoleh Jannahnya (surga) . karena para malaikat Allah menyambut kita saat kita dapat melewati semua ujian kehidupan di dunia dengan “Selamat atas kesabaran anda di dunia” hingga memperoleh surganya.  Kesempatan inilah yang Allah berikan kepada kita sebagai seorang muslim untuk berlomba dalam menggapai surganya dengan banyak cara amalan kebaiakan yang dapat dikerjakan dengan memperoleh pahala yang janjikan dibulan ini untuk menambah timbangan amal kebaikan kita di akhirat kelak. Dan surga yang dijanjikan Allah pada saat bulan ramadhan adalah Ar-Rayyan.

Selain dari Surga Ar- Rayyan, ada beberapa keutamaan yang tak kalah penting  yaitu mengkhatamkan Al-Quran dibulan suci ramadhan diantaranya pertama Malaikat Jibril mengajari Nabi  Muhammad Al-Quran setahun sekali dibulan Ramadhan kedua pada tahun wafatnya Rasulullah, jibril mengajari 2x agar kokoh, ketiga disunnahkan agar membaca khatam Al-Quran dan juga mempelajari tafsirnya selama bulan ramadhan , keempat disunnahkan juga membacanya khatam Al-Quran  selama shalat taraweh di bulan ramadhan. Lalu ada seorang Ulama Besar Syekh Abdul Karim Al Khudhair (Dewan Fatwa di Saudi Arabia)  berkata “ketika dihinggapi rasa malas untuk membaca Al- Quran,” maka ingatlah hal berikut : pertama satu lembar mushaf,pahalanya 5000 kebaikan, kedua satu juz, pahalanya 100.000 kebaikan, ketiga  sekali kahatam semua, pahalanya sama dengan 3.000.000 kebaikan.  Hal ini agar kita termotivasi selalu untuk selalu membaca Al-Quran setiap saat untuk terhindar dari hal yang membuat malas dalam membacanya. keutamaan ini , dalam mengkhatam al-quran sangat dianjurkan pada bulan ramadhan dari pada menghafal Al-Quran. 

Kemudian Ada beberapa cara untuk mempermudah bisa berkali-kali menghatamkan Al-Quran saat ramadhan yakni : Untuk  satu kali khatam bisa  dilakukan dengan sebelum dan sesudah  melakasanakan 5 waktu shalat yaitu subuh,dzuhur,asar,maghrib,dan isya dengan membaca 4 halaman dilakukan secara rutin, adapun caranya sama hanya berbeda halaman yang ditargetkan. lalu untuk dua kali mengkhatam al-quran itu dengan membaca 8 halaman lalu untuk tiga kali khatam al-quran dengan membaca 12 halaman.

Dengan demikian hal-hal penting yang harus dibiasakan dari jauh-jauh hari untuk memfokuskan diri saat ramdahan agar keberkahan dibulan ini untuk tidak disia-siakan, maka teruslah detikd-detik sebelum berakhirnya bulan suci ramadhan dan telah berlalunya 10 hari pertama ramadhan untuk terus berserah diri pada Allah dengan mengintrospeksi (muhasabah) atas dosa dan khilaf yang pernah dilakukan selama di dunia untuk memohon ampunannya dengan bertaubat dan tidak terluput semuanya dari keadaan yang belum mendapatkan apa-apa selama bulan suci ini, dengan cara bermalas-malasan untuk selalu memohon pertolongan-Nya agar diberikan kemudahan dalam menjalankan bulan suci ramadhan dengan sebaik-baiknya. Agar saat seketika  kita diwafatkan saat masa perhitungan di akhirat ( yaumul hisab) tidak begitu menegangkan. Waallahu a’alam bisshowab.