Siapakah Lafran Pane dalam sebuah novel “Merdeka Sejak Hati” karya Fuadi.

Holla sobat literasi, !! kali ini saya ingin berbagi cerita sosok Lafran Pane yang telah ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Tahun 2017 oleh Presiden RI Joko Widodo pada tanggal 9 November . Dan kini biografinya telah dibentuk dalam sebuah novel terbaru yang berjudul ” Merdeka Sejak Hati” Karya Fuadi. Awalnya memang sangat membingungkan dengan judulnya, dengan kebingungan itu pula, saya pun akhirnya datang ke lokasi dimana Launching buku terbarunya itu yang bertempat di Perpustakaan Nasional yang ada di Jalan Medan Merdeka Selatan Jakarta, pada Minggu, 28 Juli 2019.

Novel “Merdeka Sejak Hati” secara simbolis diserahkan oleh Direktur Kelompok Penerbitan Kompas Gramedia Suwandi S Brata kepada Fuadi.

Bang Fuadi ini juga mengungkapkan bahwa dia sangat berterima kasih kepada Orang-Orang yang mengenal Lafran Pane entah dari Sanak Keluarga Pane, maupun organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) beserta KAHMI ( Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) . yang telah banyaknya menceritakan kisah perjalananannya dari kecil hingga akhir hayatnya untuk membantunya dalam penulisan novel biografi terbarunya yang dikemas menjadi cerita inspiratif novel non fiksi yang sangat menarik. walaupun harus dibutuhkan data-data yang kuat untuk menceritakan siapa sosok Lafran pane itu yang jarang dikenal orang banyak. Namun alasan lainnya “Novel ini bisa hidup karena sumbangan cerita, ide, catatan, dan kenangan dari banyak orang yang pernah bersentuhan langsung atau tidak langsung dengan almarhum,” Kata fuadi.

Peluncuran novel “Merdeka Sejak Hati” ini dihadiri sejumlah tokoh HMI. Salah satunya Ketua Dewan Penasihat Majelis Korps Alumni HMI (KAHMI) Akbar Tandjung.

Lalu Akbar tandjung mengatakan, film tentang Lafran Pane ini rencananya akan tayang perdana pada Maret 2020 setelah peluncuran Novel “Merdeka sejak Hati”.

Sejarah Singkatnya :

Prof. Drs. Lafran Pane lahir di Padang Sidempuan5 Februari 1922 – meninggal 25 Januari 1991 pada umur 68 tahun) dikenal sebagai salah satu pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada tanggal 5 Februari 1947. Perihal perannya dalam HMI, Kongres XI HMI tahun 1974 di Bogor menetapkan Lafran Pane sebagai pemrakarsanya berdirinya HMI dan disebut sebagai pendiri HMI.

Lafran Pane adalah anak keenam keluarga Sutan Pangurabaan Pane dari istrinya yang pertama, Lafran adalah bungsu dari enam bersaudara, yaitu: Nyonya TaribSanusi PaneArmijn PaneNyonya Bahari SiregarNyonya Hanifiah, Lafran Pane, dan selain saudara kandung, ia juga memiliki dua orang saudara tiri dari perkawinan kedua ayahnya, yakni: Nila Kusuma Pane dan Krisna Murti Pane. Ayah Lafran Pane adalah seorang guru sekaligus seniman Batak Mandailing di Muara SipongiMandailing Natal. Keluarga Lafran Pane merupakan keluarga sastrawan dan seniman yang kebanyakan menulis novel, seperti kedua kakak kandungnya yaitu Sanusi Pane dan Armijn Pane yang juga merupakan sastrawan dan seniman. Sutan Pangurabaan Pane termasuk salah seorang pendiri Muhammadiyah di Sipirok pada 1921. Sedangkan Kakek Lafran Pane adalah seorang ulama Syekh Badurrahman Pane, maka pendidikan keagamaannya didapat sebelum memasuki bangku sekolah.

Pendidikan sekolah Lafran Pane dimulai dari Pesantren Muhammadiyah Sipirok (kini dilanjutkan oleh Pesantren K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Setia dekat Desa ParsorminanSipirok. Dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah Lafran Pane ini mengalami perpindahan sekolah yang sering kali dilakukan, hingga pada akhirnya Lafran Pane meneruskan sekolah di kelas 7 (Tujuh)di HIS Muhammadiyah, menyambung hingga ke Taman Dewasa Raya Jakarta sampai pecah Perang Dunia II, pada saat itu ibu kota pindah ke Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Islam (STI) yang semula di Jakarta juga ikut pindah ke Yogyakarta. Wawasan dan intelektual Lafran berkembang saat proses perkuliahan yang membawa pengaruh pada diri Lafran Pane yang ditandai dengan semakin banyaknya buku-buku Islam yang ia baca. Sebelum tamat dari STI, Lafran pindah ke Akademi Ilmu Politik (AIP) pada April 1948 Universitas Gajah Mada (UGM) yang kemudian di Negerikan pada tahun 1949. Tercatat dlam sejarah Universitas Gajah Mada (UGM), Lafran Pane termasuk salah satu mahasiswa yang pertama kali lulus mencapai gelar sarjana,yaitu tanggal 26 Januari 1953. Dengan sendirinya, Drs. Lafran Pane menjadi salah satu sarjana ilmu politik pertama di Indonesia, selanjutnya Lafran Pane lebih tertarik di lapangan pendidikan dan keluar dari Kementerian Luar Negeri dan masuk kembali ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kehadiran HMI di awal kemerdekaan Indonesia bukan semata-mata menggalang kekuatan intelektual Muslim untuk membela Republik Indonesia, tetapi Juga menjadi legitimasi penerimaan Pancasila sebagai ideologi negara oleh kalangan Islam.

Menurut mantan Ketua Umum PB HMI 1976-1979 Chumaedy  Syarif  Romas kehadiran HMI menjadi semacam sintesis aliran-aliran pemikiran masyarakat Indonesia saat itu, baik sintesa Nasionalisme dan Islamisme, maupun kelompok-kelompok dalam Islam itu sendiri yang beraneka ragam.

Lafran Pane yang lahir dari keluarga nasionalistik dan muslim berkontribusi kuat bagi pemikiran, dan kehidupan pribadinya. (Romas, 2009). Kesadaran berjamaah, berorganisasi dan mendirikan HMI berpijak pada sintesa antara kesantrian dan nasionalisme. Antara keduanya dicobanya untuk dikonstruksikan secara ideologis dalam wadah HMI.

Dari sini tampak betapa pemikran Lafran Pane telah mendahului jamannya, yang di kelak kemudian hari, saat dimana ideologi Pancasila dalam beberapa momen dipertanyakan kembali, HMI kokoh pada pijakan ideologis saat berdiri: membela Republik Indonesia berdasarkan Pancasila.

Semangat intelektualitas Lafran Pane ditunjukkan dengan sifat konsisten yang tak tergoyahkan bila yakin bahwa argumentasinya benar. Tidak pandang lawan debatnya pimpinan, kawan, mahasiswa, atau kader HMI sendiri, ia akan katakan tidak kalau bertentangan dengan keyakinan kebenaran dirinya.

Di tahun 1970, saat ia menerima gelar profesor, dalam pidato pengukuhannya Lafran melawan arus utama saat itu dengan mengatakan bahwa UUD 1945 bisa diubah. Padahal, rezim Suharto mensakralkan UUD 1945 dan mendoktrin masyarakat bahwa UUD 1945 tidak bisa diubah.

Yang tak pernah terlupakan dari orang-orang yang mengenalnya adalah, ia hidup dalam kesederhanaan total; di rumah, di tempat kerja, dan dalam pergaulan sosial.

Ia menolak semua pemberian dari kader-kadernya yang telah hidup sukses secara ekonomi. Ia tolak tawaran mobil, rumah, uang, dengan alasan apapun dsn dari siapapun.

Penulis orang yang beruntung bisa mengenal dan beberapa kali bercakap dengan sosok religius ini. Sebagai guru besar ia ke kampus atau kemana-mana naik sepeda angin. Bajunya, sepatunya, kaca matanya, itu-itu saja. Bahkan hingga meninggal, ia masih di rumah dinas IKIP Yogyakarta tempat ia mengabdi sebagai PNS.

Ia teladan kehidupan. Ia model cendekiawan ideal yang dibutuhkan bangsa yang masih terbalut kemiskinan akut. Dalam buku karya Hariqo WS :“Lafran Pane..”, 2009, misalnya seorang kadernya bertutur saat akan dilantik menjadi anggota Dewan Pertumbangan Agung, menolak menerima fasilitas jas baru. Alasannya, bekerja belum, mengapa sudah menerima jas baru.

Bahkan, penetapan dirinya sebagai Pendiri HMI di masa kepengurusan PB HMI di bawah Akbar Tanjung sempat ditolak dengan alasan perbuatan “riya”. Namun atas dasar kemaslahatan Organisasi, akhirnya ia menerima dengan terpaksa penetapan Lafran Pane sebagai pendiri HMI.

Baginya Indonesia ke depan harus Indonesia yang bebas dari feodalisme, bersendikan moral agama, bebas korupsi kolusi dan nepotisme. Untuk mewujdkan hal itu, para pemimpin harus menjadi teladan hidup sederhana, menjauhi aji mumpung, apalagi melakukan tindakan tercela.

Sehingga apa yang di maksud dalam novel “Merdeka Sejak hati” dengan maksud Memerdekakan manusia adalah membebaskan mereka dari penghambaan terhadap apapun, termasuk penghambaan kepada sesama manusia dan seluruh materi. Merdeka adalah menunggalkan penghambaan hanya kepada Tuhan semesta, membebaskan manusia dari dunia yang sempit menuju dunia yang luas, serta dari kesewenang-wenangan dalam pandangan penulis.

Seketika dalam acara tersebut, Berkisah tentang kehidupan Lafran Pane sejak mula lahir hingga akhir hayatnya, A. Fuadi tanpa terkesan menggurui secara piawai merunut cerita yang mendefinisikan kemerdekaan, didasarkan pada fase umur. Di kala Lafran kecil lebih memilih kehidupan, tinggal di rumah nenek dari ayah bersama kakak perempuannya Salmiah, daripada tinggal di rumah mewah Nenek Siregar, Lafran tak menginginkan kehidupan dengan banyak aturan dan tata tertib. Ia ingin bebas.

Dari gambaran sejarahnya Kita yang harus terus menerus dicari, bukan sekadar untuk mengenang kehidupan Lafran tempo dulu, tetapi untuk menghadirkan sekolah yang lebih ramah dan membebaskan bagi generasi Indonesia Merdeka, hari ini dan esok.

Lafran kecil, sebagai orang yang meneguhkan sikapnya untuk merdeka bahkan rela mengorbankan materi dan kemewahan yang disediakan keluarganya, demi sebuah kemerdekaan, bukan pula manusia yang secara liar tak mau diatur. Terbukti di tempat latihan tinju, ia secara sukarela mengikuti aturan untuk disiplin berlatih, bahkan di jalanan yang bebas, ia tetap memegang teguh nilai dan prinsip untuk tidak bertaruh saat bermain kartu, tetap membaca dan menjalankan ajaran-ajaran agama, sebagaimana nasihat nenek dan guru mengaji yang terus diingatnya.

Lewat novel Merdeka Sejak Hati, A. Fuadi menitip makna merdeka bagi setiap orang lewat sosok Lafran. Merdeka adalah bila sudah bisa berdiri sendiri, lepas dari tuntutan apapun, tidak terikat atau tergantung pada pihak mana pun, bersifat leluasa, yang terletak pada kedalaman hati manusia. Setiap orang yang berhasil menjaga hatinya dari niatan tidak baik –keserakahan, kerakusan, dendam kesumat, dan kebencian– tetapi membiarkan diri dikuasai oleh cinta kasih, kepedulian dan pengorbanan adalah manusia merdeka. Ketika dia telah mencapai jati dirinya sebagai manusia merdeka itu, maka barulah dia bisa memerdekakan orang lain seperti dirinya sendiri.

Novel ini sendiri berlatar Indonesia sejak dijajah Belanda, dikuasai Jepang, proklamasi kemerdekaan, kembali ingin dikuasai sekutu hingga konflik antarbangsa sendiri, bercerita tentang pergolakan dan pergerakan Lafran Pane yang berjuang untuk merdeka dengan cara berbeda dari kakak-kakaknya, Armijn Pane dan Sanusi Pane.

Maka novel ini secara gemilang berhasil menghadirkan sosok teladan yang semakin langka kita temui di negeri ini. Menemani kita untuk melakukan pencarian dan menemukan makna kemerdekaan sejati, sekaligus secara khusus mengajarkan kepada kader-kader HMI untuk mengoreksi dan mendefinisikan ulang makna independensi etis mereka sebagai kader, sebagai muslim, sebagai mahasiswa, dan sebagai warga negara Indonesia. Mestinya, cita keislaman dan keindonesiaan meniscayakan mereka untuk tidak berjarak dengan masjid dan tradisi intelektual.

Sumber : https://megapolitan.kompas.com/read/2019/07/28/16410431/kisah-pendiri-hmi-lafran-pane-akan-difilmkan-tayang-maret-2020 , https://news.detik.com/kolom/d-4622569/menjadi-manusia-merdeka?_ga=2.227471005.1202644125.1564834075-952436374.1564834075 , https://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/11/08/oz35dj396-mengapa-lafran-pane , https://id.wikipedia.org/wiki/Lafran_Pane .

Iklan

Sejarah Ejaan yang Berlaku di Indonesia

Ejaan yang dipakai di Indonesia ada 4 macam.

  • Ejaan Van Ophuysen (1901-1947)
  • Ejaan Soewandi (1947-1972)
  • Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) 1972-2015
  • Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PEUBI) tahun 2015.Pada tahun 1901,ejaan bahasa Melayu, dengan huruf latin atau van ophuysen ditetapkan.

Ejaan ini dirancang Ch. A. Van Ophuysen dibantu Engku Nawawi gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Ada 3 hal yang menonjol dalam ejaan ini yaitu

  • 1.Menuliskan huruf y (saat ini) digunakan j. Contoh : jang, pajah, sajang.
  • 2. Menuliskan huruf u (saat ini) digunakan oe. Contoh : ataoe, itoe, oentoeng.
  • 3. Penggunaan kata diaktrik, yaitu tanda tambahan dalam huruf, misal kima ain. Contoh : ‘akal, sa’at, ta’at.

Tanggal 19 Maret 1947 secara resmi Ejaan Van Ophuysen diganti oleh Ejaan Soewandi yang juga dikenal dengan Ejaan Republik.Beberapa hal yang menonjol dalam ejaan ini yaitu

  • 1. Huruf oe diganti dengan u.
  • 2. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k. Contoh : rakyat,maklum,tak.
  • 3. Kata ulang boleh ditulis angka dua. Contoh : bapak2, undang2, sama2.
  • 4. Penulisan kata depan di- maupun awalan ditulis serangkai atau tidak dibedakan. Contoh : dirumah, dipantai, ditulis, ditanam, digendong.

Pada akhir 1959 sidang keputusan Indonesia dan Melayu, yang masing-masing diketuai Slamet, Mulyana dan Syeh Nasir bin Ismail menghasilkan ejaan bersama. Ejaan ini kemudian dikenal dengan Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Akan tetapi, perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya membuat ejaan ini dibatalkan dan tidak diberlakukan.

Pada 16 Agustus 1972, berdasarkan keputusan Presiden No 57 tahun 1972, ditetapkan ejaan baru bahasa Indonesia yang dinamakan EYD.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 27 Agustus 1975 Nomor 0196/U/1975 memberlakukan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” dan “Pedoman Umum Pembetukan Istilah”.

Pada tanggal 12 Oktober 1972,yang kemudian panitia pengembangan bahasa Indonesia Departemenn Pendidikan dan kebudayaan menerbitkan buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yanh Disempurnakan”, dengan penjelasan kaidah yang lebih luas.

Pada Tahun 1987, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0543a/U/1987 tentang penyempurnaan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Pada 2009, Menteri Pendidikan Nasional Mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yanh Disempurnakan. Dengan dikeluarkannya peraturan menteri ini, maka EYD edisi 1987 diganti dan dinyatakan tidak berlaku lagi.

Permendiknas Nomor 46 tahun 2009, ternyata hanya berumur lebih kurang enam tahun. Pada tanggal 30 November 2015 terbit permendikbud No 50 tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PEUBI).

Daftar Pustaka:

Sugiarto, Eko. 2017. KITAB PEUBI. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Pengaruhnya Bahasa dalam Berdakwah

Pada zaman modern ini, Indonesia sedang maraknya dalam kegiatan berdakwah baik di dunia maya maupun dunia nyata. Selain itu juga pendakwah di Indonesia juga semakin bertambah, bahkan, ada juga sebagian orang yang berdakwah tanpa didasari ilmu agama yang memadai. Sehingga banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan maupun saling tuduh-menuduh bahwa merasa dirinya yang paling benar, dan orang-orang yang masih awam, telah menelan ilmu-ilmu tersebut secara mentah-mentah tanpa di tabayun terlebih dahulu kebenarannya, yang kini lebih sering di temukannya berita bohong atau hoax. Terlebih lagi, sebagian orang yang ikut turun berdakwah dalam bidang politik, yang juga kurangnya ilmu perpolitikan dapat berakibat fatal di antaranya, dapat merusak citra seorang pendakwah itu sendiri. Karena dalam berdakwah itu tidak hanya dalam segi beragama tetapi bisa dalam segi lain sesuai kemampuan dalam bidang yang dimilikinya.

Adapun manusia yang berdakwah sesuai fakta yang terjadi, namun dalam penyampaiannya kurang memperhatikan segi peserta, kondisi negara, maupun bahasa yang digunakan tidak sampai pada tujuan yang diharapkannya. Sehingga membuat orang lain yang menyimak dapat berakibat  salah  pemahaman dalam menafsirkan perkataan pembicara yang tidak salah sangka. Selain itu juga orang yang berdakwah pun bisa jadi tersangka akibat apa yang disampaikanya dapat membuat orang sesat ataupun terjadi fitnah. Karena ketidaktepatannya dalam  berbahasa ketika menyampaikan maupun berbagi informasi atau ilmu yang dimilikinya dari apa yang diterimanya informasi tersebut tanpa pemahaman yang mendalam, walaupun ada sebuah kutipan  yang menyampaikan satu ayat al- quran saja kau ajarkan kepada orang lain, maka kamu  akan mendapatkan satu kebaikan. Namun dilakukannya dengan niat lillah, In syaa Allah kebaikan itu juga akan berbalik pada diri sendiri juga, asalkan apa yang telah diterimanya menganai informasi dari channel media sosial maupun website lainnya harus di teliti dulu kebenarannya, karena tidak hanya orang lain saja yang merugi melainkan diri sendiri, serta pertanggungjawaban di hadapan Allah atas hal-hal yang telah  dipublikasikan dari informasi yang tidak tepat kepada orang lain atau tidak sesuai dengan faktanya dapat berakibat sebaliknya bukan pahala kebaikan yang dimiliki melainkan dosa jariyah atas kebohongan sesama manusia disebabkan oleh perbuatannya sendiri.

Dalam hal ini, sesuatu ilmu yang dimiliki ada baiknya lebih dahulu mengamalkannya pada diri sendiri sebelum mendakwahi orang lain. Jika diri ini sudah mampu menjalani sesuatu ilmu yang dimiliki biarpun masih berusaha menjadi seorang yang baik, tidak masalah berdakwah kepada orang lain,  asalkan niat  ikhlas karena Allah dan terus berniat untuk memperbaiki diri sendiri karena berdakwah itu mengamalkan segala ilmunya yang dimiliki seseorang yang di mana juga sebagai mendakwahi dirinya sendiri dan menerapkan ilmu-ilmu yang dimilikinya. Sehingga semua itu, harus didasari dalam sebuah penyampaian berbahasa yang benar dalam kegiatan penyampaian pesan-pesan atau seruan agama kepada pemeluknya, baik secara lisan maupun secara tertulis, agar pemeluk agama bersangkutan dapat mengambil hikmah dan menaati aturan agamanya, dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti, bukan mengada-ngada, yang dapat membuat orang lain ragu-ragu untuk menelan pengetahuan dalam dakwah itu. Karena dalam berdakwah itu bukan mengajak orang lain secara paksa melainkan dengan meberikan bukti yang nyata akan sesuatu hal yang benar dengan kesantunan dan kelembutan dalam mengajak orang lain agar orang lain pun tidak merasa terpaksa untuk mengikuti kajian –kajian dakwah, dalam upaya penyebarluasan seruan agama kepada pemeluknya tidak dapat lepas dari bahasa sebagai medium utamanya, seperti mengajak orang non islam untuk masuk agama islam dengan keyakinan yang sudah dipercayainya apa yang didengar,dilihat, maupun didasari oleh keluluhan hatinya sendiri, yakin bahwa islam suatu agama yang tepat untuk dirinya atas pengaruh para pendakwah, baik ceramah yang dia dengar, maupun dari kerabatnya yang beragama islam, ataupun dari artikel-artikel informasi yang terdapat dalam google, yang menjadikan dirinya semakin yakin untuk menjadi seorang mualaf

Selanjutnya, dalam pemaparan penggunaan bahasa  dalam penyampaian itu sangat berperan dalam menentukan keberhasilan dakwah. Sebagai gambaran, dapat dilihat dan diamati bagaimana para da’i kondang, seperti Zainuddin MZ, Abdullah Gymnastiar, Arifin Ilham, dan Jefri Al-bukhari dalam meyampaikan pesan-pesan kebenaran dalam agama islam. Mereka semua tentu saja berupaya mengemasnya dengan bahasa yang menarik dan dengan gaya masing-masing.  Karena saat ini, banyak orang berbondong-bondong untuk ikut hadir dalam sebuah kajian baik anak muda sekarang lebih tertarik kepada gaya penyampaian dakwah Ustad Hanan Attaki, yang sesuai dengan keadaan zaman milenial maka digunakanlah bahasa gaul yang dapat menarik perhatian mereka maupun isi penyampaian yang disesuaikan dengan keadaan remaja saat ini. Lalu di  kalangan orang tua lebih senang kepada gaya penyampaian dakwah Aa Gym (Abullah Gymnastiar), adapun di semua tingkatan usia menyenangi gaya penyampaian dakwah Ustad Abdul Somad, dan lain-lain. Perbedaan itu lebih dikarenakan oleh teknik pemanfaatan bahasa yang bermacam-macam. Keberhasilan mereka dalam menarik perhatian khalayak tentu saja tidak dapat dipungkiri. Semua itu karena kelihaian mereka dalam “memainkan” bahasa.

Seorang pendakwah juga selain memainkan bahasa harus pandai melihat situasi yang melatari dari keadaan para pendengar/khalayak. Situasi itu meliputi lokasi, kondisi lingkungan, waktu, dan sarana yang akan digunakan, agar mampu mempengaruhi khalayak secara efektif. Diantaranya dengan memilih materi dakwah harus aktual, yang dapat menyentuh khalayak, mengumpulkan bahan pembicaraan dengan mengumpulkan harus benar-benar terpercaya dan didukung oleh bukti-bukti yang kuat, dan yang terakhir membuat kerangka uraian agar sesuatu yang sudah direncanakan atau diorganisasikan dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik daripada yang tidak direncanakan lebih awal.

Ketika khazanah dalam berbahasa sudah baik serta mengenal situasi dan kondisi sebelum berdakwah tapi ada yang lebih utama sebagai seorang pendakwah itu harus memiliki akhlak. karena akhlak ini sangat berpengaruh juga dalam medan dakwah. biasanya orang lain selain melihat penampilan seorang pendakwah, juga melihat sikap dan perilaku pendakwah tersebut sehingga selain memiliki pengetahuan intelektual juga menjaga sikap dengan berakhlak terpuji seperti lemah lembut,tersenyum,sabar, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah dengan berakhlak mulia dalam berdakwah. Sebab akhlak mulia yang dimiliki Rasulullah membuat banyaknya para pengikut yang berbondong-bondong untuk memeluk islam, dan penyebaran agama islam pun semakin meluas. karena sikap dan perilaku beliau  yang  sungguh terpuji. Hal lainnya juga dengan memadukan riset berita dan literasi isu keumatan melalui buku bacaan dengan mengkaji secara dalam buku-buku agama  maupun ilmu pengetahuan lainnya, salah satunya  agama islam harus di kaji secara mendalam yang digunakan sebagai pendoman dan sudut pandang hidup yang holistik.

Dengan begitu, dakwah sebagai sarana pengembangan dan pembinaan bahasa, misalnya bahasa Indonesia. Dalam kegiatan dakwah sebaiknya digunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan bahasa Indonesia secara asal mestinya dihindari. Kesalahan berupa penggunaan kata depan, pilihan kata, pelafalan, dan kata-kata berlebihan, mestinya tidak dianggap mudah. Namun demikian, karena pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia, maka ada baiknya dalam berdakwah perlu diperhatikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal itu sangat mempengaruhi cerminan sikap positif terhadap bahasa Indonesia terhadap para pendakwah itu sendiri, bahwa sikap positif terhadap bahasa Indonesia adalah sikap penutur bahasa Indonesia yang setia, bangga, dan sadar akan norma bahasa Indonesia.

“Mengenal Goenawan Mohamad Melalui Karyanya: Catatan Pinggir dan Sajak Puisi”

Goenawan yang lahir di Karangasem, Batang pada tanggal 29 Juli 1941. Seorang Jawa Pesisir Utara, dengan memiliki keluarga sebagai penganut agama Islam yang terbuka. Ayahnya juga merupakan seorang tokoh pergerakan di kotanya, oleh karena itu ayahnya dapat memberi fasilitas bacaan yang memadai untuknya. Goenawan sejak kecil sudah menjadi kutu buku. Kemudian Goenawan menikah dengan seorang perempuan bernama Widarti Djajadisastra dan dikaruniai dua orang anak, yaitu Hidayat Jati dan Paramitha. Selepas SMA, Goenawan melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, tahun 1960—1964. Pada tahun 1965 hingga 1966,

 ia mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan di College D’Europe, Brugge, Belgia.Lalu melanjutkannya di Universitas Oslo, Norwegia, tahun 1966. Tak sampai disitu perjuangannya menuntut ilmu,Goenawan  kembali mendalami pengetahuan di Universitas Harvard tahun 1981 hingga 1990 . Karena perhatiannya  lebih tertarik pada masalah masyarakat, kebudayaan, dan sastra, hingga Goenawan pun tidak pernah memperoleh gelar dari pendidikan tingginya itu. Goenawan Mohamad mulai menulis ketika bersekolah di SMA dan menerjemahkan pertama kalinya sajak Emily Dickinson yang dimuat pada Harian Abadi tahun 1960-an. Goenawan juga merupakan salah seorang konseptor Manifes Kebudayaan bersama Wiratmo Soekito, Trisno Soemardjo dan H.B. Jassin.

Dalam mengenal sebuah karyanya,Goenawan memulai karierenya dengan menulis yang dimana ikut mengumpulkan puisinya dalam kumpulan puisi Manifestasi yang diterbitkan dalam rubrik kebudayaan Harian Abadi. Salah satu diantara karyanya yang telah terkumpul berupa puisi yang  memuat sebagai pengisi ruang “Kebudayaan” Manifestasi, antara lain puisi Taufiq Ismail, M. Syaribi Afn, Armaya, dan Djamil Suherman. Pada tahun 1971,barulah terbit kumpulan puisi Parikesit yang disusul dengan penerbitan Interlude tahun 1973. Selanjutnya, ada  kumpulan puisi Asmaradana tahun 1992. Kreativitasnya selalu terukir hingga tahun 1998, terbit kumpulan puisinya berjudul ‘Misalkan Kita di Sarajevo’ yang mengungkapkan rasa simpati dan keprihatinannya terhadap nasib orang-orang Bosnia.[1]

Selain itu, catatan pinggir ini merupakan sebuah hasil karya yang telah diterbitkan setiap pekannya di majalah tempo. Catatan pinggir merupakan buah karya yang sangat popular saat itu , karena pemilik sebuah karyanya yang bernama lengkap Goenawan Soesatyo Mohamad telah menampakkan dirinya sebagai sastrawan dan budyawan Indonesia , bahwa Goenawan yang biasa dipanggil dengan GM ini adalah seorang penyair,esais,dan intelektual publik. Sehingga pengalamannya memberikan karakteristik tulisan pada setiap karyanya menjadi semacam senandung,yang tidak hanya menyimpulkan sikap personalnya menghadapi pilihan-pilihan susah di masyarakat, tetapi membuka jalur alternative lain yang barangkali bisa ditemukan dengan mendalami  pilihan-pilihan yang ada.Dan GM merupakan seorang pendiri  majalah tempo (1971-1998) dan sekaligus pemimpin redaksi tempo. Keaktifannya dan keahliannya dalam menulis, membuat dirinya, semakin berkembangnya bisnis majalah tempo seperti dalam laman perusahaannya. Perjalananan yang mengawali kariernya sebelum menjabat sebagai pemimpin redaksi, GM juga pernah menjabat sebagai Redaktur Harian KAMI, Redaktur Majalah Horison, hingga Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres. Kemudian puncaknya bersama kawan-kawannya, dalam mendirikan Majalah Tempo saat itu, yang usianya menginjak umur 30 tahun, maka dikatakan GM  tidak hanya sebagai seorang redaksi majalah tempo namun juga seorang wartawan  yang juga tidak sekedar menulis kegiatan jurnalistik, tapi juga mengakatualisasikan intelektualnya dalam tulisan-tulisan pribadinya dalam bentuk catatan pinggir. Maka goenawan menjadi seorang inspirator bagi wartawan-wartawan muda lainnya.

Majalah Tempo tidak akan selamanya berjalan mulus, tanggung jawab yang harus diembannya sebagai seorang pemimpin redaksi selama dua periode, mengalami sebuah pembredelan  dengan periode pertama dari tahun 1971 hingga 1992 dan setelah pembredelan pada tahun 1994, Tempo terbit kembali pada tahun 1998. Pebredelan itu disebabkan oleh buah karya tulisannya sendiri, yang seringkali mengkritisi rezim Soeharto ketika itu, yang menekan pertumbuhan ekonomi di tanah air. Sehingga tempo, dianggap oposisi yang mampu merugikan pemerintah. Maka tidak heran jika Goenawan dipercaya untuk memimpin kembali hanya setahun, setahun setelahnya, diserahkan kepada Bambang Harymurti. Walaupun demikian, GM dapat memperoleh Anugerah Sastra dan David Prize  dalam menulis kolom di majalah tempo mengenai berbagai agenda-agenda politik di Indonesia.

Pada akhirnya, tempo yang diharapkannya terbebas dari  yang telah terkooptasi rezim Soeharto. Namun sosok Goenawan tidak berputus asa, melainkan bersama para jurnalis muda idealis, ia mendobrak semangat dalam mendorong lahirnya ‘Aliansi Jurnalis Independen’ (AJI). Lalu ia juga mendirikan ‘Institusi Studi Arus Informasi’ (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia Pers Indonesia. ISAI juga melakukan pelatihan bagi para jurnalis tentang tata cara membuat surat kabar berkualitas.

Setelah rezim Soeharto lengser, tempo dapat kembali beroperasi dengan berbagai evaluasi. GM yang pernah menerima penghargaan Louis Lyons dari Harvard University Amerika Serikat ini pun kembali menjabat sebagai Pemimpin Redaksi selama satu tahun hingga 1999. Tak hanya sampai disitu masa kepemimpinannya sebagai seorang redaksi , namun pada tahun 2016, GM masih memangku amanah sebagai Komisaris Utama PT Tempo Inti Media Tbk.

Kesibukannya tidak sebatas aktif di media, tetapi juga aktif di berbagai kegiatan budaya dan seni. Salah satunya, GM mengurus Komunitas Salihara, di sebuah tempat berkesenian di kawasan salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tempat yang juga dijadikan diskusi dengan mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, dan sebagainya.[2]

Setelah masa kepengurusannya di Majalah Tempo telah usai, kemudian GM  melanjutkan kreativitas lainnya di bidang kesenian. Tak sekedar seorang penyair dengan  penggubah ratusan puisi, atau esais yang sabtu-minggu menulis catatan pinggir. Karena catatan pinggir dari buah karya pertama yang ditulis GM yang ada di Tempo merupakan rubrik tetap dan terpanjang yang ditulis oleh satu orang di sebuah majalah, hingga layak masuk rekor dunia Guinness. Rubrik itu hadir sejak 1976 dan terus ada hingga kini. Tulisan di rubrik yang akrab disebut “Caping” itu sudah dibukukan dalam 12 jilid.Namun tak hanya menulis esai pendek di “Caping”. Hasil karya setelahnya juga menghasilkan banyak esai panjang yang juga telah berkali-kali dikumpulkan dalam buku, sejak awal 1970-an. Esai-esai panjang antara lain yang telah dibukukan dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, Kita (1980), Eksotopi (2002), dan Marxisme, Seni, Pembebasan (2011).Serta buku terakhirnya, Si Mejenun dan Sayid Hamid, mengupas novel Don Quixote yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama sejak Maret 2018.

Lalu karya keduanya berupa puisi-puisi yang telah dikumpulkan oleh Ayu Utami dan Sitok Srengenge dengan lengkapnya, mulai disaat Goenawan masih menginjak usia muda yang masih 20 tahun, dapat ditemukan dari tahun 1961. GM sendiri ingat, bahwa ratusan sajak ia hasilkan sejak itu. Sajak-sajaknya dikumpulkan dalam Parikesit (1971), Interlude (1973), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998), Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (2001), Don Quixote (2011), Tujuh Puluh Puisi (2011), dan Fragmen, Sajak-Sajak Baru (2017). Akhirnya kumpulan tulisan sajaknya dalam sebuah esai Catatan Pinggir  untuk dibukukan (sampai jilid kelima oleh penerbit Pustaka Utama Grfiti) dan diterjemahkan ke beberapa bahasa; sehingga beberapa sajaknya menjadi lirik komposisi lagu di Australia.

Selanjutnya karya ketiganya meliputi seni pertunjukan teater dan wayang, keaktifannya juga di seni pertunjukan yang tergabung dalam komponis Tony Prabowo, yang dapat menghasilkan tiga buah opera. Dua di antaranya ditampilkan dalam bahasa Inggris, yang dipertunjukkan pertama kali,dalam pengerjaannya ditahun 1996 lalu direvisi tahun 2003. Naskahnya dipentaskan di Seattle, Amerika Serikat tahun 2001, dan Jakarta pada 2001. Ada The King’s Witch (1997-2000) dipentaskan di New York, Amerika Serikat tahun 1999, dan Jakarta pada 2006. Tahun 2010 dan 2011, bersama Tony ia mementaskan Tan Malaka, sebuah “opera-esai”.Lakon lain yang ditulisnya adalah Visa (dipentaskan 2008), Surti dan Tiga Sawunggaling (2010), Surat-Surat tentang Karna (2011), Gundala Gawat (2013), dan Amangkurat, Amangkurat (2017). Hingga GM  juga menulis teks untuk pertujukan wayang kulit yang dipentaskan Sujiwo Tejo, Wisanggeni pada 1995 dan Alap-Alap Surtikanti yang dipentaskan dalang Slamet Gundono pada 2002. Goenawan juga menulis naskah teater: Surti dan Tiga Sawunggaling, Visa, dan L’histoire du Soldat (yang digubah dari teks C.F. Ramuz-Stravinski). Ia pernah menyutradarai pementasan dua tari, Panji Sepuh dan Dirada Meta, sebuah tari klasik dari Keraton Mangkunegaran dan Goenawan juga salah satu pendiri Koalisi Seni Indonesia.[3]

Selain ahli dibidang teater dan wayang,tidak lupa akan kelihaiannya dalam menulis, dengan menuliskan teks tentang seni tari mengenai ‘Tembang Jawa’ untuk tari Panji Sepuh yang pertama dipentaskan tahun 1994 serta menggarap tari klasik Mangkunegaran, Dirodometo (2009). Kemudian tulisannya mengenai seni tari itu membuat dirinya ingin menambahkan komentar jauh dari rayuan visual, dengan menginginkan para penari  yang dapat menjelma bagai roh orang yang gugur. Sehingga diselaraskan dari tulisannya dalam katalog pertunjukan, “Inilah pentas sebuah ruang minimalis.”

Selanjutnya ada seni lukis buah karyanya yang kelima, ternyata kegemaran Goenawan dalam bidang seni lukis dan menggambar sudah tertanam sejak kecil dari pada menulis.pernyataannya itu terdapat dalam pameran tunggal, ketika lukisan-lukisan karyanya di bulan Mei 2018 itu, terdapat sebanyak 31 pilihan karya lukis yang dipamerkan dalam “The Solo Exhibition of Goenawan Mohamad” bertajuk Warna, yang berlangsung 30 Mei-20 Juni 2018 di Plaza Senayan, Jakarta.[4]

Tidak hanya di tahun sesudahnya tapi juga ditahun 2017, Goenawan Mohamad menggelar pameran tunggalnya yang bertajuk Ke Te-ngah di Kiniko Art Sarang Building, Blok 2, Yogyakarta . Pameran yang berlangsung hingga 30 November 2017 ini dibuka oleh seniman Djoko Pekik dan merupakan rangkaian acara dari pararel event Biennale Jogja XIV – Equator. Pameran ini merupakan awal mulanya, GM mencoba menerjemahkan imaji- imaji puisi ke dalam garis dan warna. Kata yang memanggil benda-benda kini digantikan dengan apa yang muncul dari kuas dan pensil melalui tangannya sendiri. Di pameran ini GM menjelaskan suatu proses  dalam kerja seni rupa, dengan menerapkan pola yang sama dengan caranya menulis sajak. Sajak yang telah dibuatnya tidak dimulai dan dibimbing dari ide, melainkan dari apa yang datang ke dalam pengindraan. Proses ini sering dianggap lebih tepat karena melibatkan apa yang dekat dengan tubuh; gerak tangan, penglihatan, dan warna. Bagi dirinya, kesenian bisa berarti yang dapat menjanjikan hidup yang tidak monoton, doktriner, atau latah. Pameran Ke Te-ngah ini adalah pemenuhan janji tersebut.

Selain Pameran lukisan, Goenawan juga telah melahirkan buah karyanya sebanyak 53 karya sketsa dengan medium tinta dan pensil warna yang ditorehkan pada kertas terpajang di seluruh ruang pamer. Karya-karya ini menangkap objek manusia, hewan dan benda. Objek yang dihadirkan  berasal dari pengalaman dan ingatannya sendiri. Karya-karya ini berangkat tanpa landasan ide, menyiratkan sesuatu yang mengambang tentang sudut pandang terhadap sebuah ingatan. Kecenderungannya  dalam proses berkarya membuatnya menolak konseptualisme ala Sol LeWitt yang menganggap ide sebagai “mesin yang membuat seni”. Baginya, konseptualisme lama-kelamaan justru mengingkari apa yang mereka lahirkan sendiri, sesuatu yang hadir dan mendapatkan respon dalam bentuk-bentuk yang dipersepsikan. Karena dalam sebuah karya sketsanya memiliki keunikan tersendiri yang terlihat berbeda dari sketsa on the spot pada umumnya yang terlihat ekspresif dan emosional, sketsa karya Goenawan lebih terlihat kaku dan dingin. Komposisi objek, penataan tulisan, penempatan serta pemilihan warna mengisyaratkan pada proses yang hati-hati dalam menerawang ingatan ke dalam karya rupa. Sehingga karya lukisnya itu dapat diumpamakan seperti membaca puisi tanpa judul. Menurutnya , cara yang GM lakukan dalam sebuah goresan kuas di setiap  macam warnanya dapat melahirkan sesuatu yang nisbi, karena ada dalam sebuah konstelasi dari pelbagai posisi. Sehingga Kesenian hanya menarik jika yang “pelbagai” itu hidup. Ketika segala aspek pemikirannya terlintas dalam ingatannya, hingga muncul sebuah karya lukisannya dalam bentuk-bentuk deformatif dan vignetis  sepertinya didapat dari bentuk-bentuk patung primitif, wayang, atau pengalaman membaca cerita, legenda, dan mitos dari berbagai suku bangsa, lalu menariknya sebagai miliknya dan mengilustrasikan itu sebagai hal serupa yang berlangsung di sekitarnya.[5]

Bahkan karya-karya Goenawan Mohamad ini sudah sampai ke mancanegara sehingga penghargaannya telah mencapai puncak Internasional. Adapun penghargaan yang pernah diraihnya antara lain Professor Teeuw Award, University of Leiden, Belanda (May 1992); The Louis Lyons Award, Harvard University, Amerika Serikat (May 1997); The International Press Freedom Awards, the Committee to Protect Journalists, Amerika Serikat (November 1998); International Editor of the Year Award, World Press Review, Amerika Serikat (May 1999), dan Khatulistiwa Literary Award, Indonesia’s Best Fiction Award, Jakarta (November 2001).[6].

Dari semua keahlian di berbagai bidang yang telah banyak dikuasainya.maka tergambarlah sosok Goenawan Mohamad,dalam buku catatan pinggir bagian pendahuluan yang dikutip dalam sebuah tulisan yang berjudul ‘Sebuah Refleksi, dengan Jarak oleh Th.Sumartana, yang mengungkapkan Goenawan Mohamad merupakan tokoh yang tidak mudah terpancing oleh semangat perkelahian,melainkan berseru-seru dalam sebuah tulisannya,saat masa-masa sulit ketika terjadi polemik keras antara Lekra dan Manifes Kebudayaan tahun 1960-an. Selain itu GM memiliki sikap skeptik dengan memberi ruang untuk tidak terjebak dalam dogmatisme dan fanatisme terhadap suatu sikap ataupun ajaran,melainkan bekerja dengan pertanyaan yang selalu melintas dalam pemikirannya. Biarpun demikian GM tetap pada latar belakang dalam sebuah persoalan-persoalan kebudayaan. Namun dalam setiap pergerakan disetiap persoalan-persoalan yang terbentang pelik di kehidupan pers Indonesia,GM tetap berlandasan dalam dataran ide, yang membuatnya  seolah dapat mengatasi dengan sempurna tanpa harus kehilangan yang ideal dipihak lain maupun yang biasa dijalani sesuai batasan-batasan yang ditentukan oleh keadaan yang menunjukkan bahwa dirinya tidak jatuh pada sikap pasrah atau sinisme. Sehingga catatan pinggir ini menuliskan kegunaan serta-merta dari sebuah kegiatan pers demi mengubah masyarakat,tersoroti dengan tajam,yang kemudian munculnya sebuah pertanyaan “bagaimana menumbuhkan dengan sabar  dan kesadaran yang lebih dalam untuk masyarakat?”hingga bingung untuk menerima atau menolak keadaan.

Persoalan ini yang menggambarkan GM sebagai sosok praktis-pragmatis dalam bertindak skeptis yang terkadang menjengkelkan orang,karena ia jauh dari kepentingan praktis.maka semacam itu secara teknis sering disebut sikap seorang “liberal”.yang merupakan pemikiran ulang terhadap kekuasaan dan penggunaan kekuasaan. Jika dilihat dari sisi para pengkritik keadaan,sikap skeptis tergolong sikap ragu terhadap perlunya perubahan. Dan pada akhirnya GM pun menyadari bahwa dirinya telah dilema moral-intelektual. Dalam tulisan catatan pinggir hasil renungannya menjelaskan bahwa sikap skeptisnya tidak dijadinya sebagai sitem,tetapi sebagai cara terbuka untuk mencari pengertian baruyang lebih lengkap tentang kenyataan hidup sehari-hari.lalu dalam hubungan dalam kepenulisannya itu GM banyak memanfaatkan tamsil,ibarat,perumpamaan,cerita sejarah (bahkan juga cerita anak-anak), riwayat para tokoh,renungan keagamaan,serta menimba inspirasi dari berbagai literatur,meskipun jauh dari pretense untuk membuat sebuah karya ilmiah.[7]

Serta dalam sebuah puisinya GM memiliki ciri khas dalam berpuisi dengan imaji dan filosofis. Termasuk puisi ini lebih cenderung pada renungan-renungan kehidupan yang dilatar belakangi oleh nilai-nilai kebudayaan.[8]

Selanjutnya, adanya sebuah kebutuhan refleksi yang menjelaskan bahwan catatan pinggir ini memiliki kesempatan tiap minggunya untuk mengambill jarak terhadap peristiwa-peristiwa penting yang aktual agar dicerna dan direnungkan terlebih dahulu untuk mendalami kandungan makna sebagai kesatuan yang utuh apa yang telah terjadi agar lebih leluasa untuk keinti dalam sebuah permasalahannya.maka itulah kelebihan yang dimiliki dalam buku catatan pinggir edisi pertama ini.dan memudahkan untuk menikmatinya sebagai bagian yang bisa berdiri sendiri dalam suasana yang reflektif. Dengan demikian catatan pinggir ini tidak dapat bekerja secara instant di setiap permasalahannya sehingga tidak dapat memberikan petunjuk apa pun, bahkan tidak mengambil sikap tegas terhadap kesusahan yang ada di masyarakat yang dimana merupakan sebuah kekurangannya yang membuat orang kecewa. Adapun kekecewaan itu sosok GM yang penyabar,tekun dalam menjalankan tugasnya,hingga catatan pinggir dapat dikatakan salah satu karya jurnalisme yang unik di Indonesia. Dengan gaya bahasanya yang imperatif  serta ulasan yang tinggal terbuka. Dengan maksud GM ingin para pembaca catatan pinggir untuk bersikap memberikan komentar yang bersifat “open-ended” tentang apa yang sedang dibicarakan.

Adapun persoalan yang bertindak skeptik, apabila tidak dikembangkan menjadi kritik,keraguan tidak dikembangkan menjadi sebuah pertanyaan,dan pertanyaan tidak digarap lebih lanjut menjadi penyelidikan. Pada titik ini juga ditentukan sikap apa yang akan diambil terhadap informasi. Sehingga memiliki dua penilaian yang pertama seseorang akan bersifat selektif terhadap informasi dan mengambil yang paling relevan untuk masalah yang diselidikinya. Kedua, dia selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan informasi dengan akibat kehilangan kesempatan dan konsentrasi untuk merumuskan masalah yang diselidiki atauun yang dipikirkan.

Dalam hal terakhir  itu pendapat dan sikap penulisnya dinyatakan dengan sangat halus dan tersirat,dengan menyusup aforisme-aforisme yang bijakyang memang didukung oleh teknik naratif dari seorang penulis yang berpengalaman. Hal ini membawa pembaca kepada segi dimana dalam mengemukakan suatu posisi maka penulisnya lebih sering menggunakan teknik persuasi secara estetik daripada mengajak pembaca untuk beragumentasi secara diskursif.

Dengan begitu GM berisiko untuk menulis dengan ajeg,periodik,aktual dan demi melayani kepentingan suatu penerbitan,yang harus sampai ke tangan pembaca pada waktunya. Hal ini dinyatakan dalam sebuah kutipan pendahuluan catatan pinggir edisi kedua oleh Ignas Kleden.[9]

Hal lainnya,agar dapat mengenal Goenawan Mohamad dari karyanya ‘Catatan Pinggir’, telah diungkapkan di sebuah acara yang bertema “Menulis Opini Bersama Goenawan Mohamad” di Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa 30 Maret 2010.  Disana Goenawan bercerita mengenai pengalamannya dalam proses pembentukan karya catatan pinggir itu bahwasannya GM  ketika itu sedang berada di Berlin dengan cuaca disana musim dingin. Orang-orang jarang ada yang keluar. Mereka lebih memilih berdiam di hotel atau di rumah yang nyaman. Perasaanya selalu menghadapi dilema. Hotel tempatnya menginap di Jerman itu tidak dilengkapi fasilitas internet. Padahal  ‘Catatan Pinggir’  harus segera disetor untuk diterbitkan.dengan rasa gundahnya seorang sastrawan dan penyair yang tidak biasa menunda sedikit waktupun untuk tidak menulis.sehingga tidak membuatnya untuk  patah semangat. Bahkan apabila seharipun dia tidak menulis rasa dilemanya akan selalu mengahantui hati,jiwa,dan pikirannya yang sudah menjadi makanan pokok bagi kehidupannya lalu dikatakannya “Jika nekat ingin mengirim Caping (Catatan Pinggir) lewat email, saya harus menempuh jarak 3 km dan melawan dingin, Akhirnya saya tulis Caping dengan SMS”.

Begitu besar perjuangannya dalam menuangkan ilmu-ilmunya dalam hasil karya ciptanya. Selain itu juga GM memberikan sebuah alasan menulis caping itu awalnya hanya sekedar menulis untuk mengisi halaman kosong majalah Tempo. Namun ternyata tulisan itu mendapat respon yang bagus dari pembaca. Lalu esai itu diberi nama Caping.dilanjut lagi dengan menerangkan arti dari sebuah buku Catatan Pinggir itu merupakan terjemahan dari kata marginalia, yaitu catatan , coretan, dan komentar yang dibuat oleh pembaca di margin buku dan  mengaku bukunya selalu jorok, bahwa tulisannya itu begitu penuh coretan dan komentar. Lalu alesan lainnya, mengapa memilih model tulisan esai itu karena ingin mengajak orang berpikir. Dengan mengikuti jejak dari tulisan esai yang diperkenalkan oleh Michel de Montagne pada abad ke-15, berpendapat sebenarnya yang kita ketahui tidak banyak bahkan tidak ada. Sehingga ia mempergunakan esai sebagai percobaan untuk mengajak orang berpikir untuk mendapatkan kejernihan dari kekalutan masalah.Dalam mengakhiri pelatihan penulisan opini itu dengan memberikan sejumlah trik. Bahwa penulis harus tahu siapa pembaca yang ditujunya. Penulis juga harus paham apa yang ditulisnya. Jangan mengkhotbahi pembaca dan percaya akan ada orang yang tertarik dengan tulisan kita. [10]

Dengan demikian hal-hal unik dari seorang Goenawan Mohamad dalam menciptakan karyanya,serta gagasan-gagasan yang luar biasa serta kesehariannya yang selalu dilema akan buah karyanya tanpa mengenal lelah selalu berusaha mebuahkan hasil karya dari pemikiran imajinatif untuk menambah wawasan intelektual, yang dijadikan sebuah tambahan koleksi buku bacaan di Indonesia agar  sejarah masa lalu tak terlupakan untuk genarasi masa depan yang ditulis langsung dari hasil,cipta,karsa dan kreativitas dari sosok sastrawan ternama Indonesia

Daftar Pustaka

Mohamad,Goenawan.Catatan Pinggir 1,Jakarta: PT. Temprint Pusat Data dan Analisa Tempo,2012.

Mohamad,Goenawan.Catatan Pinggir 2,Jakarta: PT. Temprint Pusat Data dan Analisa Tempo,2012.

Ensiklopedia Sastra Indonesia – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian    Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, “Artikel Pengarang Goenawan Mohamad”, dalam http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Goenawan_Mohamad . Diakses Kamis, 4 Juli 2019, pukul 21:38

PT Viva Media Baru, “ Profil Goenawan Soesatyo Mohamad”, dalam https://www.viva.co.id/siapa/read/71-goenawan-mohamad. Diakses pada Kamis, 4 juli 2019,pukul 21:46

Koalisi seni Indonesia,“Goenawan Mohamad”,http://koalisiseni.or.id/tentang-ksi/jawa/goenawan-mohamad/. Diakses Kamis,4 Juli 2019,pukul 22:04.

Irwansyah, Ade (Contributing Writer for Gramedia.com),” Mengenal Goenawan Mohamad Lewat 6 Karya Seninya”, dalam https://www.gramedia.com/blog/profil-buku-goenawan-mohamad-catatan-pinggir-tempo-dan-karya-seninya/#gref. Diakses pada kamis,4 Juli 2019,pukul 22.18.

Sarasvati Art,” Sketsa yang Berpuisi Seorang Goenawan Mohamad”,dalam  https://sarasvati.co.id/exhibition/11/sketsa-yang-berpuisi-seorang-goenawan-mohamad/ Diakses Kamis,4 Juli 2019, pukul 22.59 WIB.

Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Pemprov DKI Jakarta,”GOENAWAN MOHAMAD”,dalam https://jakarta.go.id/artikel/konten/1267/goenawan-mohamad. Diakses Kamis,4 Juli 2019, pukul 22.59 WIB.

Andi Awaluddin,” Jurnal Skripsi Metafora Pada Tiga Puisi Pilihan Goenawan Mohamad (kajian Stilistika)”,dalam http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/5217/1/103056-ANDI%20AWALUDDIN-FITK.PDF. Diunduh kamis,4 Juli 2019.pukul 23:10 WIB.

DetikNews ,“Rahasia Goenawan Mohamad Menulis Catatan Pinggir”,dalam https://news.detik.com/berita/d-1329825/rahasia-goenawan-mohamad-menulis-catatan-pinggir-. Diakses Kamis,4 Juli 2019,pukul 10:09


[1] Ensiklopedia Sastra Indonesia – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, “Artikel Pengarang Goenawan Mohamad”, http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Goenawan_Mohamad . Diakses Kamis, 4 Juli 2019, pukul 21:38 WIB.

[2]    PT Viva Media Baru, “ Profil Goenawan Soesatyo Mohamad”, https://www.viva.co.id/siapa/read/71-goenawan-mohamad. Diakses pada kamis, 4 juli 2019,pukul 21:46 WIB.

[3]  Koalisi seni Indonesia,“Goenawan Mohamad”,http://koalisiseni.or.id/tentang-ksi/jawa/goenawan-mohamad/. Diakses Kamis,4 Juli 2019,pukul 22:04 WIB.

[4] Ade Irwansyah (Contributing Writer for Gramedia.com),” Mengenal Goenawan Mohamad Lewat 6 Karya Seninya”, https://www.gramedia.com/blog/profil-buku-goenawan-mohamad-catatan-pinggir-tempo-dan-karya-seninya/#gref. Diakses pada kamis,4 Juli 2019,pukul 22.18 WIB

[5]  Sarasvati Art,” Sketsa yang Berpuisi Seorang Goenawan Mohamad”  https://sarasvati.co.id/exhibition/11/sketsa-yang-berpuisi-seorang-goenawan-mohamad/ Diakses Kamis,4 Juli 2019, pukul 22.59 WIB.

[6]  Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Pemprov DKI Jakarta,”GOENAWAN MOHAMAD”.https://jakarta.go.id/artikel/konten/1267/goenawan-mohamad. Diakses Kamis,4 Juli 2019, pukul 22.59 WIB.

[7] Goenawan Mohamad,”Catatan Pinggir 1”,(Jakarta: PT. Temprint Pusat Data dan Analisa Tempo,2012), h. xv.

[8]  Andi Awaluddin,” Metafora Pada Tiga Puisi Pilihan Goenawan Mohamad (kajian Stilistika)”. http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/5217/1/103056-ANDI%20AWALUDDIN-FITK.PDF Diunduh kamis,4 Juli 2019.pukul 23:10 WIB.

[9]  Goenawan Mohamad,”Catatan Pinggir 2”,(Jakarta: PT. Temprint Pusat Data dan Analisa Tempo,2012), h. xiii.

[10] DetikNews ,“Rahasia Goenawan Mohamad Menulis Catatan Pinggir” ,https://news.detik.com/berita/d-1329825/rahasia-goenawan-mohamad-menulis-catatan-pinggir-. Diakses Kamis,4 Juli 2019,pukul 10:09 WIB.

Kebahagiaan Orang Berpuasa Dengan Membaca Al-Quran.

Ramadhan adalah bulan yang agung, dilipatgandakan di bulan tersebut (pahala) dan amalan-amalan (kebaikan). Maka wajib bagi kita bagi setiap mukminin untuk bersungguh-sungguh didalam menunaikan ibadah yang Allah wajibkan dan menjauh dari segala sesuatu yang Allah larang. Salah satunya melakukan kewajiban di bulan ini adalah bahwa Allah Swt. Telah menurunkan Al-Quran pada saat malam Lailatul Qadar. Mengapa demikian ? sesuai dalam surahnya Al-Maidah ayat 3 Allah berfirman  yang artinya “pada hari ini telah aku sempurnakan agama islam untuk kalian, telah aku cukupkan nikmatku untuk kalian, dan telah aku ridhai islam sebagai agama kalian,” sehingga Rasulullah mengajarkan pada kita pada bulan Ramadahan untuk lebih memperbanyak bacaan Al-Quran dari bulan lainnya.

Anjuran itu sudah seharusya dibiasakan dari jauh-jauh hari , karena tidak mudah pada bulan suci Ramadhan untuk bisa konsisten ataupun Istiqomah dalam amalan-amalan kebaikan seperti membaca Al-Quran,shalat qiyamullail, Tahajud, Tobat,Taraweh,witir, maupun bertasbih kepada–Nya.  Dengan begitu ada sebuah kutipan dari seorang Ustadz Nuzul Dzikri yaitu  “ persiapan sebelum datangnya bulan Ramadhan itu bagaikan kita menghadapi perlombaan lari marathon” contohnya altlet pelari marathon Indonesia yakni Muhammad Zohri, yang merupakan seorang pelari muda 100 meter Indonesia, yang berhasil meraih mendali emas dan menjadi juara dunia pada Kejuaaran Dunia Atletik Junior 2018 yang berlangsung di Tampere, Finalandia. Dengan catatan waktu 10,18 detik dan telah mengalahkan dua pelari Amerika Serikat. Dimana Muhammad Zohri dari rekan daerah sekitarnya saat diwawancarai menyatakan bahwa zohri sering berlatih di sebuah pantai dengan mengelilinginya sampai beberapa putaran. Ini menunjukkan kesungguh-sungguhannya untuk menjadi sang juara. Bagaimana kita untuk menyambut kedatangan bulan suci ramadhan ? ini sama halnya dengan zohri yang membutuhkan persiapan dari jauh-jauh hari.

Allah telah menetapkan  dua bulan yang dimana untuk kita berlatih sebelum datangnya ramadhan . apa saja dua bulan itu ? ya, pertama bulan rajab dan kedua syaban. Rajab itu bulan yang dianjurkan untuk  melakukan amalan ketaatan dan menjauhi amalan keburukan yang dimana termasuk bulan haram yang dimaksud bulan tersebut apabila mengerjakan amalan keburukan seperti maksiat,zina maupun perbuatan yang dilarang oleh Allah, maka berlipatlah amalan keburukannya dan hilangnya amalan kebaikan. Jadi amalan-amalan kebaikan apapun itu seperti tahajud yang sangat dianjurkan,puasa,maupun mengerjakan shalat sunnah lainnya dengan memohon keridhaan dan ampunannya. Dan amalan kebaikan yang dilakukan pada bulan rajab ini walaupun dianjurkan tapi bukan untuk dijadikan sebagai bentuk amalan-amalan yang dikhususkan pada bulan rajab ini. Waalahu a’lam bisshowab. Kedua adalah bulan syaban, bulan yang dianjurkan untuk banyak berpuasa. Sebagaimana rasulullah mengajarkan yang tertulis dalam sebuah hadist riwayat Al-Bukhari dan Muslim yang artinya “belum pernah Nabi Shallahu alaihi wassalam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan syaban,terkadang hampir beliau berpuasa syaban sebulan penuh.” Maka dari itu sesungguhnya persiapan dalam menyambut ramadhan sudah seharusnya dapat dengan mudah dilakukan tanpa ada yang terbebani maupun terpaksa saat ramadhan. Tapi  seharusnya setelah bekal yang sudah dipersiapan dari jauh hari sebelum kedatangan bulan suci ramadhan kita hanya melanjutkan konsiten dalam mengerjakan amalan yang sudah seiring waktu telah dilakukan dijauh-jauh hari dan memudahkan untuk mendapat ganjaran yang Allah berikan pada malam lailatul qadar dari apa yang sudah di istiqomahkan dari sebelumnya. Dimana saat puncaknya pada malam sepuluh terakhir bulan suci ramadhan , para salafusshaleh terdahulu tidak ingin ditinggal oleh bulan ramadhan sehingga pada malam itu mereka lebih Fastabikul Khairot ( berlomba-lomba dalam meraih kebaikan). Disaat itu pula  seperti Muhammad Zohri  berlomba pada lari marathon yang disandingkan seperti kita mengejar rahmat ampunan dan pahala dari Allah mulai dari awal bulan ramadhan ( garis Start )  hingga puncak malam lailatul qadar menjelang hari kemenangan yakni Idul fitri (garis finish).

Lalu bagaimana kaitannya dengan Al- Quran ?  kaitannya kita dianjurkan untuk banyak membaca Al-Quran dan semangat mentadaburrinya hingga mengulangi khatam Al-Quran setiap saat.  Mengapa demikian ? karena “siapa yang membaca satu huruf dari Al-Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidakmengatakan “alif lam mim “ satu huruf akan tetapi, alif satu huruf, laam satu huruf dan mim satu huruf.”(HR. Tirmidzi). Dengan begitu ramadhan merupakan momen terbaik untuk berubah,Hijrah, untuk menjadi orang yang lebih baik dengan lebih serius lagi menjalankan agama ini. Sebagaimana sabda rasulullah Saw. Yang artinya “tiadalah dunia disbanding akhirat melainkan hanyalah seperti air yang menempel dijari ketika salah seseorang dari kalian mencelupkannya di laut.” ( HR. Muslim).

Sehingga dunia hanya sebuah permainan dan senda gurau dan kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan hanya pada bulan ramadhan dengan berlimpahnya segala kebaikan yang Allah berikan dengan hanya membaca Al-Quran. Serta amalan-amalan lain untuk berserah diri memohon ampunannya. Apakah hal itu harus di sia-siakan? Tentu tidak. Dunia ini hanya sebagai tempat ujian dengan penuh kesabaran dalam menjalankan lika-liku kehidupan yang sementara sebelum memperoleh Jannahnya (surga) . karena para malaikat Allah menyambut kita saat kita dapat melewati semua ujian kehidupan di dunia dengan “Selamat atas kesabaran anda di dunia” hingga memperoleh surganya.  Kesempatan inilah yang Allah berikan kepada kita sebagai seorang muslim untuk berlomba dalam menggapai surganya dengan banyak cara amalan kebaiakan yang dapat dikerjakan dengan memperoleh pahala yang janjikan dibulan ini untuk menambah timbangan amal kebaikan kita di akhirat kelak. Dan surga yang dijanjikan Allah pada saat bulan ramadhan adalah Ar-Rayyan.

Selain dari Surga Ar- Rayyan, ada beberapa keutamaan yang tak kalah penting  yaitu mengkhatamkan Al-Quran dibulan suci ramadhan diantaranya pertama Malaikat Jibril mengajari Nabi  Muhammad Al-Quran setahun sekali dibulan Ramadhan kedua pada tahun wafatnya Rasulullah, jibril mengajari 2x agar kokoh, ketiga disunnahkan agar membaca khatam Al-Quran dan juga mempelajari tafsirnya selama bulan ramadhan , keempat disunnahkan juga membacanya khatam Al-Quran  selama shalat taraweh di bulan ramadhan. Lalu ada seorang Ulama Besar Syekh Abdul Karim Al Khudhair (Dewan Fatwa di Saudi Arabia)  berkata “ketika dihinggapi rasa malas untuk membaca Al- Quran,” maka ingatlah hal berikut : pertama satu lembar mushaf,pahalanya 5000 kebaikan, kedua satu juz, pahalanya 100.000 kebaikan, ketiga  sekali kahatam semua, pahalanya sama dengan 3.000.000 kebaikan.  Hal ini agar kita termotivasi selalu untuk selalu membaca Al-Quran setiap saat untuk terhindar dari hal yang membuat malas dalam membacanya. keutamaan ini , dalam mengkhatam al-quran sangat dianjurkan pada bulan ramadhan dari pada menghafal Al-Quran. 

Kemudian Ada beberapa cara untuk mempermudah bisa berkali-kali menghatamkan Al-Quran saat ramadhan yakni : Untuk  satu kali khatam bisa  dilakukan dengan sebelum dan sesudah  melakasanakan 5 waktu shalat yaitu subuh,dzuhur,asar,maghrib,dan isya dengan membaca 4 halaman dilakukan secara rutin, adapun caranya sama hanya berbeda halaman yang ditargetkan. lalu untuk dua kali mengkhatam al-quran itu dengan membaca 8 halaman lalu untuk tiga kali khatam al-quran dengan membaca 12 halaman.

Dengan demikian hal-hal penting yang harus dibiasakan dari jauh-jauh hari untuk memfokuskan diri saat ramdahan agar keberkahan dibulan ini untuk tidak disia-siakan, maka teruslah detikd-detik sebelum berakhirnya bulan suci ramadhan dan telah berlalunya 10 hari pertama ramadhan untuk terus berserah diri pada Allah dengan mengintrospeksi (muhasabah) atas dosa dan khilaf yang pernah dilakukan selama di dunia untuk memohon ampunannya dengan bertaubat dan tidak terluput semuanya dari keadaan yang belum mendapatkan apa-apa selama bulan suci ini, dengan cara bermalas-malasan untuk selalu memohon pertolongan-Nya agar diberikan kemudahan dalam menjalankan bulan suci ramadhan dengan sebaik-baiknya. Agar saat seketika  kita diwafatkan saat masa perhitungan di akhirat ( yaumul hisab) tidak begitu menegangkan. Waallahu a’alam bisshowab.

BUBARKAN ( Buka Bersama Kawan )

Region Banten Survival generation.

One step one soul. Acara buka bersama ini bukan sekedar makan-makan. Bahkan kami pun tidak ada acara makan. Hanya makan ta’jil yang berupa lontong,gorengan,dan minuman es buah. Region banten atau konsul banten adalah cabang provinsi santriwan dan santriwati Pondok Modern Darussalam . Yang dimana setiap orang mempunyai kepemilikan pada suatu kelompok daerah masing-masing.  Tapi perkumpulan ini bukan perkumpulan biasa, perkumpulan untuk saling mengenal dengan ikatan silaturrahmi yang kuat, biarpun tak saling mengenal kalau kami satu kandung ibu yang sama, tak ada perbedaan diantara kita. Survival adalah generasi angkatan kami tahun lulusan 2017 , dan acara bukber ini dipersembahkan oleh angkatan kami. Jumlah kami sebenarnya sangat banyak, tapi sebagian kami sedang menjalani kesibukan yang membuat ketidakhadirannya. tak hanya itu sebagian kami juga sedang melanjutkan studi   diluar negri yang tidak menjamin untuk datang dalam acara bukber ini. Yah biarpun begitu kami tetap satu jua. Acara tetap berjalan biarpun sedikit. Karena dengan menyambung silaturrahmi akan mempermudah rezeki kita.
Adanya perkumpulan ini biasa membahas pokok-pokok kelanjutan untuk masa depan konsul ini. Agar selalu maju dan tidak ditelan bumi. Konsul banten ini tidak hanya berada di daerah serang saja, tapi bisa mencangkup keseluruhan seperti tangerang selatan dan sekitarnya.
Ya bagaimanapun juga kesibukan apapun tak akan menghalangi untuk saling bertemu dan berkumpul bersama. Acara-acara akan selalu terbentuk dalam waktu dekat maupun jauh hari. Acara bukber juga akan selalu lekat dalam perfotoan, waktu yang terus berjalan, membuat perfotoan itu tak ada habisnya hingga menunjukkan pukul 21.00 yang begitu sungguh tak terasa, makanpun tak bisa dilahap pada acara saat itu, biarpun begitu kami sangat menikmati suasana kebersamaannya yang mengingatkan pada masa lalu. Nasi kotak yang sudah terbungkus rapih menjadi bekal perjalanan menuju rumah masing-masing, sebagian orang meninggalkan rezeki yang sudah menjadi jatahnya karena waktu yang tak ingin berhenti takut tertinggal gerbong kereta. Sesegera mungkin kami pulang dengan membungkus nasi kotak yang sudah tersedia penuh pengorbanan panitia. Sebagian lainnya ada yang menginap dan pulang pada esok harinya. Diantara kami yang pulang menuju stasiun hanya berjumlah delapan orang. Tibanya distasiun, kami berlari memesan tiket, lalu pergi menuju peron yang dituju dan nyatanya kami salah masuk peron, terlewatlah kereta yang tunggu itu, hingga pada akhirnya tinggal satu kereta yang terakhir yang melaju pukul 22.30. Kami berdelapan, satu orang sudah melaju ke arah maja, tinggal kami bertujuh terdampar dalam stasiun yang sunyi,sepi. Menunggu kereta terakhir sebagai penumpang terakhir. Walau begitu kami sampai dirumah alhamdulillah dengan selamat.  Thanks for region banten for experience ^^

Puisi ku untuk Dirinya

Doakan aku pergi untuk mengejar mimpi.

Aku bukanlah wanita yang seperti kau pikirkan.

Aku pun kadang lupa diri. Ketika kau katakan sholat ,aku lalai tahajud.

saat itu aku pun sedang lemah seperti mu.

Aku hanya seorang insan biasa, yang tak luput pula dari dosa.

Inilah daya ekspetasiku terkadang lepas dari realitaku.

Yang membuat ku malu pada diri sendiri.

Dapatkah kau mengerti ..?

Hati ini risau tanpa kau sadari.

Aku ini hanya insan yg ingin berbagi kebaikan kepadamu.

Karena…

Kini kaulah yg sabar dalam menerima kenyataanku,

Tetapi kau tanggapi walaupun diriku salah.

tanpa memikirkan keburukanku yang lain.

Entah rasa apa yang kurasakan.

Ketika kata kata ini terangkai dalam bait puisi.

Yang juga tak aku pikirkan apakah arti dari sebuah tulisan ini.

Yang tertuang dalam isi kata hati

Yang tak menentu kini.

Seperti Rindu yg tak henti.

Kini membuatku untuk sadar diri.

sejatinya sang khaliq lah pemilik hati.

Berusaha untuk memperbaiki diri.

Tanpa harus mengharapkan sesuatu yg lain.

Karena harapan yg tidak sesuai

Akan menjadi tidak pasti .

dan akhirnya patah hati.

Tapi aku kini percaya diri.

Karena menyemangati orang dan membuatnya bahagia.

Menjadikan diri ini ikut serta bahagia

Bukanlah ekspetasi belaka.

Karena itulah fitrah manusia.

Untuk saling melengkapi.

Walaupun diri ini sedang tak berdaya dalam hening sepi.

Itu hanyalah dalam khayalanku sendiri.

Kerena itu semua palsu

Tuhan telah menghadirkan orang orang baik sekitar kita.

Bukan hanya untuk berbahagia.

Tapi untuk menunjukkan kasih sayangnya.

dimana kita dapat mengetahui isi hati setiap manusia.

Hingga menemukan sosok yang setia hingga kini.

Dialah orang yg dipilihkan oleh sang khaliq.

Agar kau dapat membedakan insan mana yg tetap di hatimu.

Dan itulah kisahku ,entah dirimukah itu…?

Ataupun tidak begitu.

Biarlah waktu yg akan menjawab.

Dari semua keganjalan ini.

Ku hanya bisa berdiam dan berdoa.

Walaupun nantinya

jika bukan kau itu,

tak membuatku mengapa.

Semoga kehadiran mu dalam hidupku.

Menjadikan ku orang yang berjaga diri.

Karena tidak semua insan berjiwa baik.

Maka teruslah berdoa agar dipertemukan yang baik.

Dengan terus meminta hidayah

Tanpa mengenal lelah.

Karena Hidayah itu dicari,bukan hanya berdiam diri.

Sejatinya manusia selalu diberi hidayah, tanpa disadari .

tinggal kita yg menentukan

ambil atau hiraukan.

Saatnya ku pergi,

Kepergian ini bukanlah sesuatu yg hilang tak peduli.

Tapi kepercayaan dan keyakinanlah

Kunci dalam setiap pergerakan hati

Bahwa suatu hari nanti

Kita dapat menemukan sosok yang pasti .

Hingga tiba pelengkap kepribadian ini

Kemudian menjadikan semuanya diridhoi.

Serta Menuju surga sang ilahi dan

Kekal di akhirat nanti.

By : Dinda Nurayu Kemalasari